Showing posts with label 2018 at 06:23PM. Show all posts
Showing posts with label 2018 at 06:23PM. Show all posts

Wednesday, December 12, 2018

Aturan Baru Mudahkan WNA Miliki Properti

PP Nomor 103 Tahun 2015 memungkinkan WNA memiliki properti di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memiliki properti seperti tempat tinggal atau tempat usaha adalah impian semua orang. Hal itu juga merupakan mimpi bagi orang-orang asing yang bekerja atau bahkan sudah tinggal puluhan tahun di Indonesia. Namun, banyak yang belum mengetahui bahwa hal tersebut bisa saja dilakukan.

Rick, Seorang warga negara keturunan Belanda menyatakan, sebelum menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dirinya sangat ingin membeli properti di Indonesia. “Saya dan juga ada beberapa teman WNA (Warga Negara Asing) di daerah dan di Jakarta, mereka sama seperti saya, ingin membeli (memiliki) properti di Indonesia, karena Indonesia begitu indah,” ujarnya.

Kini Rick yang sudah belasan tahun tinggal di Indonesia, sudah membeli properti di Nuvasa Bay di Kawasan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau. Namun beberapa teman Rick yang merupakan WNA, masih belum mengetahui adanya aturan baru yang memungkinkan WNA memiliki properti di Indonesia.

“Cuma teman-teman saya sesama WNA, mereka tahunya sulit sekali untuk memiliki properti di Indonesia. Sebenarnya banyak warga asing yang ingin memiliki properti di Indonesia,” katanya.

Lain lagi cerita William, warga negara Singapura yang juga ingin memiliki properti di Indonesia. Menurutnya, memiliki properti di Indonesia secara hukum dan teknis memungkinkan, terutama kepemilikan untuk apartemen. “Tidak ada keraguan bagi orang Singapura yang mungkin ingin memiliki properti di Indonesia. Bisa jadi untuk investasi atau liburan atau untuk rencana pensiun,” ungkapnya.

Teman-teman WNA Rick dan William mungkin hanyalah beberapa dari sekian ribu orang asing yang tidak bisa memiliki properti di Indonesia. Meski mereka sudah menikah dengan warga negara Indonesia sekali pun dan tinggal puluhan tahun di Tanah Air.

Namun keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 103 Tahun 2015 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing mulai memberikan angin segar.  Ini membuat WNA tertarik masuk dan membeli properti di Indonesia.

Menurut Dirjen Hubungan Hukum Keagrariaan, Kementerian Agraria & Tata Ruang, Djamaluddin, untuk orang asing ketentuan sekarang sudah ada di Permen No 29/2016 terkait dengan peraturan pelaksanaan dari PP No 103 Tahun 2015. Harga, biaya, aturan lain dibahas dalam peraturan.

Langkah pemerintah itu langsung mendapat apresiasi dari berbagai kalangan dan praktisi properti. Century 21 Indonesia, Meiko Handoyo mengapresiasi langkah pemerintah dalam pengaturan kepemilikan properti oleh WNA. Menurut Meiko, soal investasi asing di bidang properti di Indonesia itu dipengaruhi aturan dari tiga kelembagaan, yaitu BPN, keimigrasian dan Perpajakan.

“Aturan saat ini sudah lebih baik meski masih perlu disempurnakan, tapi kita harus angkat topi dan mengapresiasi pemerintah dalam hal ini,” ungkapnya.

Sementara mengenai pelaksanaan di lapangan, sudah dijamin pemerintah dan akan bisa dilaksanakan dengan baik. “Kita dengan aturan ini mestinya sudah bisa menjamin dan harus terlaksana. Tidak ada alasan tidak terlaksana. Peraturan Menteri No 29 tahun 2016 sudah diterbitkan. Berarti kan harus dilaksanakan,” ujar Dirjen Hubungan Hukum Keagrariaan, Kementerian Agraria dan Tata Ruang, Djamaluddin,

Begitu juga dengan sosialisasi peraturan tersebut, Djamaluddin menyatakan sudah memberikan informasi ke semua stakeholder. Kementerian menurutnya juga telah mensosialisasikan undang-undang tersebut.

Sampai saat ini ada beberapa faktor yang menjadi alasan WNA membeli properti di Indonesia. Menurut Century 21 Indonesia, Meiko Handoyo, ada dua alasan WNA mau membeli properti di Indonesia.

“Pertama adalah WNA yang membeli properti karena akan digunakan untuk tempat tinggal mereka. Sebagian besar dari mereka adalah para ekspatriat yang bekerja di negeri ini dalam jangka waktu lama, atau mereka yang membutuhkan lokasi dengan iklim yang nyaman untuk menghindari musim dingin. Biasanya kawasan seperti Bali dan Batam menjadi incaran mereka. Alasan kedua adalah untuk motif investasi," ujar Meiko.

Sementara menurut ketua DPD REI (Real Estate Indonesia) Batam, Achyar Arfan, jarak yang dekat ke Singapura menjadikan potensi Batam dilirik pembeli asing. Harga properti di Batam jauh lebih murah dibandingkan kawasan terdekat di Singapura dan Malaysia. Apalagi, posisi Batam yang mudah dijangkau dari Singapura, setiap 30 menit ada kapal feri, menjadi salah satu kemudahan bagi para pembeli WNA.

“Harga properti tipe resort di Batam masih di kisaran Rp 15 juta per meter persegi, atau sekitar dua miliar per unit. Sementara untuk harga apartemen tiga kamar di pinggiran Singapura sudah mencapai kisaran Rp 10 miliar. Perbandingannya sekitar 1:11, harga properti di Batam masih jauh lebih murah, dengan kualitas bangunan lebih baik,” ujarnya.

Dirjen Hubungan Hukum Keagrariaan, Kementerian Agraria & Tata Ruang, Djamaluddin, berharap industri properti akan meningkat, karena orang asing boleh punya Hak Guna Bangunan (HGB) untuk sarusun. “Kemudian insentif waktu, dalam artian kalau dia sudah punya sertifikat layak huni kemudian langsung bisa diberikan perpanjangannya, sehingga jangka waktunya menarik,” kata Djamaludin.

Bersamaan dengan FIABCI Business Summit yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, awal Desember 2018, asosiasi pengembang REI sudah mengeluarkan pedoman “How to Buy Property in Indonesia”. Ini merupakan rangkuman dari semua Regulasi Pemilikan Asing yang ada. Pedoman ini akan dibuat dalam upaya sosialisasi pemilikan hunian bagi asing di Indonesia.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2GcQlVg
December 12, 2018 at 06:23PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2GcQlVg
via IFTTT
Share:

Monday, December 10, 2018

Kurikulum Australia Kembali Perkuat Baca, Tulis, Hitung

Pendidikan dasar Calistung akan diperkuat sebelum mendorong soft skill siswa.

REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Menteri Pendidikan Australia Dan Tehan mengisyaratkan perubahan kurikulum nasional negara itu untuk mengembalikan kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung (Calistung), sebelum mendorong keterampilan soft skill seperti kerja sama tim dan berpikir kritis.

Menteri Tehan menyampaikan hal itu dalam konferensi pendidikan pada Senin (10/12) sebelum menggelar pertemuan dengan para menteri pendidikan negara bagian pada akhir pekan.

"Masukan yang saya dapat dari kepala sekolah, guru, dan orang tua murid mengatakan kurikulum kita sangat padat dan perlu penyederhanaan, perlu back to basics," katanya.

"Pemerintahan PM Morrison berpandangan bahwa sistem pendidikan kita harus memastikan setiap anak didik mendapatkan dasar-dasar pendidikan yang tepat," ujarnya.

Menteri Tehan mengatakan jika anak didik tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung, maka yang bersangkutan tidak bisa lanjut belajar. Dia mengutip ilmuwan Australia Alan Finkel yang meminta perlunya merampingkan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.

Dr Finkel berpendapat upaya keras untuk mempelajari matematika akan jadi rentan jika murid selalu ditekankan 'soft skill' sebagai kunci kesuksesan.

"Saya tak mengkhawatirkan soft skill. Yang harus kita pastikan adalah menanamkan pemahaman dasar terlebih dahulu, yaitu keterampilan membaca dan berhitung," katanya.

Setelah itu, katanya, barulah materi pendidikannya diarahkan pada hal-hal seperti berpikir kritis, kerja sama tim, dan kemampuan mengevaluasi.

Menteri Tehan menyatakan akan meminta kesepakatan para menteri negara bagian untuk memperbarui Deklarasi Melbourne 2008 tentang Tujuan Pendidikan untuk Generasi Muda Australia. Dia berpendapat sudah waktunya meninjau kembali deklarasi ini dengan memasukkan pendidikan usia dini dan pendidikan tinggi.

"Sistem sekolah kita sangat baik, tetapi sistem di negara lain juga meningkat dan dalam banyak kasus melampaui kita," katanya.

Kinerja Australia dalam berbagai tes internasional mengalami penurunan tajam dalam dua dekade, diungguli negara-negara seperti Jepang, Kanada, dan Selandia Baru. Ketua Serikat Pekerja Pendidikan Independen Chris Watt sependapat bahwa kurikulum Australia terlalu luas, namun tidak yakin akan terjadinya perubahan.

"Kita terus mendengar mantra seperti back to basics, perlunya perubahan. Hal ini diulang-ulang sebagai slogan politik," ujarnya.

Beberapa tahun lalu sudah dilakukan upaya mengurangi beban kurikulum, namun menurut Watt, kalangan guru mengalami kesulitan untuk menerapkannya di ruang kelas. Asosiasi guru nasional AAAE tidak sependapat bahwa kurikulum saat ini terlalu padat.

"Masyarakat telah berubah sedemikian rupa sehingga back to basics tak akan memberi perspektif ke masa depan bagi murid-murid," kata Ketua AAAE Sherryl Saunders.

Dia mengakui kurikulum perlu memiliki mata pelajaran inti yang kuat. "Namun kita juga harus memastikan pendidikan ini luas dan mendalam," katanya.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Australia.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2EdfyMM
December 10, 2018 at 06:23PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2EdfyMM
via IFTTT
Share:

Friday, November 30, 2018

Polri Beri Perhatian Lebih pada Pengamanan Pemilu di Papua

Selain memiliki sistem pemilihan noken, masih ada kelompok-kelompok bersenjata disana

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian mengatakan, Polri menaruh perhatian lebih terhadap Papua dalam hal pengamanan Pemilu Serentak 2019. Selain itu, Polri juga akan lebih fokus terhadap pengamanan pemilihan legislatif (pileg) daripada pemilihan presiden (pilpres).

"Tentu yang menjadi atensi kita seperti biasa adalah di Papua karena memiliki sistem pemilihan yang noken. Di daerah pegunungan yang masih ada kelompok-kelompok bersenjata," ujar Tito di Silang Monas, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (30/11).

Tito menerangkan, wilayah Papua memang mendapatkan atensi lebih darinya dan Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto. Untuk wilayah lain, lanjut dia, akan aman selagi TNI dan Polri tetap kompak serta didukung oleh semua komponen masyarakat dalam pelaksanaan Pemilu Serentak 2019.

"Mungkin yang jadi perhatian kita juga adalah di daerah pemilihan (dapil). Dapil ini karena pemilihannya kan pertama kali ada Pilpres serempak dengam legislatif. Legislatifnya ada empat," tutur dia.

Ia menilai, dilakukannya pileg secara serentak, yakni pemilihan DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota, dapat menimbulkan kerawanan terhadap keamanan di setiap dapil. Menurutnya, pertarungan di dapil bukan hanya terjadi antarpartai, tetapi juga antarsatu partai

"Itu antarcalon di satu partai pun mereka berkompetisi. Karena itu, kita buat rencana pengamanan (renpam) bersama Pak Panglima," terangnya.

Selain membuat renpam di tingkat nasional, pembuatam renpam juga akan dilakukan untuk tingkat daerah, khususnya di dapil yang dianggap akan menghadirkan kontestasi yang cukup hangat. Di dapil yang cukup hangat itu, kata Tito, nanti akan dilakukan penebalan personel pengamanan.

"Tapi ini masih lama. Masih ada lebih kurang 4,5 bulan. Dinamikanya juga kan sekarang masih up and down, dinamikanya berubah. Kita terus mengupdate perkembangan situasi bersama Pak Panglima," jelas dia.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2DULDJ8
November 30, 2018 at 06:23PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2DULDJ8
via IFTTT
Share:

Wednesday, November 21, 2018

Timnas Indonesia tak Ingin Terbebani

Evan meminta saat ini pemain tak perlu memikirkan bisa lolos atau tidak dari grup.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para penggawa timnas sepak bola Indonesia tak ingin terbebani dengan posisi terpuruk saat ini di papan klasemen Grup B Piala AFF 2018. Para penggawa asuhan pelatih Bima Sakti Tukiman tersebut saat ini hanya ingin fokus memastikan kemenangan pada laga terakhir kontra Filipina, Ahad (25/11).

Skuat Garuda akan menjamu the Azkals di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta. Gelandang Indonesia Evan Dimas Darmono saat ditemui usai sesi latihan timnas menyampaikan, menjamu Filipina nanti Indonesia wajib menang.

Disinggung apakah kemenangan tersebut akan mengantarkan skuat Garuda ke babak semifinal, Evan mengatakan tak perlu dipikirkan. “Kalau Allah menghendaki kami lolos, siapa pun tidak dapat menghalangi,” kata Evan di Lapangan ABC GBK, Jakarta, Rabu (21/11). 

Karena itu, Evan mengatakan, saat ini pemain tak perlu memikirkan berhasil lolos atau tidak, karena menurut dia, hanya akan menjadi beban saat pertandingan. “Saya dan pemain tidak memikirkan itu. Yang penting kami fokus dan berusaha saja bisa mengalahkan Filipina di GBK nanti,” ujar dia.

Menengok klasemen di Grup B, peluang Indonesia bisa lolos fase grup Piala AFF 2018 memang masih ada. Namun Indonesia tak bisa menentukan nasibnya sendiri.

Selama penyisihan Indonesia sudah tiga kali bertanding. Kalah 0-1 dari Singapura, menang 3-1 dari Timor Leste, dan kandas 2-4 dari Thailand. Hasil tersebut membuat skuat Garuda ada di tangga keempat klasemen Grup B dengan nilai tiga.

Regulasi Piala AFF cuma menjadikan juara dan runner-up grup lolos ke babak semifinal. Sementara di pucuk klasemen ada Thailand yang punya modal enam angka. Menyusul Filipina di tangga kedua dengan nilai sama.

Kedua kesebelasan tersebut akan melakoni laga ketiga pada Rabu (21/11). Sedangkan di tangga ketiga, ada Singapura yang juga punya nilai tiga dan akan melakoni laga ketiga kontra Timor Leste, tim terbawah degan nilai nol.

Menengok peluang Indonesia lolos fase grup memang kecil. Permutasi dan skenario untuk mampu lolos akan mengacu pada hasil laga Filipina kontra Thailand. Indonesia mendoakan Gajah Perang yang menang pada laga tersebut.

Dengan begitu, Indonesia punya harapan menjadi runner-up Grup B, jika mampu mengalahkan Filipina dengan silisih dua gol saat jumpa di GBK Jakarta. Regulasi AFF menjadikan produktivitas gol sebagai acuan posisi klasemen pada tim dengan nilai yang sama.

Jika skenario tersebut berjalan, itu artinya saat menghadapi Filipina, para penggawa Indonesia pun harus memastikan tak kebobolan. Kerja keras para pemain belakang agar disiplin bertahan menjadi prioritas.

Evan melanjutkan, gaya bermain para penggawa Filipina dalam pengamatannya, mengandalkan bola-bola mati. Pun, kata dia, para pemain asuhan pelatih Sven Goran Eriksson tersebut, punya postur yang tinggi. 

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2Tv38VD
November 21, 2018 at 06:23PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2Tv38VD
via IFTTT
Share: