Showing posts with label 2019 at 09:59PM. Show all posts
Showing posts with label 2019 at 09:59PM. Show all posts

Saturday, May 18, 2019

Jalan Menuju Putaran Pintu Tol Cikarang Rusak Berat

Jalan menuju putaran Pintu Tol Cikarang yang biasa dilewati truk dan bus rusak berat

BEKASI -- Kondisi jalan menuju putaran arah Pintu Tol Cikarang Barat tepatnya di Kp. Pasir Konci, Desa Pasir Sari, Kecamatan Cikarang Selatan rusak parah. Terdapat banyak lubang dan retakan di sepanjang jalan ini.

Kondisi nampaknya sudah terjadi sejak lama, dan hingga kini dibiarkan rusak begitu saja. Selain sebagai akses menuju pintu tol Cikarang, jalan ini juga banyak di lewati oleh kendaraan bertonase besar seperti truk dan bus. Bahkan di kawasan ini terdapat beberapa pool Bus Antar Kota Antar Provinsi. 

Tak mengherankan apabila kondisi jalan saat ini mengalami kerusakan. Karena setiap hari jalan ini selalu dilalu oleh kendaraan-kendaraan berdonasi besar.

Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2w7XE8I
May 18, 2019 at 09:59PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2w7XE8I
via IFTTT
Share:

Sunday, April 14, 2019

24 WNI di Korut Gunakan Hak Pilih

16 orang masuk dalam DPT, 6 daftar pemilih tambahan, dan 2 daftar pemilih khusus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 24 WNI di Korea Utara berpartisipasi dan menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019. Pemungutan suara diselenggarakan di tempat pemungutan suara luar negeri (TPSLN) 001 di KBRI Pyongyang pada Ahad (14/4).

KBRI Pyongyang dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Ahad, mengatakan Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Pyongyang melaksanakan pemungutan suara di TPSLN 001 KBRI Pyongyang sejak pukul 08.00 hingga 18.00 (waktu setempat). Dari 24 WNI yang menyoblos di TPS 001 KBRI Pyongyang, sebanyak 16 orang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT).

Sementara itu, enam orang masuk daftar pemilih tambahan (DPTb), dan dua WNI dalam daftar pemilih khusus (DPK). Ini termasuk seorang turis asal Indonesia yang sedang berkunjung.

"Dengan jumlah tersebut, tingkat partisipasi WNI di Korea Utara pada Pemilu 2019 mencapai 100 persen, bahkan lebih karena ada satu orang tambahan. Proses pemungutan suara berlangsung dengan aman, tertib dan lancar," ujar Ketua PPLN Pyongyang Cecep Junaria.

"Walau pemungutan suara telah selesai, namun penghitungan suara di Pyongyang baru akan dilaksanakan pada Rabu, 17 April 2019," kata dia.

Sebelumnya secara terpisah, Duta Besar RI untuk Korea Utara Berlian Napitupulu telah mengimbau dan mengingatkan agar seluruh warga Indonesia di Pyongyang, Korea Utara, untuk berpartisipasi aktif dalam Pemilu serentak tahun ini dengan sebaik-baiknya. "Proses demokrasi Indonesia saat ini memasuki tahap yang sangat penting yaitu consolidated democracy. Ibaratnya sebuah pesawat, maka pesawat Republik Indonesia saat ini sedang lepas landas," kata Dubes Berlian Napitupulu.

Untuk itu, dia mendorong semua WNI untuk berpartisipasi dalam menyukseskan penyelenggaraan Pemilu 2019 dan menggunakan hak pilihnya dengan penuh tanggung jawab. "Jangan sampai golput. Jangan sampai no vote. Jangan sampai tidak casting ballot," tutur Dubes Berlian.

Dia menegaskan pemilu adalah kesempatan sangat penting untuk menentukan pemimpin bangsa dan negara di masa depan, setidak-tidaknya lima tahun ke depan. "Makanya jangan sampai tidak menggunakan haknya alias golput. Dan tolong agar semua pihak melaksanakan tugasnya masing-masing dengan baik dan secara bertanggungjawab," ujarnya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2UWqXJp
April 14, 2019 at 09:59PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2UWqXJp
via IFTTT
Share:

Thursday, April 11, 2019

Younes tak akan Tinggalkan Napoli Sebelum Raih Scudetto

Younes juga menilai gaya bermain Napoli lebih baik dari Juventus

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA. Amin Younes menegaskan, dirinya tidak akan meninggalkan Napoli sebelum bisa mempersembahkan Scudetto untuk klub tersebut. Younes juga menilai gaya bermain Partenopei lebih baik dan enak ditonton dibanding Juventus.

"Napoli adalah klub yang sempurna bagi saya. Saya merasa betah di kota ini. Saya tidak ingin pergi sebelum memenangkan scudetto (trofi juara Serie A Italia)," katanya seperti dikutip dari Football Italia, Kamis (11/4).

Napoli saat ini berada di posisi kedua klasemen sementara Serie A Italia. Partenopei terpaut 20 poin dari pemuncak klasemen Juventus. "Juventus lebih baik dari kami musim ini," ucapnya.

"(Gaya) Sepak bola mereka sebenarnya tidak bagus untuk ditonton, tetapi mereka bermain efektif. Mereka memiliki pemain seperti Cristiano Ronaldo, Mandzukic dan Chiellini yang punya pengalaman dan kekuatan mental yang sangat besar,: katanya.

Younes yang bermain di posisi sayap, mengalami masa-masa sulit ketika awal bergabung dengan Napoli. Pemain asal Jerman itu berjuang untuk keluar dari cedera.

"Kondisi fisik saya telah jauh lebih baik dibandingkan beberapa bulan pertama saya di sini. Saya baik-baik saja sekarang," katanya.

Younes mengakui ia kesulitan dengan gaya permainan sepak bola Italia saat awal bergabung. Namun, menurutnya Napoli punya gaya bermain yang sama dengan Ajax, tim yang sebelumnya ia bela, dan dirinya yakin bisa membuktikan diri bersama Napoli.

"Pada awalnya sulit, tidak mudah untuk pindah ke negara lain dan berbicara bahasa yang berbeda. Saya mengalami cedera, tapi sekarang saya baik-baik saja," ujarnya.

"Gaya permainan Napoli tidak jauh berbeda dengan Ajax, dengan banyak penguasaan bola dan level permainan yang sangat tinggi," ucapnya menambahkan.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2Ktazwa
April 11, 2019 at 09:59PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2Ktazwa
via IFTTT
Share:

Saturday, March 16, 2019

PPP Berhentikan Romahurmuziy

Ada tiga hal yang melatarbelakangi keputusan memberhentikan Romahurmuziy.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sepakat memberhentikan M Romahurmuziy sebagai Ketua Umum. Keputusan tersebut diambil dalam rapat pengurus harian Dewan Pimpinan Pusat PPP pasca Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Romi sebagai tersangka kasus suap beli jabatan di Kementrian Agama, Sabtu (16/3).

Dalam rapat pengurus harian PPP, Wakil Ketua Umum PPP, Amir Uskara mengungkapkan ada tiga hal yang menjadi keputusan." Pertama pemberhentian terhadap Ir. H romahurmuziy, berdasarkan anggaran dasar rumah tangga karna beliau terkena kasus, memberhentikan sebahai ketua umum," kata Amir di Jakarta, Sabtu (16/3).

Kedua, sambung Amir, pengurus harian juga menyepakati mengangkat Suharso Monoarfa sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Hmum yang akan dikukuhkan dalam Musyawarah Kerja Nasional nanti. Ketiga, juga disepakati akan dilaksanakan Rapat Kerja Nasional berdasarkan hasil keputusan rapat terakhir.

Hadir dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum PPP Reni Marlinawati Waketum mengungkapkan  pengangkatan Suharso setelah adanya pertimbangan dan kesepakatan dari para petinggi Majelis Partai. Ia menyebutkan diantaranya Ketua Majelis Syariah PPP  Maimun Zubair atau Mbah Moen, Ketua Majelis Pertimbangan Partau dan Ketua Mahkamah Partai.

"Pemberhentian tersebut dilakukan dengan berbagai pertimbangan, yang pertama tentu mengacu kepada peraturan yang diatur di dalam pasal 11 anggaran rumah tangga ayat 1 huruf d yaitu menjadi tersangka tindak pidana korupsi oleh KPK dan tindak pidana narkoba oleh Kepolisian Republik Indonesia dan garis miring atau Kejaksaan republik Indonesia maka keputusan rapat untuk memberhentikan Bapak Insinyur Haji Muhammad romahurmuziy telah diputuskan," terangnya.

Kemudian, sambung dia, pertimbangan lainnya dari para Majelis terutama Majelis Mahkamah Partai, prinsip keberlangsungan organisasi partai harus tetap dipertahankan dan tidak boleh terjadi kekosongan dalam kepemimpinan.

"Bahwa untuk mengisi lowongan jabatan harus mengacu kepada ketentuan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga PPP," tegasnya.

"Bahwa dalam ketentuan anggaran rumah tangga yang telah diatur di mana para Wakil Ketua Umum harus menggantikan wakil ketua umum, tetapi karena terdapat atas pertimbangan Mahkamah Partai dan fatwa dari Majelis Syariah, maka seluruh wakil ketua umum menyetujui atas pertimbangan para majelis tersebut dan disampaikan oleh Majelis Syariah," tambah dia.

Sehingga, berdasarkan ketentuan tersebut  Majelis Syariah mengusulkan dan meminta kepada  Suharso Monoarfa untuk menjadi Plt Ketua Umum dalam rangka menyelamatkan partai. Ihwal keputusan mengenai Mukernas akan dilaksanakan dalam waktu yang tidak lama lagi.

"Dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya nanti nunggu informasi akan segera diberitahukan," tutupnya.

Diketahui, KPK telah menetapkan tiga tersangka, yaitu diduga sebagai penerima anggota DPR periode 2014-2019 Romahurmuziy. Sedangkan diduga sebagai pemberi, yaitu Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi  dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur Haris Hasanuddin.

Muhammad Muafaq Wirahadi dan Haris Hasanuddin diduga telah menyuap Romi untuk mengurus proses lolos seleksi jabatan di Kemenag. Diketahui, Muhammad Muafaq mendaftar untuk posisi Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik. Sedangkan Haris, mendaftar sebagai Kakanwil Kemenag Provinsi Jatim.

Atas perbuatannya, dua tersangka pemberi suap disangka melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 UU Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1 juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP. Sementara Romi, tersangka penerima suap disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2W3u3Z6
March 16, 2019 at 09:59PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2W3u3Z6
via IFTTT
Share:

Sunday, February 17, 2019

Kapolda: Ledakan Diduga Berasal dari Petasan

Tidak ada korban baik manusia maupun materi dalam peristiwa tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy mengungkapkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) sementara terkait ledakan yang terjadi di depan venua aquatik kompleks Gelora Bung Karno (GBK) pada Ahad (17/2) malam. Eddy mengatakan berdasarkan hasil olahTKP sementara, ledakan diduga akibat petasan. "Hasil sementara yang kita temui sementara ya berupa ledakan petasan," kata Eddy di Kompleks GBK.

Eddy menjelaskan bahwa ledakan terjadi pukul 20.15 WIB. Polda Metro Jaya langsung mengamankan TKP dan melakukan olah TKP dengan uji bom. Saat ini polisi masih melakukan lidik untuk mencari tahu siapa pelakunya.

Eddy menegaskan tidak ada korban baik manusia maupun materi dalam peristiwa tersebut. Saat ini garis polisi juga telah dibuka oleh kepolisian.

"Tentu ada tahapan-tahapan yang akan kita lakukan yang pertama kita melihat dari CCTV, siapa yg menaruh disana ini masih kosong. Sementara ini dari hasil olah TKP ini adalah petasan," tuturnya. 

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2tpUPys
February 17, 2019 at 09:59PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2tpUPys
via IFTTT
Share:

Mimpi Milo Kembali ke Arema FC

Ini akan menjadi laga pertama Arema FC bertemu dengan tim dari kasta yang sama.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Arema FC bertandang ke kandang Persib Bandung dalam laga babak 16 besar Piala Indonesia. Keduanya akan bertemu di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Senin (18/2).

Ini akan menjadi laga pertama Arema FC bertemu dengan tim dari kasta yang sama. Terakhir, Arema berhasil mengalahkan Persita Tangerang dalam babak 32 besar Piala Indonesia.

Pelatih Arema Milomir Seslija menargetkan kemenangan untuk laga ini. Tidak hanya itu, ia menyatakan ada alasan tertentu mengapa ia kembali ke Arema. Diawali dengan menaklukan skuat Maung Bandung.

"Saya harap ketika datang ke Arema akan membawa perubahan yang lebih baik di masa depan," kata Milo di Graha Persib, Jalan Sulanjana, Kota Bandung, Ahad (17/2).

Milo optimistis, perubahan tidak hanya dari segi tim saja. Tapi dari segi pendukung setia Arema FC, Aremania. "Kami harus memanfaatkan kesempatan ini untuk mencapai kesuksesan," jelasnya.

Selain itu, bibit-bibit unggul dari pemain muda Arema FC diakui Milo dapat dimanfaatkannya. Namun, dibutuhkan sosok senior yang dapat membimbing para pemainnya.

Milo menyebut beberapa nama pemain senior yang ada di Arema. Di antaranya adalah Arthur Cunha, Hamka Hamzah, dan Makan Konate. "Sosok-sosok inilah yang bisa memimpin para pemain muda dan membawa mereka ke puncak," jelasnya.

Milo percaya bahwa Arema dapat kembali meraih kejayaannya. Namun butuh waktu dan kerja keras untuk menggapai semuanya. "Saya punya keyakinan bisa ada di puncak. Saya tahu itu tidak akan mudah tapi kami berharap untuk itu," tegasnya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2GMXE4I
February 17, 2019 at 09:59PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2GMXE4I
via IFTTT
Share:

Wednesday, January 16, 2019

Benarkah Novel Baswedan Hendak Dibunuh?

Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi kemarin, menyampaikan laporan kasus Novel.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Umar Mukhtar

Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi pada Selasa (15/1), menyampaikan laporan pemantauan terkait kasus kekerasan terhadap Novel Baswedan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Koalisi ini terdiri dari YLBHI, LBH Jakarta, Kontras, Lokataru Foundation, ICW, LBH Pers, PSH KAMAR, PUSaKO FH Universitas Andalas, dan Pukat UGM.

Ada beberapa temuan dari laporan tersebut. Salah satunya, serangan terhadap Novel patut dicurigai adalah pembunuhan berencana. Indikatornya bisa dilihat dari motif serangan, modus serangan, dampak serangan, dan pelaku serangan.

Laporan itu menyebutkan, motif serangan yakni bertujuan untuk memperingatkan dan juga membungkam Novel secara langsung serta menghambat kerja-kerja KPK terutama yang melibatkan Novel. Selain itu, serangan tersebut juga sebagai balasan atas tugasnya menjalankan kewajiban sebagai penyidik KPK.

Untuk modus serangan, koalisi tersebut melaporkan bahwa, serangan terhadap Novel dilakukan berulang-ulang kali sejak 2011, 2012, 2015, 2016, dan 2017. Serangan ini umumnya terjadi pada saat Novel sedang menangani kasus atau setelah menangani kasus. Penyiraman air keras pada 11 April 2017, terjadi saat Novel sedang menangani kasus korupsi KTP-elektronik.

Laporan koalisi juga menyatakan, serangan dengan air keras terhadap Novel dilakukan secara terencana dan sistematis. Dimulai dari penentuan waktu di mana saat itu Novel sedang berjalan sendiri usai shalat Subuh, penentuan lokasi yang tidak terjangkau mata publik secara langsung, pelibatan banyak pihak seperti orang bayaran dan aparat hukum, hingga tahapan serangan. Tahapan ini ialah pemetaan aktivitas sehari-hari, pemantauan situasi di sekitar rumah, sampai mengaburkan bukti.

Sementara, untuk dampak serangannya, yaitu penyiraman air keras tersebut menyebabkan gangguan kesehatan serius. Novel juga tidak dapat melakukan pekerjaannya sebagai penyidik KPK dalam memberantas korupsi lantaran harus menjalani pengobatan selama 1 tahun lebih.

Dalam laporan itu koalisi juga menemukan, ada banyak aktor yang terlibat dalam serangan terhadap Novel. Mereka terorkestrasi secara rapi, sehingga semua terhubung meski tidak selalu saling mengenal.

Berdasarkan temuannya, koalisi tersebut merekomendasikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengevaluasi kinerja kepolisian dalam menangani kasus Novel dan mengambil alih kasus tersebut dari Polri dengan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF). Koalisi itu juga memberikan rekomendasi kepada Polri untuk memberikan laporan perkembangan kasus Novel secara rinci atas serangan terhadap penyidik, penyelidik, staf KPK, yang telah dilaporkan ke polisi, kepada Presiden Jokowi.

Namun, seperti diketahui, bukan TGPF yang dibentuk oleh Mabes Polri. Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyetujui pembentukan tim gabungan untuk mengusut kasus Novel Baswedan. Pembentukan tim gabungan itu ditandai dengan surat yang ditandatangi Kapolri Jenderal Tito Karnavian dengan nomor Sgas/3/I/HUK.6.6/2019 tertanggal 8 Januari 2019.

Surat perintah itu menindaklanjuti rekomendasi tim Komnas HAM. Tim tersebut terdiri dari 65 anggota yang terdiri dari Polri, KPK, berbagai ahli dan tokoh masyarakat.

Dalam surat tersebut, dijelaskan bahwa, Tito Karnavian berlaku sebagai penanggung jawab dengan wakil penanggung Jawab Wakapolri Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto. Sementara, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Idham Azis berlaku sebagai Ketua tim, dengan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Nico Afinta sebagai ketua.

Adapun, sejumlah ahli yang dilibatkan dalam tim tersebut di antaranya peneliti LIPI Hermawan Sulistyo, Ketua Umum Ikatan Sarjana Hukum Indonesia Amzulian Rivai, Ketua Setara Institut Hendardi, Komisioner Kompolnas Poengky Indarti, Komisioner Komnas HAM periode 2012 - 2017 Nur Kholis. Dari KPK, terdapat lima penyidik yang dilibatkan.

Baca Juga

Respons Novel

Novel Baswedan menyatakan, pembentukan tim gabungan oleh Polri tidak sesuai dengan yang diminta selama ini. Menurutnya, pembentukan tim gabungan itu tak ada bedanya dengan yang pernah ada sebelumnya.

"Pembentukan tim gabungan ini tidak sesuai yang kami minta. Kalau penyidiknya saja diberi surat tugas baru, rasanya permasalahannya bukan di situ," ujar Novel di gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Selasa (15/1).

Novel mengingatkan, ia dan koalisi masyarakat sipil meminta dibentuknya tim gabungan pencari fakta (TGPF). Sebab, ada bukti dan fakta bahwa proses penyidikan yang dilakukan tidak sungguh-sungguh mengungkap pelakunya. Karena itu, yang diminta dibentuk adalah tim gabungan pencari fakta, bukan tim penyelidik dan penyidik.

"Ini yang kami pertanyakan, bedanya apa dengan yang sebelumnya. Okelah ini baru dibentuk. Kita akan menilai apakah tim ini bekerja dengan benar atau tidak, indikatornya adalah bisa enggak ini diungkap dengan benar," ujar dia.

Novel mengkhawatirkan munculnya kesan seolah-olah beban pembuktian diberikan kepada dirinya karena ada kesengajaan untuk tidak mengungkap kasusnya. Dia mempertanyakan, sejak kapan penyidikan investigasi perkara kejahatan dibebankan kepada korban.

"Sejak kapan ada suatu teror yang diduga ada aktor intelektual di baliknya kemudian dimulai dari motif dulu. Di dunia rasanya tidak ada. Saya penyidik dan saya paham soal itu," katanya.

Novel juga meminta agar pembentukan tim gabungan tersebut tidak sekadar memenuhi rekomendasi Komnas HAM. Jika itu yang terjadi, tentu itu hal yang sangat buruk dan menunjukkan pemerintah tidak peka. Novel berharap Presiden Jokowi memperhatikan ini dan jangan dibiarkan.

"Di beberapa kesempatan ada aparatur, pejabat pemerintah yang ber-statement seolah-olah serangan kepada pegawai KPK adalah kasus biasa. Ini menyedihkan. Bahkan pejabat kita tidak paham bahwa orang yang berjuang memberantas korupsi adalah pejuang HAM," tuturnya.

Meski begitu, Novel mengaku akan bersedia bila nantinya ia dimintai keterangan oleh Tim Gabungan Polri. Namun ia meminta syarat, yaitu tim tersebut berkomitmen untuk mengungkap semua serangan yang dialami pegawai KPK.

Menurut Novel, ada dua kemungkinan jika ia memberi keterangan. Pertama akan ditangani sungguh-sungguh. Kedua, hanya akan digunakan untuk menghapus jejak lebih sempurna. Karena itu, sangat wajar apabila ia meminta ada pengungkapan yang serius terhadap serangan-serangan yang terjadi pada pegawai KPK lainnya.

"Saya pernah menyampaikan beberapa bukti penyerangan yang terjadi pada saya, apakah karena kesengajaan atau kelalaian, hilang. Beberapa CCTV yang seharusnya dapat, tidak ada. Beberapa alat bukti sidik jari, tidak ada. Handphone terduga pelaku tidak diambil, tidak diamankan, dan tidak dilakukan pemeriksaan, dan bukti-bukti lain yang ada di Komnas HAM," jelasnya.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo meminta agar publik bersabar dan menunggu kinerja tim gabungan penanganan kasus Novel Baswedan untuk membuktikan profesionalitasnya. Belakangan, tim gabungan menuai kritik lantaran pembentukannya dinilai memiliki unsur politis.

"Tolong berikan kesempatan pada tim gabungan yang dibentuk Bapak Kapolri, untuk bekerja secara profesional," kata Dedi di Jakarta, Selasa (15/1).

Dedi mengatakan, penanganan setiap kasus tidak sama dan memiliki kerumitannya sendiri. Tim gabungan yang dibentuk atas rekomendasi Komnas HAM ini akan bekerja secara komprehensif termasuk menerima saran dari sejumlah pihak dan menganalisis temuan-temuan dalam kasus yang menimpa penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

"Semuanya fokus dan komitmen dalam mengungkap kasus ini," tegasnya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2MeMyWH
January 16, 2019 at 09:59PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2MeMyWH
via IFTTT
Share: