Showing posts with label 2019 at 09:28PM. Show all posts
Showing posts with label 2019 at 09:28PM. Show all posts

Wednesday, April 17, 2019

Menkeu Sebut 93 Persen PNS Sudah Terima Rapel Kenaikan Gaji

Sumatra, Jawa dan lain-lain sudah mencapai 100 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, SELATAN -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penyaluran gaji baru atau kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang dibayar sekaligus kurun Januari-April 2019 sudah mencapai 93 persen secara nasional. Bahkan di beberapa provinsi sudah tuntas 100 persen.

"Sudah dengan hari ini hampir semua daerah sudah. Sekarang sudah mencapai lebih dari 93 persen sampai dengan kemarin (Selasa, 17/4) sore. Beberapa provinsi seperti Maluku, Papua, mencapai 93-94 persen sementara provinsi lain Sumatra, Jawa dan lain-lain sudah mencapai 100 persen," kata Sri Mulyani di Tangerang Selatan, Banten, Rabu (17/4).

Di beberapa provinsi lain yang pencairannya belum selesai, kata Sri Mulyani, karena kendala akses ke lokasi tersebut. "Kecuali dari daerah yang satuan kerjanya cukup berada jauh, yang terpencil," ujarnya.

Sejak awal April 2019, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah memastikan pencairan kenaikan gaji PNS 2019 akan dibayarkan sebelum pertengahan April 2019. Pemerintah menaikkan gaji PNS sebesar lima persen sesuai UU APBN 2019.

Aturan kenaikan gaji PNS tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedelapan Belas Atas Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil. Kenaikan gaji berlaku mulai tanggal 1 Januari 2019.

Dalam lampiran PP itu, gaji terendah PNS (golongan I/a masa kerja 0 tahun) menjadi Rp 1.560.800 dari sebelumnya Rp 1.486.500. Sementara gaji tertinggi PNS (golongan IV/2 masa kerja lebih 30 tahun) menjadi Rp 5.901.200 dari sebelumnya Rp 5.620.300.

Untuk PNS golongan II (II/a masa kerja 0 tahun) gaji terendah menjadi Rp 2.022.200 dari sebelumnya Rp 1.926.000, sedangkan gaji tertinggi (II/d masa kerja 33 tahun) menjadi Rp 3.820.000 dari sebelumnya Rp 3.638.200. Golongan III (III/a masa kerja 0 tahun), gaji terendah menjadi Rp 2.579.400 dari sebelumnya Rp 2.456.700, dan gaji tertinggi (III/d masa kerja 32 tahun) menjadi Rp 4.797.000 dari sebelumnya Rp 4.568.000.

Gaji PNS golongan IV terendah (IV/a masa kerja 0 tahun) menjadi Rp 3.044.300 dari sebelumnya Rp 2.899.500, dan tertinggi (IV/e masa kerja 32 tahun) menjadi Rp 5.901.200 dari sebelumnya Rp 5.620.300. Penyesuian gaji pokok PNS juga berlaku untuk Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sesuai bunyi Pasal 1 ayat (2) Perpres No. 16 Tahun 2019.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2XgLUfG
April 17, 2019 at 09:28PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2XgLUfG
via IFTTT
Share:

Friday, April 12, 2019

Mentan Beri Bantuan Masyarakat Takalar Senilai Rp 15,7 T

ini bantuan terbanyak.

REPUBLIKA.CO.ID, TAKALAR — Tidak hanya memberikan bantuan kepada petani muda dan santri, Mentan dalam kunjungannya ke Kabupaten Takalar turut memberi perhatin kepada masyarakat lanjut usia hingga anak balita.

Bertempat di alun - alun Kota Takalar, Menteri Pertanian memberikan bantuan sejumlah Rp 15,7 triliun kepada masyarakat Takalar termasuk di dalamnya bantuan ayam, kambing, perkebunan dan aneka benih hortikultura. 

"Bantuan kami bawa untuk Takalar sebanyak 160 ribu ekor ayam kampung lengkap dengan vaksin, pakan dan kandang. Selain itu kambing, sapi dan 87 unit traktor, termasuk benih hortikultura," ujar Amran di hadapan 15 ribu peserta berasal dari enam kabupaten.

Amran berkata, ini bantuan terbanyak dan perlu diketahui bahwa produksi jagung Sulsel terus meningkat termasuk eskpor jagung. Kita besarkan jagung, bangun feedmill.

Perintah presiden, lanjut Amran, harga jagung harus minimal Rp 3.150. Dulu impor 3,5 juta ton, hari ini sudah mampu eskpor. Ekspor terus tumbuh dan sekarang bisa langsung ke Jepang, tidak perlu transit ke Lampung  dan Surabaya. 

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Moh Ismail Wahab merasa takjub dengan semangat masyarakat Takalar menyambut Menteri Pertanian.

"Saya sangat gembira dan takjub melihat antusias masyarakat Takalar dan kabupaten sekitarnya dalam menyambut acara Bapak Menteri. Mereka seperti ingin selalu bersama Bapak Menteri yang telah banyak memberikan bukti kerja nyata dan bantuan yang sangat bermanfaat bagi petani," ujar Ismail.

Bupati Takalar Syamsari Kitta, mengucap banyak terima kasih atas perhatian Presiden dan Menteri Pertanian. "Kami segenap warga mengucap terima kasih kepada Presiden dan Mentan. Dana desa sebesar Rp 135 miliar sangat memperhatikan pembangunan perkotaan dan desa. Kami memiliki program '1 Sapi untuk 1 KK' yang tahun ini akan ditingkatkan menjadi 3000 sapi sebagai upaya menjadikan Takalar sentra bibit," ujar Syamsari.

Pertanian dan santri millenial

Hashmuddin, ustaz penerima bantuan hortikultura dari Pesantren Darul Aman sangat berterima kasih atas bantuan yang diberikan dan akan berusaha maksimal mengembangkannya.

"Kami senang, tidak hanya benih, pupuk dan lainnya juga akan diberikan. Mudah-mudahan dengan bantuan ini akan menghasilkan yang terbaik. Kami sangat bersemangat dengan bantuan ini. Kami merasa mendapat perhatian dari Menteri Pertanian.

Dengan dukungan terhadap santri sebagai cikal bakal petani milenial, dirinya sangat bergembira.  "Kami sangat bergembira pemerintah saat ini memberikan perhatian kepada pondok - pondok pesantren, memberikan bantuan agar pesantren jauh lebih baik lagi dan menjadikan generasi pesantren sebagai generasi masa depan pertanian.”

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2uZBBk2
April 12, 2019 at 09:28PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2uZBBk2
via IFTTT
Share:

Sunday, March 17, 2019

TKN: Revolusi Mental Bukan Hanya Membangun Infrastruktur

Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN), Erick Thohir

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
EMBED
Jangan menilai revolusi mental dari mentalnya semata.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN), Erick Thohir mengatakan revolusi mental juga berarti membangun Sumber Daya Manusia (SDM). Menurutnya, membangun gedung sekolah juga termasuk sarana membangun revolusi mental.

Erick mengatakan, jangan menilai revolusi mental dari mentalnya semata.

Ia menambahkan membangun sekolah nantinya akan menciptakan SDM yang berakhlak baik.

Berikut video lengkapnya.

Videografer | Havid Al Vizki     Video Editor | Fian Firatmaja

Dapatkan Update Berita Republika

TERPOPULER

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2W54oPz
March 17, 2019 at 09:28PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2W54oPz
via IFTTT
Share:

Monday, February 18, 2019

Lapangan Jadi Penentu Kemenangan Ginting Atas Leverdez

Ginting tetap tak menyia-nyiakan kesempatan dan memberikan tekanan pada lawan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Kondisi lapangan menjadi faktor pendukung kemenangan Anthony Sinisuka Ginting (Musica Trinity) 21-12 dan 21-17 atas Brice Leverdez (Berkat Abadi). Keduanya bertanding dalam putaran pertama sesi II Djarum Superliga Badminton 2019, Senin (19/2).

"Menurut saya soal teknis juga pengaruh ke lawan, dia sempat terpeleset beberapa kali, jadi permainannya tidak terlalu baik," ujar Ginting usai pertandingan di Sasana Budaya Ganesha Bandung, Senin malam.

Berdasarkan pengamatan Ginting saat bertanding, mood bermain Leverdez yang berasal dari Prancis sempat memburuk sehingga permainannya tidak maksimal. Hal itu, katanya, akibat kondisi lapangan yang sedikit berbeda dari biasanya sehingga perlu adaptasi. "Tidak bisa sembarangan memukul. Kalau terlalu cepat bisa out, terlalu pelan juga mudah terbaca lawan," jelasnya.

Meski begitu, Ginting tetap tidak menyia-nyiakan kesempatan dan memberikan tekanan kepada lawannya sejak awal permainan. "Ya kalau hari ini sih menang karena kondisi lapangan. Lawan juga sudah tidak percaya diri karena terpeleset tadi," katanya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2DPJNr6
February 18, 2019 at 09:28PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2DPJNr6
via IFTTT
Share:

Friday, February 15, 2019

KH Zainuddin MZ, Sang Dai 'Sejuta Umat' dari Betawi (2)

Bertemu dengan Siti Khalilah, yang lalu menjadi istrinya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Secara ekonomi, keluarganya serba berkecukupan. Udin pun tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Sering kali, sosok yang kelak terkenal sebagai KH Zainuddin MZ itu membantu ibunya berdagang kecil-kecilan.

Pendidikan dasarnya diperoleh di SD Kramat Pela. Sebagai murid, Udin termasuk cemerlang. Hal itu dibuktikan, antara lain, dengan tawaran akselerasi dari gurunya. Jadilah dirinya lompat satu tingkat, dari seharusnya naik ke kelas tiga menjadi kelas lima.

Pada 1964, Udin lulus SD dengan nilai gemilang. Cita-citanya tinggi, seperti umumnya anak-anak Jakarta. Awalnya ingin menjadi pilot atau dokter. Namun, kakeknya tidak melihat pendidikan formal terlalu penting untuk masa depan.

“Lihat encing (paman) lu yang lulus SMA. Ijazahnya kagak laku. Gua kapok masukin anak ke SMP atau SMA,” katanya.

Mendengar itu, Udin hanya bisa diam. Toh kakeknya itu ingin yang terbaik. Dia lebih suka cucuknya itu menekuni ilmu-ilmu agama. Karenanya, Udin dimasukkan ke Madrasah Ibtidaiyah Manarul Islam.

Karena ditempatkan di kelas lima, Udin merasa ini sebuah kemunduran. Dia juga kaget dengan sistem yang ada. Sebab, belum pernah sebelumnya dia mempelajari buku-buku berbahasa Arab. Di sekolah ini, hampir seluruh materi membicarakan agama Islam, tepatnya mencakup 70 persen dari total kurikulum.

Apa daya, Udin menjadi tidak begitu unggul. Namun, guru-gurunya tetap bersimpati kepadanya. Atas saran mereka pula, dia secara diam-diam mengikuti tes masuk Madrasah Tsanawiyah (MTs) Darul Ma’arif.

Lembaga yang berlokasi di Cipete, Jakarta Selatan, itu didirikan tokoh kenamaan Nahdlatul Ulama (NU) KH Idham Chalid. Di antara teman-teman setingkatnya adalah Tutty Alawiyah dan Suryani Taher—kelak keduanya masyhur di dunia dakwah nasional. Singkat cerita, Udin akhirnya lolos ujian tersebut dan berhak masuk Mts Darul Ma'arif.

Menggemari Sastra

Di asrama Darul Ma’arif, Zainuddin mulai serius mempelajari kitab-kitab klasik serta mengaji Alquran dan Sunnah. Dia juga terlibat aktif dalam setiap diskusi pelajaran. Teman-temannya kian bertambah dari hari ke hari.

Malahan, anak muda ini terkenal di antara kawan-kawannya sebagai “tukang dongeng muda”. Sebab, dia begitu gemar menceritakan bacaan-bacaan sastra kepada mereka. Sejak SD, Zainuddin memang sudah melahap banyak buku sastra, semisal novel-novel karya Buya Hamka, Marah Rusli, dongeng 1001 malam, dan cerita silat Kho Ping Hoo.

Saat berusia remaja, dia meneruskan sekolah di Madrasah Aliyah, masih sekompleks di Darul Ma’arif. Sewaktu duduk di kelas dua, bertemulah untuk pertama kali dengan perempuan yang kelak menjadi istrinya, Siti Khalilah.

Muda-mudi itu ternyata saling suka. Keduanya kerap berpapasan saat aktif di organisasi Ikatan Pelajar Tsanawiyah-Aliyah, meski tidak sampai berpacaran.

Khalilah sempat pindah ke MA Negeri Mampang Prapatan, tetapi Zainuddin selalu menyempatkan diri untuk bertemu, sekadar bertegur sapa.

Akhirnya, pemuda ini memberanikan diri untuk melamar sang pujaan hati. Ibu dan neneknya merestui. Bakal mertuanya, Ayub, juga akhirnya menerima.

Pada 4 Februari 1972, Zainuddin dan Siti Khalilah menikah dengan resepsi sederhana menggunakan adat Betawi. Saat itu, sang mempelai pria tercatat sebagai mahasiswa di Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin, IAIN Syarif Hidayatullah (kini UIN Ciputat).

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2tmh2xp
February 15, 2019 at 09:28PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2tmh2xp
via IFTTT
Share:

Friday, January 18, 2019

YLKI Meminta Aturan Urun Biaya Peserta BPJS Lebih Diperjelas

"Jangan sampai membingungkan masyarakat. Kemenkes dan BPJS harus melakukan sosial,"

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai perlu ada kualifikasi yang jelas soal kategori tindakan medis apa yang termasuk pada urun biaya Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Kejelasan kategori dinilai penting untuk meminimalisasi masalah bagi pasien.

"Makanya harus ada tim yang solid dan menentukan kategori tindakan atau perawatan medis apa untuk urun biaya ini," jelas Ketua Pengurus Harian YLKI di kantor BPJS Kesehatan Jakarta, Jumat (18/1). Urun biaya adalah tambahan biaya yang dibayar peserta pada saat memperoleh manfaat pelayanan kesehatan.

Dengan adanya kejelasan kategori medis, dia berharap peraturan ini dapat mencegah adanya kecurangan yang dilakukan oknum rumah sakit, tenaga media ataupun peserta. Terlebih aturan ini dinilai mampu menambal defisit BPJS.

Kendati demikian, dia juga meminta agar Kemenkes melakukan sosialisasi secara masif kepada semua masyarakat khusunya peserta BPJS. Sehingga semua masyarakat paham terkait regulasi dan mekanisme urun biaya BPJS tersebut.

"Jangan sampai membingungkan masyarakat. Jadi Kemenkes dan BPJS harus melakukan sosialisasi yang optimal," ungkap dia.

Sebelumnya, Deputi Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Rujukan Budi Mohammad Arief mengungkapkan, aturan besaran urun biaya tersebut berbeda antara rawat jalan dengan rawat inap. Untuk rawat jalan, nantinya peserta BPJS harus membayar urun biaya sebesar Rp 20 ribu untuk setiap kali rawat jalan di RS kelas A dan B. Sedangkan untuk RS kelas C, kelas D, dan klinik utama, peserta BPJS rawat jalan harus membayar Rp 10 ribu setiap kali kunjungan.

"Dan paling tinggi Rp 350 ribu untuk paling banyak 20 kali kunjungan dalam waktu 3 bulan. Perlu diperhatikan, nominal ini terbilang kecil daripada total biaya pelayanan yang diperoleh peserta," kata Budi.

Sedangkan untuk rawat inap, besaran urun biayanya adalah 10 persen dari biaya pelayanan. Dihitung dari total tarif INA CBG’s setiap kali melakukan rawat inap atau paling tinggi Rp 30 juta. Selanjutnya, BPJS Kesehatan akan membayar klaim RS dikurangi besaran urun biaya tersebut. Urun biaya dibayarkan oleh peserta kepada fasilitas kesehatan setelah pelayanan kesehatan diberikan.

“Ketentuan urun biaya ini tidak berlaku bagi peserta JKN-KIS dari segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah,” tegas Budi.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2HjBclE
January 18, 2019 at 09:28PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2HjBclE
via IFTTT
Share:

Thursday, January 17, 2019

In Picture: Debat Perdana Pilpres 2019

Debat perdana tersebut mengangkat empat tema, yakni hukum, HAM, korupsi dan terorisme

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Debat pertama capres-cawapres Pemilu 2019 digelar di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (17/1). Debat pertama ini mempertemukan pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno. 

Debat perdana pilpres 2019 tersebut mengangkat empat tema, yakni hukum, HAM, korupsi dan terorisme. Secara keseluruhan, debat akan dibagi dalam enam segmen dengan durasi total 120 menit dan dipandu oleh dua moderator, Ira Koesno-Imam Priyono.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2RAa5Hs
January 17, 2019 at 09:28PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2RAa5Hs
via IFTTT
Share: