Showing posts with label 2019 at 10:58PM. Show all posts
Showing posts with label 2019 at 10:58PM. Show all posts

Wednesday, February 20, 2019

MUI Serukan Parpol Jaga Kedamaian Jelang Pemilu

Mari jalani agenda demokrasi ini secara damai dan beradab.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Din Syamsuddin menyerukan agar partai-partai politik menjaga suasana menjelang Pileg dan Pilpres 2019 agar tetap damai. "Marilah kita jalani agenda demokrasi ini secara damai dan beradab," kata Din dalam acara Rapat Pleno Dewan Pertimbangan MUI ke 36 bertajuk Silaturahim dan Dialog Capres-Cawapres 2019, di Kantor MUI, Jakarta, Rabu.

Ia meminta perbedaan pilihan politik tidak menjadikan umat Islam terpecah. "Biarlah kita berbeda pilihan, baik pilihan untuk anggota legislatif, partai maupun capres. Tapi janganlah ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, persaudaraan kebangsaan kita porak poranda karena itu," katanya.

Pihaknya menyayangkan adanya panggilan tidak pantas yang ditujukan kepada pendukung capres-cawapres tertentu. Ia meminta semua pihak untuk bersikap rasional dalam mendukung capres-cawapres pilihannya.

"Jangan terlalu ekstrim apalagi saling menghujat, mendegradasi kemanusiaan. Yang kelompok ini memanggil kelompok sana dengan nama binatang. Kelompok sana memanggil kelompok ini dengan nama binatang. Itu artinya tidak menghargai manusia sebagai ciptaan Tuhan. Kok sudah sampai begitu ya kita," katanya.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2SMXx0g
February 20, 2019 at 10:58PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2SMXx0g
via IFTTT
Share:

Saturday, January 19, 2019

Rompi Kuning Melanjutkan Unjuk Rasa Pekan Kesepuluh

Lima ribu personel dikerahkan di seluruh penjuru ibu kota.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Ribuan orang yang menamakan diri mereka aktivis rompi kuning kembali menggelar demonstrasi di seluruh kota di Prancis. Pada Sabtu (19/1)  menjadi unjuk rasa pekan kesepuluh aktivis rompi kuning sejak gerakan protes kenaikan pajak bahan bakar dimulai pada November tahun lalu.

Di Paris ribuan pengunjuk rasa menjawab undangan untuk melakukan pawai yang dimulai dari monumen Invalides, tempat Napoleon dimakamkan.

Para pengunjuk rasa mengkritik tindakan polisi yang menembakan peluru karet sehingga puluhan orang terluka.  "Tidak normal untuk memperlakukan orang seperti bagaimana kami diperlakukan, setiap hari Sabtu selalu ada yang terluka," kata Juliette Rebet, salah satu pengunjuk rasa, Sabtu (19/1).

Baca juga, Demonstran Rompi Kuning: Ada Ketidakadilan Sosial di Prancis.

Di monumen Invalides pengunjung rasa berbaris di depan makam dan membentangkan banner yang bertuliskan "Rakyat dalam bahaya". Mereka juga membawa peti mati untuk mengenang orang-orang yang tewas selama demonstrasi ini digelar.

Paris menyebar lima ribu petugas polisi di seluruh penjuru ibukota. Terutama di sekitar gedung pemerintahan dan kantor kepresidenan Prancis, Champs-Elysees dimana kekerasan sering kali terjadi. Sebanyak 80 ribu petugas kepolisian di tugaskan seluruh Prancis.

Unjuk rasa yang terkadang berubah jadi kerusuhan sudah terjadi selama lebih dua bulan terakhir. Presiden Prancis Emmanuel Macron sudah meluncurkan grand debate atau perdebatan nasional untuk meredakan amarah para pengunjuk rasa.

Unjuk rasa akar rumput ini berawal dari protes kenaikan harga bahan bakar. Tapi meluas menjadi masalah perekonomian lainnya. Gerakan ini sempat berhenti ketika liburan Natal dan Tahun Baru. Tapi jumlah pengunjuk rasa pekan lalu naik menjadi 80 ribu orang dari sebelumnya hanya 50 ribu orang.

Macron menghadapi sejumlah tuntutan yang sangat luas. Mulai dari memberlakukan pajak kekayaan yang dikenal ISF untuk orang-orang kaya di Prancis sampai implementasi pemungutan suara yang mengizinkan rakyat untuk mengajukan undang-undang baru.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2T2dMCH
January 19, 2019 at 10:58PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2T2dMCH
via IFTTT
Share:

Thursday, January 17, 2019

Tiket.com Sebut Tiket Pesawat Sudah Mulai Murah

Maskapai mulai menurunkan tarif untuk beberapa rute penerbangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Beberapa waktu lalu, masyarakat mengeluhkan harga tiket pesawat yang masih mahal meski sudah memasuki low season. Meskipun begitu, Co-Founder dan Chief Marketing Officer Tiket.com Gaery Undarsa mengatakan saat ini tiket pesawat sudah mulai murah.

Gaery mengakui harga tiket sebelumnya memang sempat dijual pada harga tinggi. “Harga tiket pesawat sempat naik lumayan. Bahkan memang sempat naik sampai 30 persen,” kata  Gaery di Jakarta, Kamis (17/1).

Hanya saja setelah fakta tersebut tercium media, maka maskapai penerbangan mulai merevisi harga tiket yang dijual. Lalu saat ini, Gaery memastikan maskapai mulai menjual tiket dengan harga lebih murah untuk beberapa rute.

“Saya bingung juga sebenarnya, sekarang ini beberapa tiket memang dijual murah, ini bagus ya jadi masyarakat juga sudah mendapatkan harga yang murah,” tutur Gaery.

Meskipun begitu, Gaery belum dapat memberikan data secara detil berapa persen penurunan harga tiket. Hanya saja, dia memastikan beberapa maskapai sudah menjual dengan harga lebih murah dari sebelumnya karena berbagai macam alasan.

“Satu mungkin alasannya karena sebelumnya tinggi. Tapi karena ini kan memang lagi low season jadi ini waktu yang bagus untuk beli tiket karena harga lebih murah,” ungkap Gaery.

Sebelumnya, Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau National Air Carriers Association (Inaca) sepakat untuk menurunkan harga tiket pesawat. Ketua Umum Inaca Ari Askhara mengatakan penurunan harga tiket pesawat  mulai dilakukan sejak Jumat (11/1).

Dia menjelaskan penurunan harga tiket sudah mulai dilakukan di beberaoa rute penerbangn. "Ini (penurunan harga tiket) seperti rute Jakarta-Denpasar, Jakarta-Jogja, Jakarta-Surabaya, Bandung-Denpasar, dan lainnya," kata Ari dalam konferensi pers di Jakarta, Ahad (13/1). 

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2HhSlMy
January 17, 2019 at 10:58PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2HhSlMy
via IFTTT
Share:

Saturday, January 5, 2019

Death toll from Sukabumi landslide reaches 23

Landslide destroyed 30 homes and affected 101 people in Sukabumi.

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- The death toll from the deadly landslide that recently hit Garehong hamlet of Cimapag Village in Sukabumi District, West Java Province, has risen to 23 after rescue workers found one more victim on Saturday. The search and rescue workers evacuated the body of a man from the rubble of his house damaged by the landslide, Head of Sukabumi District Marwan said.

Twenty-two of 23 bodies that the rescue workers have so far evacuated have been identified by the West Java Police's Disaster Victim Identification (DVI) unit, but 10 more victims are still missing, he told  local journalists in Sirnaresmi Village, Cisolok Subdistrict, on Saturday.

The search and evacuation process did not always run smoothly, because the bodies of the victims might be buried under the rubble. Therefore, the SAR team personnel used a backhoe to help search and evacuate them.

The rescue workers not only found the body of the man but also his personal belongings, including a gold necklace and smart phone. The victim might have been buried by the landslide that covered his sleeping room.

Sukabumi District is just one of the areas in West Java Province, which is prone to natural disasters. According to the West Java Disaster Mitigation Agency, a total of 1,561 natural disasters had occurred in different parts of the province throughout 2018, killing 50 people and affecting 75,706 residents.

The head of the agency's rehabilitation and reconstruction division, Budi Budiman Wahyu, explained recently that landslides dominated the catastrophes, followed by house fires, whirlwinds, flooding, forest and bush fires, and earthquakes.

As a result of 544 landslides, 434 house fires, 286 whirlwinds, 149 floods, 141 forest and bush fires, and two earthquakes that occurred last year, 50 people died, 75,706 others were affected, and 31,474 houses were damaged and destroyed, he noted.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2C6bQ4z
January 05, 2019 at 10:58PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2C6bQ4z
via IFTTT
Share: