Showing posts with label 2019 at 12:20AM. Show all posts
Showing posts with label 2019 at 12:20AM. Show all posts

Saturday, April 27, 2019

Pochettino Sebut Pemain Tottenham Tampil tak Seperti Biasa

Tottenham takluk 0-1 di Stadion Tottenham Hotspur pada laga pekan ke-36 Liga Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Tottenham Hotspur harus menelan kekalahan perdananya di stadion baru saat menjamu West Ham United, Sabtu (27/4). Tottenham takluk 0-1 di Stadion Tottenham Hotspur pada laga pekan ke-36 Liga Inggris.

Pelatih Tottenham Hotspur Mauricio Pochettino menilai penampilan pasukannya tak seperti biasanya. Anak-anak asuhnya dapat menguasai permainan pada babak pertama. Namun, armada the Lilywhites kehilangan kendali pada paruh kedua.

"Kami tidak bisa mendominasi seperti melawan Brighton. Para pemain tampil dalam kondisi yang berbeda sehingga mempengaruhi permainan," kata Pochettino seperti dikutip dari BBC Sport.

Pochettino juga memperhatikan, strategi yang ia atur berbeda dengan penerapan di lapangan oleh para pemain. Meski demikian, ia tetap melihat Christian Eriksen dkk berusaha membalikkan keadaan saat timnya kebobolan lebih dulu.

"Kami tidak mengatur bola sesuai rencana. Tadi merupakan pertandingan yang sulit walaupun kami mendapatkan beberapa peluang serangan balik pada babak kedua," ujar dia.

Terkait perebutan empat besar Liga Inggris, Pochettino memilih optimistis bahwa pihaknya tetap mendapat satu tiket ke Liga Champions. Walaupun Tottenham tidak beranjak dari posisi ketiga, mereka tetap terancam karena hanya terpaut tiga angka dari Chelsea di bawahnya dan empat poin dari Arsenal di peringkat kelima.

"Kami harus melihat ke depan dan melupakan hasil pertandingan tadi. Ini adalah perjuangan dan perlombaan walaupun hanya tersisa dua pertandingan lagi," tegasnya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2INB4uk
April 28, 2019 at 12:20AM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2INB4uk
via IFTTT
Share:

Tuesday, February 5, 2019

Kebiasaan Sehari-hari yang Merusak Kulit

Kebiasaan sehari-hari yang merusak kulit.

Foto: Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID,

Sumber : Republika.co.id
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

TERPOPULER

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2RDUjGQ
February 06, 2019 at 12:20AM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2RDUjGQ
via IFTTT
Share:

Cermati Kondisi Bangsa, BKMT: Indonesia Krisis Kepemimpinan

BKMT melihat banyak pemimpin yang justru memberi contoh negatif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Syifa Fauzia mencermati bangsa Indonesia kini tengah dilanda krisis kepemimpinan. Ia pun memanggil seluruh pengurus BKMT, mulai dari tingkat pusat hingga daerah, untuk tetap istikamah menjadi kekuatan moral dan berada di garda terdepan dalam pembangunan moral dan akhlak bangsa.

"Banyak pemimpin yang alih-alih menjadi panutan, namun justru memberi contoh negatif yang jauh dari nilai-nilai Islam dan kebaikan," ucap Syifa dalam acara Tasyakur Milad BKMT ke-38 dan Rakernas BKMT ke-3 di Gedung Sasana Kriya TMII, Jakarta Timur, Selasa (5/2).

Syifa gelisah melihat umat banyak dihadapkan dengan tantangan dan persoalan. Ia mendapati masih banyak pelanggaran moral dan penyalahgunaan wewenang.

Selain itu, menurut Syifa, tantangan bagi generasi muda Indonesia juga semakin kompleks. Dia mencontohkan seperti merebaknya praktik prostitusi offline maupun online, maraknya penyalahgunaan obat-obatan terlarang, kelakuan anarkis yang mengkhawatirkan, hingga pengangguran yang masih menjadi persoalan.

Syifa mengatakan, masih tingginya penduduk miskin dan stunting atau kurang gizi kronis bagi bayi dan balita juga menjadi tantangan untuk diselesaikan pengurus BKMT ke depannya. Dia juga menyadari, angka kematian bayi dan ibu melahirkan masih tinggi.

Dalam hasil Survei Dasar Kesehatan Indonesia tahun 2012 disebutkan bahwa dari setiap 1.000 kelahiran di Indonesia, ada 19 bayi yang di antaranya meninggal. Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan angka kematian ibu dan bayi tertinggi di Asia Tenggara.

"Inilah persoalan-persoalan yang mesti kita jawab dan menjadi agenda program BKMT dan kita semua," kata Syifa.

Semua persoalan dan tantangan tersebut akan dibahas oleh pengurus BKMT dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang akan berlangsung mulai Rabu (6/2) hingga Kamis (7/2). Rakernas yang dirangkai dengan tasyakur milad nantinya akan melahirkan beberapa rekomendasi untuk dilakukan BKMT ke depannya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2UJnme8
February 06, 2019 at 12:20AM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2UJnme8
via IFTTT
Share:

Saturday, February 2, 2019

Ini Harta Kekayaan Bupati Kotim yang Jadi Tersangka Korupsi

Supian Hadi menjadi tersangka kasus dugaan korupsi pemberian izin pertambangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Kotawaringin Timur, Supian Hadi sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait pemberian izin usaha pertambangan (IUP). KPK memiliki bukti permulaan yang cukup terhadap politisi PDI Perjuangan itu telah menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dalam pemberian IUP kepada tiga perusahaan, yakni PT Fajar Mentaya Abadi, PT Billy Indonesia, dan PT Aries Iron Mining di Kotawaringin Timur periode 2010-2015.

Diduga atas perbuatan Supian, keuangan negara merugi hingga Rp 5,8 triliun dan  711 ribu dolar AS. Kerugian negara tersebut dihitung berdasarkan eksplorasi hasil pertambangan bauksit, kerusakan lingkungan dan kerugian kehutanan akibat produksi dan kegiatan pertambangan yang dilakukan PT FMA (Fajar Mentaya Abadi), PT BI (Billy Indonesia) dan PT AIM (Aries Iron Mining). Selain itu, Supian sendiri diduga telah menerima sejumlah barang mewah dan uang tunai. Supian setidaknya menerima mobil Toyota Land Cruiser senilai Rp 710 juta dan mobil Hummer H3 senilai Rp 1,35 miliar.  Selain itu, uang sebesar Rp 500 juta juga diduga diterima melalui pihak lain.

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) milik Supian yang diakses Republika pada Sabtu (2/2), tercatat ia memiliki harta kekayaan senilai Rp 1,5 miliar lebih. Dalam LHKPN Supian tercatat total Rp 1.580.262.173. Terakhir ia melaporkan hartanya pada 29 Maret 2018 ketika sudah menjabat sebagai Bupati Kotawaringin Timur.

Adapun, harta Supian meningkat sekitar Rp 673 juta yang juga pernah dilaporkan pada 27 juli 2015 dengan hanya total Rp 907 juta ketika hendak mencalonkan sebagai Bupati Kotim. Dalam LHKPN terbaru pada 2018 tercatat kekayaannya senilai Rp 1,5 miliar lebih. Salah satunya adalah ia memiliki empat bidang tanah dan bangunan di Kotim seharga Rp 1.060.667.693. Keempat bidang tanah dan bangunan itu tertulis berasal dari hasil sendiri.

Supian tidak tercatat memiliki kendaraan maupun surat berharga. Namun, dia tercatat memiliki kas senilai Rp 519.594.480.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2S6KPcm
February 03, 2019 at 12:20AM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2S6KPcm
via IFTTT
Share:

Sunday, January 6, 2019

CIPS: Penerapan HPP Gabah Hambat Serapan Beras Bulog

CIPS meminta Bulog diberikan keleluasaan untuk menyerap beras

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menilai, penerapan Harga Pokok Pembelian (HPP) gabah dan beras perlu ditinjau ulang efektivitasnya. Sebab, HPP justru menghambat kerja Bulog untuk menyerap gabah dan beras dari petani.

Ilman mengatakan, pemerintah perlu mengevaluasi kebijakan HPP yang tercantum dalam Instruksi presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Bulog. Dalam regulasi, diampaikan bahwa Bulog hanya diperbolehkan melakukan pembelian di tingkat petani dan penggiling apabila harganya berada di kisaran Rp 3.700 untuk Gabah Kering Panen (GKP), Rp 4.600 untuk Gabah Kering Giling (GKG) dan Rp 7.300 untuk beras dengan fleksibilitas maksimal 10 persen.

Menurut Ilman, Bulog sebaiknya diberikan keleluasaan untuk menyerap beras dan tidak terpaku pada HPP. Banyak faktor yang memengaruhi serapan beras Bulog selain penerapan HPP. Misalnya musim kemarau yang tentunya juga memengaruhi jumlah beras produksi petani.

Karena jumlahnya lebih sedikit, Ilman menuturkan, maka ada kecenderungan petani untuk menjual gabah dengan harga yang lebih tinggi. "Pada akhirnya, tidak menutup kemungkinan petani memutuskan untuk menjual ke tengkulak dan pada akhirnya akan mengganggu stabilitas harga beras di pasaran," ujarnya dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Ahad (6/1).

Untuk itu, Ilman menyarankan sebaiknya pemerintah tidak usah fokus untuk mematok harga jual beli. Pemerintah justru sebaiknya perlu meninjau ulang untuk mencabut skema HPP yang diatur dalam aturan tersebut dan fokus menjaga stabilitas harga beras melalui operasi pasar menggunakan cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang Bulog.

Ilman mengatakan, ketersediaan beras di gudang-gudang Bulog memberikan pengaruh besar terhadap keputusan pemerintah untuk tidak mengimpor beras di awal 2019. Apabila pemerintah tidak memberikan prioritas terhadap penyerapan dan stok beras di gudang sejak sekarang, dikhawatirkan kebijakan impor akan dilakukan kembali dengan sifat mendadak.

Kesalahan pemerintah dalam menyerap beras terlihat pada 2018, di mana pemerintah menargetkan target serapan sebesar 2,7 juta ton. Target penyerapan ini dibagi menjadi dua term yaitu Januari sampai Juli 2018 sebesar 2,31 juta ton dan sisanya di bulan Agustus hingga September. "Namun hingga akhir 2018, realisasi penyerapan hanya sekitar 1,5 juta ton," ucap Ilman.

Sebelumnya, pemerintah memutuskan untuk tidak mengimpor beras di awal 2019 dikarenakan stok di gudang Bulog dianggap masih mencukupi. Untuk kekurangan beras di pasaran, dapat ditutupi melalui operasi pasar dengan menggunakan CBP yang saat ini sudah melebihi angka 2 juta ton. Sebanyak 1,5 juta ton di antaranya merupakan beras serapan lokal dan sisanya beras impor.

Kepala Divisi Pengadaan Perum Bulog Taufan Akib mencatat, stok CBP di gudang Bulog per akhir 2018 mencapai 2,2 juta ton. Dengan total yang masih banyak, Perum Bulog menetapkan target penyerapan beras 2019 sebanyak 1,8 juta ton. Angka tersebut lebih rendah dibanding target 2018, 2,72 juta ton.

Taufan menjelaskan, stok tahun ini lebih banyak dibanding dengan periode yang sama pada 2018, di mana stok awal hanya berkisar 170 ribu ton. "Tapi, kalau memang banyak pengeluarannya, Bulog akan serap kembali untuk menutup pengeluaran beras tadi," katanya pada acara diskusi di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, pekan lalu.

Saat ini, Bulog masih melakukan penyerapan beras rata-rata sekitar 400 ton per hari dari wilayah Jawa maupun Papua. Saat ini pengadaan beras dalam negeri masih berkisar 1,48 juta ton, namun masih akan terus bertambah hingga akhir tahun mencapai 1,5 juta ton.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2FhwUbV
January 07, 2019 at 12:20AM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2FhwUbV
via IFTTT
Share: