Showing posts with label 2019 at 11:23PM. Show all posts
Showing posts with label 2019 at 11:23PM. Show all posts

Saturday, April 6, 2019

Islam Bersemi di Bulgaria

kontak pertama umat Islam dengan Bulgaria terjadi pada pertengahan abad ke-9 M.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kini, jumlah umat Islam di Bulgaria hanya 25 persen dari total populasi. Padahal, pada saat Kekhalifahan Turki Usmani menguasai wilayah itu selama lima abad, jumlah umat Islam di Bulgaria sempat mencapai 60 persen dari total populasi. Sejak 1880, ketika Kristen Eropa Barat menguasai negeri itu, jumlah umat Islam pun menyusut.

Lalu, sejak kapan Islam bersemi di Bulgaria?

Sebuah dokumen menyebutkan bahwa kontak pertama umat Islam dengan Bulgaria terjadi pada pertengahan abad ke-9 M.  Ketika itu, seorang utusan dari negeri Islam datang ke Bulgaria.

Menurut HT Norris dalam Islam in the Balkans: religion and society between Europe and the Arab world,  hal itu dibuktikan dengan adanya surat dari Paus Nicholas kepada Boris Bulgaria yang isinya bahwa Saracen (umat Islam) harus dimusnahkan.

Di era kekuasaan Tsar Simeon, menurut Norris, pengaruh Islam mulai muncul dalam bidang seni di Bulgaria. Pada abad ke-11 dan 12 M, orang-orang Turki mulai masuk ke Bulgaria. Menurut para sejarawan, sebagian dari orang Turki yang datang ke wilayah itu adalah umat Islam.

Migrasi umat Islam ke Bulgaria mulai terjadi ketika Dinasti Seljuk berkuasa. Wilayah Bulgaria jatuh ke tangan umat Islam pada 1385, ketika Kekhalifahan Turki Usmani menduduki Kota Sofia.  Sejak itulah, selama lima abad, Bulgaria berada dalam kekuasaan Islam.  Kekuasaan Islam di Bulgaria berakhir ketika pasukan tentara Turki Usmani kalah dalam sebuah pertempuran.

Kondisi umat Islam pun makin tersudut. Jumlah pemeluk Islam terus menyusut. Terlebih, di era kekuasaan rezim Zhikov yang menganut aliran Marxis dan Lenin, yakni Komunis, kebebasan beragama tercerabut di Bulgaria. Pada 1989, sebanyak 310 ribu umat Muslim dari etnis Turki meninggalkan Bulgaria, karena rezim Komunis memaksa mereka berganti nama dan mengharuskan mereka meninggalkan praktik dan tradisi keislaman.

Setelah rezim Komunis terjatuh, umat Islam di Bulgaria mulai merasakan kembali kebebasan beragama. Di kampung-kampung, pengajian Alquran kembali dibuka. Bahkan, kaum Muslim pun memiliki surat kabar sendiri, bernama  Musulmani. Kini, Islam menjadi agama minoritas terbesar kedua di Bulgaria.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2VuPe6s
April 06, 2019 at 11:23PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2VuPe6s
via IFTTT
Share:

Monday, February 25, 2019

Undang-Undang Pengatur Juru Sembelih Halal Harus Disegerakan

penyembelihan hewan halal selama ini masih dilakukan lembaga mandiri tanpa legalitas,

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Belum ada undang-undang yang mengatur soal cara menyembelih hewan secara halal. Artinya, penyembelihan hewan halal dan untuk dikonsumsi oleh masyarakat Muslim, masih dilakukan oleh lembaga-lembaga mandiri tanpa payung hukum resmi pemerintahan.

Pakar Halal Universitas Gajah Mada (UGM), Nanung Danar Dono, mengaku sangat mendukung pemberlakuan Undang-Undang Jaminan Produk Halal (JPH). Di dalam aturan tersebut, nantinya juga mencakup aturan juru sembelih halal (Juleha) yang dipaparkan dalam beberapa butir khusus.

Nanung sangat mendukung segera dibentuknya payung hukum resmi untuk Juleha. “Sebaiknya ya ada undang-undang resminya. Kalau MUI itu kan bukan lembaga pemerintah, bisa disebut LSM, dan LSM tidak di bawah siapa-siapa,” ujar dia saat dihubungi Republika.co.id, Senin (25/2).

Menurut dia, selama ini lembaga-lembaga yang melakukan pelatihan terhadap Juleha, barulah lembaga-lembaga yang berjalan sendiri-sendiri. Walaupun sesungguhnya, selain di DKI Jakarta, seluruh provinsi Indonesia sudah ada lembaga tersendiri untuk melatih Juleha.

Dimana setelah menjalankan pelatihan, mereka akan mendapatkan sertifikat sehingga semua hewan yang mereka sembelih dipastikan langsung mendapat sertifikat halal juga. Dalam pelatihan tersebut, memang yang diaudit adalah kemampuan Juleha.

Nanung mengatakan, minimal ketika diaudit, Juleha punya pengetahuan dan keahlian menyembelih secara syari. Mereka harus paham bahwa menyembelih harus memutuskan tiga saluran, dan tidak boleh diapa-apakan sampai hewan telah mati. Karena, jika belum mati tetapi sudah dipotong kakinya atau dikuliti, itu akan terasa sakit bagi hewan, dan itu akan menyiksa sehingga hewan akan mati karena tersiksa itu.

Nah sekarang mulai diadakan Juleha, dengan itu ada, distandarkan kemampuannya secara nasional begitu. Ini supaya siapapun yang memegang itu (sertifikat Juleha) berhak untuk bekerja di bidang itu, sehingga ada lisensi resmi dari pemerintah,” kata Nanung.

Dengan adanya UU JPH, maka uji kompetensi Juleha ini harus diberlakukan di seluruh wilayah Indonesia. Apalagi jika telah disahkan UU JPH ini, maka tentu akan berada di bawah pemerintah langsung, entah itu mungkin dikelola Kementerian Agama (Kemenag), ataupun dibuat lembaga pemerintahan khusus lainnya.

“Sebenarnya, kenapa MUI membuat LPPOM, karena MUI itu kan kumpulan para ulama, mereka sangat paham masalah agama tetapi merasa bahwa kurang paham dengan lesitin, gelatin, dan seterusnya. Termasuk penyembelihan secara ilmu. Jadi yang mereka tahu menyembelih ya hanya seperti itu, belum memahami indikasi mati seperti apa. Kemudian akhirnya membentuk lembaga baru namanya LPPOM,” papar Nanung.

Juleha sendiri merupakan salah satu implementasi dari MoU antara Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, dengan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Arif Satria, serta kerja sama Halal Science Center (HSC) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, beberapa waktu lalu.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2H2iVaM
February 25, 2019 at 11:23PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2H2iVaM
via IFTTT
Share:

Bonus Demografi Butuh Lapangan Kerja yang Besar

pembangunan ekonomi difokuskan sektor yang menciptakan lapangan kerja besar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia mengalami bonus demografi dimana pertumbuhan penduduk bergerak pesat. Setiap tahun, penduduk Indonesia tumbuh 3 juta-4 juta.

Hal tersebut diungkap Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo memimpin konsolidasi Caleg Partai Perindo di Kabupaten Bogor.

"Ini momentum yang baik bagi saya bertemu caleg, bisa menyamakan perspektif kita, bagaimana kita memaksimalkan kursi di Kabupaten Bogor," kata Hary Tanoesoedibjo, dalam siarna persnya, Senin (25/2).

Dia mengatakan kehadiran Partai Perindo ditujukan untuk menyejahterakan masyarakat melalui kebijakan tepat sasaran.

Tiga fokus utamanya adalah mempersempit kesenjangan, baik kesenjangan kesejahteraan maupun pembangunan daerah, mempercepat pendidikan tinggi dan ketrampilan tertentu agar masyarakat menjadi lebih produktif.

Selain itu, penciptaan lapangan kerja sebanyak-banyaknya, seluas-luasnya dan secepat-cepatnya. Di samping industri 4.0, pembangunan ekonomi difokuskan pada sektor industri yang menciptakan lapangan kerja besar.

Untuk membuat kebijakan tepat sasaran, konsekuensinya adalah harus memenangkan Pemilu. Untuk itu, dia meminta seluruh kader, seluruh pengurus, dan caleg untuk terjun bekerja maksimal.

Target Perindo sendiri secara nasional adalah menjadi tiga besar pemenang Pemilu 2019.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2tGuyMl
February 25, 2019 at 11:23PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2tGuyMl
via IFTTT
Share:

Sunday, February 24, 2019

Juventus Atasi Bologna 1-0

Juventus kini unggul 16 angka dari Napoli di posisi kedua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juventus semakin jauh mengungguli lawan-lawannya dalam perburuan scudetto musim ini. Nyonya Tua makin kokoh di puncak seusai mengatasi perlawanan Bologna 1-0 pada laga pekan ke-25 Serie A di Stadion Renato Dall'Ara, Bologna, Ahad (24/2).

Tambahan tiga angka membuat Nyonya Tua kini mengoleksi nilai 69. Juventus kini unggul 16 angka dari Napoli di posisi kedua. Napoli baru akan bertanding melawan Parma pada Senin (25/2) dini hari WIB.

Gol kemenangan Juventus dicetak oleh Paulo Dybala pada menit ke-67. Gol penyerang Argentina ini membuat Bologna tertahan di posisi 18 atau zona degradasi dengan nilai 18.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2Iyq19d
February 24, 2019 at 11:23PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2Iyq19d
via IFTTT
Share:

Monday, February 11, 2019

Takut Sebagai Sumber Kejuatan

Para Nabi memupuk rasa rakut kepada Allah sebagai salah satu sumber kekuatan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Orang beriman diliputi sayap-sayap takut (khauf), harap (raja'), dan cinta (mahabbah). Masing-masing sayap memperkuat iman dan kepada Sang Pencipta. Takut bukan ciri khas orang yang lemah. Takut justru menjadi sebab seseorang memperoleh kekuatan.

Orang yang takut di hadapan manusia maka akan lemah di hadapan orang lain. Orang yang menggigil takut saat bertemu seseorang maka akan dihinakan di hadapan orang tersebut. Namun, jika ia memosisikan takut pada tempatnya, tak ada lagi sesuatu pun yang membuatnya takut di dunia ini. Semakin ia takut, semakin ia berani.

Tak ada gertakan yang mampu menyiutkan nyalinya selain ancaman azab dari Allah SWT. Tidak ada tantangan yang memundurkan langkahnya selain tantangan dari Allah SWT. Ketakutannya, ia letakkan pada puncak ketakutan. Jika ia sudah mencapai puncak, tak ada lagi sisa-sisa ketakutan di dunia. "Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku." (QS al-Maidah: 44). 

Allah sudah menegaskan tak boleh ada ketakutan jika ia tak disandarkan pada Allah SWT semata. Jika orang dengan segala kekuasaannya menyuruh seseorang berbuat maksiat, ketakutannya yang lebih tinggi kepada Allah akan menahannya. Ia tak akan sudi menuruti manusia sementara harus mengingkari Allah. Pemahaman dan keyakinan yang benar atas rasa takut akan membuat manusia kuat. Meski secara lahir ia tak memiliki kekuatan dibanding manusia lainnya.

Takut sejatinya adalah manifestasi sifat para nabi. Para nabi memupuk rasa takut kepada Allah sebagai salah satu sumber kekuatan. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS al-Anbiya: 90)

Takut juga menjadi alarm seseorang kala hendak berbuat aniaya. Manusia memang cenderung berbuat kerusakan. Namun dengan rasa takut, keinginan untuk melawan perintah Allah SWT tersebut bisa ditahan. Takut membuat seseorang yang hendak berbuat maksiat berpikir ulang. Apakah ia akan meneruskan perbuatan hawa nafsunya ataukah hendak menuruti kata nuraninya?

Takut berbuat maksiat ternyata memiliki fadilah yang amat besar. Di Hari Akhir kelak, saat manusia sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, rasa takut kepada Allah akan datang sebagai penolong. Allah SWT akan memberikan naungan kepada tujuh golongan saat Hari Kiamat kelak. Saat itu tak ada satu pun naungan selain naungan yang diberikan Allah SWT. Salah satu dari tujuh golongan itu adalah seorang pemuda yang diajak berzina seorang wanita kemudian ia menolaknya seraya berkata, "Aku takut kepada Allah SWT."

Lihatlah takut bukan soal cengeng dan kelemahan. Takut menjelma menjadi kekuatan dan keutamaan. Tak disebut orang beriman hingga ia menyatakan ketakutannya hanya kepada Allah SWT. Ia meyakini benar jika Allah SWT penggenggam segalanya. Ia tak lagi takut mati bersebab ia paham ajal sudah digariskan kapan dan tempatnya oleh Allah SWT.

Takut harus dipelihara. Tentu saja takut yang benar. Takut yang membuat seseorang berhati-hati melangkah. Ia takut amalnya tak diterima hingga ia memperbanyak dan melatih ikhlas. Ia takut azab Allah yang amat pedih hingga ia melarutkan diri dalam istighfar. Ia takut tak berkumpul dengan Rasulullah di surga kelak maka ia melantunkan shalawat secara istiqamah. Takut adalah salah satu sayap orang beriman

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2thVQZC
February 11, 2019 at 11:23PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2thVQZC
via IFTTT
Share: