Showing posts with label 2019 at 11:41PM. Show all posts
Showing posts with label 2019 at 11:41PM. Show all posts

Saturday, February 23, 2019

Puluhan Ribu Orang Hadiri Haul Gus Dur

Yenni Wahid mengaku telah bermimpi sebelum acara dan melihat Gus Dur tersenyum.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Puluhan ribu orang dari berbagai daerah hadir mengikuti acara Haul ke-9 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Stadion Sriwedari Solo, Jawa Tengah, Sabtu (23/2) malam. Masyarakat yang mengikuti Haul Gus Dur tidak hanya memadati di dalam lapangan Stadion Sriwedari saja. Mereka juga memadati jalan-jalan sekeliling stadion untuk mendoakan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid.

Selain puluhan ribu masyarakat yang mengikuti Haul Gus Dur, juga hadir para tokoh dan kiai. Antara lain ulama nasional asal Rembang KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Pimpinan Ponpes Al Muayyat Solo KH Abdul Rosaq Shofawi, Mahfud MD, Staf Ahli Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi Kemenag RI, Oman Fathurahman, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin, Kapolda Irjen Condro Kirono, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi, wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo.

Bahkan, Haul Gus Dur di Solo, juga dihadiri ibunda Presiden Jokowi, Sudjiatmi Noto Mihardjo, dan Putri Presiden RI ke-4 Gus Dur, Yenny Wahid. Menurut Ketua Panitia, Hussein Syifa, acara Haul Gus Dur di Stadion Sriwedari merupakan puncak dari serangkai acara yang digelar sebelumnya. Di antaranya bedah buku Gus Dur, kirab budaya, dialog kebangsaan, dan pengajian.

Menurut Hussein Syifa masyarakat yang hadir dalam acara Haul Gus Dur sangat luar biasa. Di dalam stadion penuh padat sekitar 30 ribuan orang. Belum lagi yang di luar kawasan stadion, sehingga diperkirakan puluhan ribu masyarakat yang hadir.

"Mereka hadir dari Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Sragen dan Kota Solo dengan ikhlas datang ke Solo karena kecintaannya dengan Gus Dur," kata Hussein Syifa.  

Putri Gus Dur, Yenny Wahid, yang hadir dalam acara Haul sangat terharu melihat masyarakat dengan ikhlas hadir di Kota Solo. Yenny Wahid mengatakan pihaknya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada warga yang ikhlas hadir acara Haul ke-9 Dus Dur. Dia mengatakan, banyak haul digelar di daerah-daerah, tetapi di Solo, Yenny merasakan terharu karena digelar sangat luar biasa.

"Saya sebelum acara ini, digelar telah bermimpi melihat Gus Dur tersenyum. Beliau kemungkinan sudah tahu atas keikhlasan masyarakat yang ikut hadir acara Haul ini," kata Yenny.

Menurut Yenny pesan Gus Dus hanya satu kepada anak-anaknya. Beliau mengatakan "hidup itu adalah cinta dan ibadah". "Jadi melalui acara haul ini, semua kita meneruskan untuk menebarkan antara sesama kita, kepada seluruh warga bangsa," kata Yenny.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2E6rQVj
February 23, 2019 at 11:41PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2E6rQVj
via IFTTT
Share:

Sunday, January 20, 2019

Kemenkes Jamin Ketersediaan ARV

Per Januari 2019, terpantai tidak ada kekosongan ARV di daerah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Engko Sosialine Magdalene mengatakan pemerintah menjamin ketersediaan obat antiretroviral (ARV) bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). “Pemerintah tetap berupaya untuk menjaga ketersediaan ARV sehingga keberlangsungan penggunaan ARV itu tidak terputus,” katanya di gedung Kemenkes, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Pemerintah, dia menambahkan, menjamin ketersediaan obat ARV. Bahkan ketersediaan itu telah diperhitungkan hingga pertumbuhan pasien perbulannya sekitar satu hingga tiga persen.

Engko mengatakan, Kemenkes mempunyai sistem untuk memantau ketersediaan ARV di seluruh provinsi. Berdasarkan hasil monitoring itu, per Januari 2019 tidak ada kekosongan ARV di daerah.

Penjaminan ketersediaan ARV muncul karena adanya kekhawatiran dari ODHA terkait ketersediaan obat tersebut. Kekhawatiran itu diduga adanya kekurangan obat ARV jenis Fixed Dose Combination.

“Ini (kekhawatiran) mungkin bermula dari ada salah satu obat. Jadi obat ARV ada beberapa, kurang lebih dari 10 item ada yang jenis lepasan artinya perkhasiatnya, ada yang kombinasi yang kita sebut fixed dose combination,” katanya.

Engko menekankan Kemenkes sudah melakukan upaya-upaya menjaga ketersediaan ARV. Pada Desember 2018, Kemenkes sudah mendapatkan donasi hibah dari Global Fund sebanyak 222 ribu botol ARV jenis fixed dose combination yang setiap botolnya berisi 30 tablet. “222 ribu botol ini sudah cukup memenuhi kebutuhan lima sampai enam bulan ke depan,” katanya.

Kemudian untuk selanjutnya Kemenkes sudah menyiapkan stok ARV sebanyak 564 ribu botol hingga akhir 2019. Jadi, dia melanjutkan, pemerintah setiap tahun menyediakan dan mengalokasikan anggaran untuk membeli atau menyediakan ARV.

Pada prinsipnya, dia menyebut Kemenkes tetap menjaga ketersediaan obat ARV, sehingga ODHA tidak akan putus obat. “Para penderita jangan panik, jangan khawatir karena ketersediaan obat ARV tetap dijaga oleh pemerintah,” katanya.

Berdasarkan data Kemenkes, jumlah penderita HIV/AIDS per Oktober 2018 sebanyak 305 ribu pasien. Sebanyak 107 ribu di antaranya sedang minum obat. 

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2FEuo0e
January 20, 2019 at 11:41PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2FEuo0e
via IFTTT
Share:

Tuesday, January 1, 2019

Di manakah Tepatnya Negeri Abessinia itu?

Dalam sabdanya, Rasulullah SAW menyebut Abessinia sebagai negeri kerukunan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Makkah, bulan Rajab tahun ketujuh sebelum Hijriah (615 M). Kala itu, di tengah pekatnya malam, sejumlah sahabat Rasulullah SAW diam-diam meninggalkan Makkah bersama harta benda yang mereka miliki. Para sahabat itu terdiri atas 11 pria dan lima wanita, di antaranya Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayah, Abdur Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Utsman bin Maz'un selaku ketua rombongan.

Dari Makkah, mereka menuju tepian Laut Merah, tepatnya Pelabuhan Shuaibah. Di sana, dua perahu telah siap membawa mereka ke sebuah negeri untuk menghindari kebiadaban kaum kafir Quraisy. Adalah Abessinia, sebuah kerajaan di benua Afrika, yang menjadi tujuan mereka. Mengapa mereka pergi ke sana? Para sahabat itu hijrah ke Abessinia atas saran Rasulullah SAW.  Inilah hijrah pertama yang dilakukan kaum Muslimin sebelum peristiwa hijrah ke Madinah.

Saat itu, tekanan dan permusuhan dari kaum kafir Quraisy semakin keras. Sebagian pengikut Rasulullah disiksa, bahkan dibunuh. Maka itu, untuk melindungi mereka, Rasulullah menyarankan agar mereka hijrah ke Abessinia. Negeri ini dipilih karena penguasa Abessinia saat itu, Raja Najasyi, sangat bijaksana meski beragama Nasrani. Orang Arab menyebut Raja Najasyi sebagai Ashama Ibnu Abjar. "Sesungguhnya di

Negeri Habasyah (Abessinia) terdapat seorang raja yang tak seorang pun dizalimi di sisinya, pergilah ke negerinya, hingga Allah membukakan jalan keluar bagi kalian dan penyelesaian atas peristiwa yang menimpa kalian," ujar Nabi SAW.

Kisah hijrah para sahabat Nabi SAW ke Abessinia diungkapkan dalam Shahih Al-Bukhari, mengutip penjelasan dari Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW yang juga ikut dalam peristiwa hijrah ke Abessinia.

Lantas, di manakah tepatnya negeri Abessinia itu? Abessinia adalah nama kuno dari Ethiopia, sebuah negara di Afrika Timur. Nama itu (Abessinia) merupakan perubahan dari nama Arab, Habasyah, yang menunjuk pada campuran berbagai ras yang berasal dari Arab Selatan.

Bangsa Abessinia merupakan keturunan bangsa Semit, sementara bahasa mereka, Amhariyah, serumpun dengan bahasa Arab. Seperti rajanya, saat itu pun sebagian besar rakyat Abessinia memeluk agama Kristen (Nasrani).

Dr Sayuqi Abu Khalil dalam Atlas Hadits al-Nabawi mengatakan, wilayah al-Habasyah, saat ini dikenal dengan nama Ethiopia atau Eritrea. "Masyarakatnya dikenal sebagai al-Habasy, yakni bangsa Sudan atau bangsa berkulit hitam," ujar Dr Syauqi.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW menyebut Abessinia sebagai negeri kerukunan umat beragama. Betapa tidak, warga Abbessinia dengan penuh keramahan menerima dan memberikan perlindungan kepada kaum yang berbeda agama dengan mereka. Inilah yang menjadi alasan sehingga bangsa Arab pada masa perluasan tidak melancarkan ekspansi ke wilayah itu.

Pada hijrah pertama ke Abessinia ini, para sahabat Rasulullah disambut dengan penuh keramahan dan persahabatan. Raja Najasyi lalu menempatkan mereka di Negash yang terletak di sebelah utara Provinsi Tigray. Setelah tiga bulan di sana, mereka kembali ke Makkah, dengan harapan kaum kafir Quraisy telah melunak. Namun nyatanya, perlakuan kaum Quraisy tetap keras. 

Maka itu, Rasulullah kembali memerintahkan umat Muslim untuk hijrah ke Abessinia. Jumlah sahabat yang hijrah pada gelombang kedua itu terdiri atas 80 orang. Rasulullah pun berpesan kepada mereka untuk menghormati dan menjaga Abessinia atau Ethiopia.

Namun, kafir Quraisy tak tinggal diam. Mereka mengutus Amr bin As serta Imarah bin Walid menghadap Raja Najasy. Keduanya meminta sang raja untuk mengusir para pengikut Rasulullah SAW dari tanah Abessinia. Raja Najasyi menolak permintaan itu dan mengizinkan para sahabat tinggal di negeri itu hingga Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.

Berada di negeri seberang dimanfaatkan pula oleh para sahabat untuk mengenalkan ajaran Islam. Pada salah satu kesempatan berdialog dengan Raja Najasyi, kaum Muslim yang diwakili Ja'far bin Abi Talib menjelaskan ajaran-ajaran dasar Islam, seperti menyembah Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya, berlaku jujur, melaksanakan shalat, zakat, serta puasa.

Saat itu, ia juga membacakan surah Maryam ayat 1-33 tentang kisah Maryam dan anaknya, Isa, yang juga terdapat dalam Injil. Mendengar penjelasan itu, Raja Najasyi terharu. Ia pun menyimpulkan bahwa dasar ajaran Musa, Isa, dan Muhammad adalah sama.

Setelah beberapa lama menetap di Abessinia, sebagian besar sahabat Rasulullah kembali ke tanah Arab, tepatnya Madinah, ketika Nabi SAW sudah hijrah ke sana. Namun, beberapa lainnya memutuskan untuk menetap di Abessinia. Mereka lalu menyebarkan agama Islam di wilayah timur benua hitam itu.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2LPc6K5
January 01, 2019 at 11:41PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2LPc6K5
via IFTTT
Share: