Showing posts with label 2019 at 11:50PM. Show all posts
Showing posts with label 2019 at 11:50PM. Show all posts

Saturday, February 16, 2019

Bungkam Pacific, Satria Muda Pertamina Pastikan Play-Off

Tim asuhan Youbel Sondakh menundukkan Pacific Caesar Surabaya 87-56.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Satria Muda Pertamina merebut tiket ke babak play-off IBL Pertamax 2018-2019. Ini setelah tim asuhan Youbel Sondakh menundukkan Pacific Caesar Surabaya 87-56 pada seri kedelapan di GOR UNY Yogyakarta, Sabtu (16/2).

"Puji Tuhan kami bisa amankan tempat play-off. Seri ini memberi pelajaran bahwa anak anak bisa melakukan penjagaan lebih agresif," kata Youbel.

Walau lolos, Youbel mengakui masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan untuk memperbaiki timnya.  Ia masih yakin pasukannya bisa lebih baik lagi.

Pelatih Pacific Kencana Wukir mengatakan, sebenarnya ingin meraih kemenangan dari Satria Muda. "Tadinya kami ingin fight, tapi gagal. Anak anak sepertinya sudah puas masuk play-off," katanya. Wukir kemudian memasang para pemain muda.

Hal sama juga dilakukan Youbel. "Sekarang kami menatap play-off. Saya ingin membangkitkan pemain lokal kami," kata Youbel.

Dior Lowhorn mencatat double double dengan catatan 26 poin 12 rebound. Jamarr Johnson membuat 16 poin dan Sandy Azis membuat 12 angka.

Di kubu Pacific, Jjuan Hadnot dan Muhammad Hardian Wicaksono masing masing mengemas 12 angka. Ramadhan Yuwana membuat 10 angka.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2NadZl5
February 16, 2019 at 11:50PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2NadZl5
via IFTTT
Share:

Sunday, January 13, 2019

Kematian Satwa Tertabrak Kereta Meningkat di India

Otoritas setempat beralasan biaya pemasangan pagar pembatas terlalu mahal.

REPUBLIKA.CO.ID, GUJARAT --- Meningkatnya kematian satwa liar akibat tertabrak kereta api di India membuat marah para aktivis hewan. Para aktivis khawatir kematian satwa akibat tertabrak kereta api dapat terulang kembali lantaran hingga kini belum ada penanganan serius dari pemerintah setempat.

Pemerintah pun dinilai tutup mata dengan kematian satwa liar akibat tertabrak kereta api yang telah terjadi berkali-kali. Dilansir dari Al Arabiya pada Jumat (11/1), pada pengujung tahun lalu, sebanyak tiga ekor singa mati tertabrak kereta barang yang melintas di hutan Gir, Borala di Gujarat.

Pemerintah setempat memang telah membuat pagar pembatas di kedua sisi rel kereta di wilayah Rajula-Savarkunela atau wilayah di bagian barat Gujarat pasca-enam singa mati tertabrak kereta api pada 2014-2015. Kendati demikian, hingga kini jalur rel di Borala, terutama di hutan Gir, belum dipasangi pagar pembatas. Otoritas setempat beralasan biaya pemasangan pagar pembatas terlalu mahal.

Begitu pun bulan lalu, dua ekor anak harimau di Chichpalli Maharashtra mati tertabrak kereta api. Hal itu memicu protes masyarakat di media sosial lantaran tak adanya penanganan dari pejabat kereta api maupun kehutanan setempat. Kematian satwa liar akibat tertabrak kereta api di negara bagian India itu pun mengalami peningkatan setiap tahunnya.

“Sampai pada kematian gajah di jalur kereta, India memegang rekor dunia. Statistik pemerintah menunjukan bahwa 150 gajah mati ditabrak kereta antara 1987 hingga 2010. Namun hanya delapan tahun dari 2010 sampai 2017 jumlahnya naik 120 ekor,” tulis Al Arabiya.   

Pada 2018, sebanyak 20 ekor gajah mati tertabrak kereta. Warga setempat pun ketakutan melihat tayangan televisi yang menampilkan kematian gajah akibat tertabrak kereta api.

Kendati menuai kemarahan masyarakat, pejabat setempat tak juga mengambil tindakan. Ironisnya lagi, gajah merupakan maskot dari perkeretaapian India.

Aktivis dan pelestarian alam liar, Parbati Barua menilai penyelamatan satwa liar tersebut menjadi penting agar populasinya tak menurun dan bahkan punah. “Kehidupan manusia itu berharga, dan lebih penting untuk menyelamatkan hewan-hewan agung seperti gajah, harimau, dan singa. Karena mereka bisa punah saat populasi manusia terus tumbuh,” katanya.

Sebagai upaya agar satwa liar menjauhi jalur kereta, para ilmuan pun mencoba melakukan eksperimen dengan membuat perangkat elektronik yang bisa mengeluarkan suara lebah yang sedang marah. Sebab, gajah dikenal takut dengan bunyi lebah. Dengan dibunyikannya perangkat tersebut diharapkan dapat membuat gajah menjauh dari jalur kereta.

Selain itu, seorang profesor dari Institut Teknologi New Delhi juga tengah mengembangkan perangkat sensor bagi masinis untuk mendeteksi keberadaan gajah di jalur rel kereta.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2M8DeDY
January 13, 2019 at 11:50PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2M8DeDY
via IFTTT
Share:

Saturday, January 5, 2019

Tiga Pelajar Surabaya Kedapatan Mabuk, Ini Nasihat Risma

Tiga pelajar terjaring operasi yustisi di Jalan Tanjung Anom, Surabaya, Sabtu.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bertemu dengan tiga pelajar yang diamankan petugas Satpol PP karena kedapatan mabuk saat operasi yustisi di Jalan Tanjung Anom, Sabtu dini hari. Risma memberikan nasihat kepada ketiga siswa tersebut.

"Kalian perlu tahu sekali, ketika minum minuman keras itu, satu juta sel sarafmu akan mati. Apabila diterus-teruskan, nanti tidak akan bisa mikir dan akan jadi orang bodoh," kata Risma kepada tiga pelajar itu di Mako Satpol PP Surabaya.

Pada kesempatan itu, Risma juga memanggil orang tua para siswa serta pihak sekolah. Risma meminta kepada tiga pelajar itu untuk meminta maaf kepada orang tuanya masing-masing.

Bahkan, para pelajar itu juga diminta untuk mencium kaki orang tuanya sebagai permintaan maaf. Risma pun meminta ketiga siswa tersebut mengakui perbuatannya serta berjanji untuk tidak mengulangi lagi.

"Nanti minta maaf kepada orang tua kalian masing-masing dengan mencium kakinya. Kalian juga harus berjanji untuk tidak mengulangi lagi, berjanji tidak minum minuman lagi," ujarnya.

Kepala Satpol PP Kota Surabaya Irvan Widyanto menjelaskan tiga pelajar itu terjaring yustisi yang dilakukan oleh tim Asuhan Rembulan Satpol PP Kota Surabaya di Jalan Tanjung Anom, Gubeng, Surabaya. Ketiganya belakangan diketahui menenggak minuman keras di kafe kawasan Banyuurip.

"Setelah ditanya-tanya identitasnya, mereka itu bau minuman keras," kata Irvan.

Mereka pun dibawa ke Mako Satpol PP Kota Surabaya. Satpol PP selanjutnya berkoordinasi dengan pihak Dinas Kesehatan dan Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Surabaya.

"Dinas terkait ini melakukan sejumlah tes dan proses selanjutnya kami serahkan kepada DP5A," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga terus mendalami lokasi minum ketiga pelajar itu. Selanjutnya, Satpol PP berencana akan melakukan penyisiran ke lokasi tempat mereka minum untuk memastikan apakah masih ada pelajar lain yang mabuk-mabukan di situ.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2SKGHL6
January 05, 2019 at 11:50PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2SKGHL6
via IFTTT
Share: