Showing posts with label 2018 at 02:41AM. Show all posts
Showing posts with label 2018 at 02:41AM. Show all posts

Saturday, December 29, 2018

BNPB: Ukuran Gunung Anak Krakatau Menyusut

Berkurangnya ukuran Gunung Anak Krakatau akibat erupsi yang terjadi terus-menerus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kementerian ESDM mecatat adanya penuyusutan ukuran Gunung Anak Krakatau. Berkurangnya ukuran Gunung Anak Krakatau akibat erupsi yang terjadi terus-menerus. 

Berdasarkan pengamatan visual dan pengukuran, tinggi gunung anak krakatau yang semula 338 meter saat ini hanya 110 meter. Volume gunung anak krakatau juga terpantau menurun. 

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, volume yang hilang diperkirakan 150-180 juta meter kubik. Sementara, volume yang tersisa saat ini berkisar 40 hingga 70 juta meter kubik. 

"Berkurangnya volume tubuh gunung anak krakarau ini diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunung api disertai oleh laju erupsi yang tinggi dari 24 hingga 27 Desember," kata Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Sabtu (29/12).

Sutopo mengatakan, pengamatan aktivitas vulkanis gunung anak krakatau masih terus dipantau secara intensif oleh PVMBG. Dia melanjutkan, status gunung hingga saat ini terpantau tetap berada di level Siaga (Level III). 

Kendati, dia tetap mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati gunung dalam radius lima kilometer dari kawah. Ini, lanjut Sutopo, mengingat adanya bahaya lontaran batu pijar, aliran lava, awan panas dan hujan abu pekat.

Dalam kesempatan itu, dia sekaligus membantah beredarnya informasi yang menyebut Gunung Anak Krakatau meningkat menjadi Awas atau berada di Level IV. Bahkan, dia melanjutkan, tidak ada rencana dari otoritas terkait untuk menaikkan status gunung api ke Awas dengan kondisi saat ini. 

"Jadi status Gunung Anak Krakatau tetap di level Siaga (Level III)," tegasnya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2Akoc9g
December 30, 2018 at 02:41AM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2Akoc9g
via IFTTT
Share:

Saturday, December 22, 2018

BNPB: Tiga Meninggal Akibat Dampak Gelombang Tinggi

Gelombang tinggi akibat pasang air laut terjadi pada Sabtu (22/12) malam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, mencatat sebanyak tiga orang meninggal akibat terjangan gelombang tinggi di Kabupaten Pandeglang dan Lampung Selatan. Selain itu, sebanyak 21 orang dilaporkan terluka di daerah tersebut.

"Data sementara dampak gelombang pasang yang didapat BPBD pada 23 Desember pukul 00.30 WIB, terdapat tiga orang meninggal dunia dan 21 orang luka-luka di Kabupaten Pandeglang dan Lampung Selatan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya, Ahad (23/12).

Dia menjelaskan, penanganan darurat dampak gelombang tinggi yang menerjang pantai Anyer di Kabupaten Pandeglang dan Lampung Selatan terus dilakukan. Kejadian gelombang tinggi yang menerjang permukiman dan hotel di pantai berlangsung secara tiba-tiba. Karena itu, peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan. Gelombang pasang berlangsung pada Sabtu (22/12) pukul 21.30 WIB.

BNPB mengatakan, berdasarkan data tercatat tiga orang meninggal dunia, 11 orang luka-luka dan dirawat di rumah sakit, lebih dari 30 unit rumah rusak berat. Sedangkan di Kabupaten Pandenglang sebanyak 10 orang luka-luka.

"Pendataan masih dilakukan. Kondisi malam dan gelap menyebabkan belum semua dampak kerusakan diselesaikan," ujar Sutopo.

Dia mengatakan, BPBD bersama TNI, Polri,  Basarnas, SKPD, relawan dan masyarakat melakukan penanganan awal. Saat ini, bantuan disalurkan kepada masyarakat.

"Kondisi pasang laut yang menerjang pantai sebagian sudah surut. Genangan dan material sampah masih banyak di permukiman," kata Sutopo.

Sutopo menerangkan, fenomena gelombang pasang bukan disebabkan oleh gempa bumi yang memicu tsunami atau pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau. Namun, peristiwa itu disebabkan oleh dinamika laut dan pengaruh bulan purnama.

"Masyarakat dihimbau tetap tenang. Tidak ada tsunami," ujar dia.

Dia menegaskan, penyebab tsunami adalah disebabkan gempa, umumnya gempa lebih besar dari 7 SR. Selain itu, terjadinya tsunami biasanya disebabkan pusat gempa di laut dengan kedalaman kurang dari 20 km dan di zona subduksi, longsor bawah laut, erupsi gunung api dan jatuhnya meteor di laut.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2BDtdcK
December 23, 2018 at 02:41AM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2BDtdcK
via IFTTT
Share: