Showing posts with label 2018 at 11:41PM. Show all posts
Showing posts with label 2018 at 11:41PM. Show all posts

Monday, December 24, 2018

YBM PLN Terjunkan Tim Relawan ke Lokasi Tsunami

YBM juga mengirimkan bantuan logistik kebutuhan pokok ke wilayah Banten

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN sebagai lembaga amil zakat berbasis perusahaan turut membantu para korban tsunami yang terjadi di Selat Sunda, Sabtu (22/12) lalu. YBM PLN telah menerjunkan tim relawan kemanusiaan, tim medis, dan beberapa unit mobil ambulans ke lokasi bencana di Banten sejak Ahad (23/12) kemarin. 

YBM juga mengirimkan bantuan logistik kebutuhan pokok untuk diserahkan kepada masyarakat Banten yang terkena dampak bencana gelombang tinggi tersebut. 

Tim medis YBM PLN yang berada di Posko Mushalla Al Mukhlisin sudah memberikan layanan kesehatan untuk para korban yang berada di Desa Tarogong, Pandeglang Banten. Puluhan korban mendapat layanan kesehatan gratis mulai dari siang hari hingga jelang petang. 

Selain di Banten, YBM PLN juga mengirimkan tim relawan dan bantuan logistik pangan untuk korban tsunami di Lampung Selatan.

Dalam siaran persnya Senin (24/12) hari ini, YBM PLN menyatakan bahwa hingga beberapa hari ke depan pihaknya akan terus menyiagakan tim relawan dan segala bantuan untuk membantu para korban dalam fase darurat, baik di Banten maupun Lampung Selatan.

Sampai saat ini, tim YBM PLN bersama tim respon cepat PLN Peduli serta tim SAR juga masih berjibaku membantu evakuasi para korban yang merupakan pegawai PLN. Sebanyak 260 pegawai PLN dan keluarganya turut menjadi korban tsunami di Banten. Korban meninggal, luka-luka, dan hilang, yang berasal dari PLN masih dalam proses pendataan. 

Sebagai pusat informasi dan bantuan, YBM PLN juga membuka posko untuk Banten di kantor Layanan Teknik PLN Rayon Labuhan, Pandeglang, dan untuk Lampung Selatan ada di kantor PLN ULP Kalianda, Lampung.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2BCvlll
December 24, 2018 at 11:41PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2BCvlll
via IFTTT
Share:

Friday, December 21, 2018

Disarankan Dokter, Titiek Puspa Tanam Alat Pacu Jantung

Titiek mengaku memakai alat pacu jantung selama empat bulan terakhir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyanyi senior Titiek Puspa harus menggunakan alat pacu jantung untuk menunjang kebugarannya. Hal itu dikarenakan beberapa waktu lalu kondisi kesehatan jantungnya sempat mengalami penurunan.

"Aku sekarang pake alat pacu jantung, ini udah ditanem," ucap Titiek Puspa saat berbincang di Museum Nasional, Jakarta, Jumat (21/12).

Pelantun lagu "Apanya Dong" ini mengatakan sudah empat bulan terakhir menggunakan alat pacu jantung. Dia mengaku mendapat saran dari dokter untuk menanamkan alat pacu di jantungnya.

"Ya kebetulan ada dokter mengatakan bisa pake itu pacu jantung. Ya udah pakai, jadi jantungnya nggak diapa-apain," kata penyanyi berusia 81 tahun ini.

Akibat menggunakan alat pacu jantung ini, Titiek Puspa harus menanggung resiko kesulitan ketika melewati alat metal detektor. "Sebenarnya boleh aja, bilang pak aku pakai pacu jantung, oke silahkan lewat gitu, mereka sudah tau," tutupnya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2By0dDj
December 21, 2018 at 11:41PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2By0dDj
via IFTTT
Share:

Thursday, December 20, 2018

Potret-Potret Mengagumkan Penghormatan terhadap Sang Ibu

Ibu adalah sosok yang paling pantas mendapatkan penghormatan selain ayah.

REPUBLIKA.CO.ID, Seorang ibu mengandung anak dengan segala kelelahan dan risiko yang ada. Bersusah payah melahirkan lalu membesarkannya. Karena itu, Allah SWT memerintahkan agar manusia mengingat pengorbanan tersebut.”Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (QS. al-Ahqaaf [46]:15). 

Bagi generasi salaf, penghormatan atas jerih payah mereka tekankan. Mereka menempuh bermacam cara untuk menunjukkan bakti terhadap ibundanya. Muhammad bin al-Munakkar misalnya. Ia sengaja meletakkan kedua pipinya di tanah. Hal ini bertujuan agar dijadikan sebagai pijakan melangkah ibunya. 

Ali bin al-Husain, tak ingin makan satu meja dengan ibundanya. Alasannya? Ia takut bila merebut menu yang diinginkan ibunya. Usamah, pernah memanjat pohon kurma lalu mengupasnya dan menyuapi ibunya. Kenapa ia melakukan hal itu? Ia menjawab,” Ibuku memintanya. Apapun yang ia minta dan saya mampu, pasti aku penuhi.” 

Begitulah perhatian salaf terhadap ibu mereka. Aisyah bahkan pernah bertutur, ada dua nama yang ia nilai paling berbakti kepada sosok ibu, yaitu Usman bin Affan dan Haritsah bin an-Nu’man. 

Nama yang pertama tak pernah menunda-nunda perintah ibundanya. Sedangkan yang kedua, rajin membasuh kepala sang ibu, menyuapinya, dan tidak banyak bertanya saat ibundanya memerintahkan suatu hal.       

Menurut Syekh Muhammad bin Ali Asa’awy dalam artikelnya yang berjudul al-Ihsan ila al-Umm, pengabdian dan bakti kepada kedua orang tua terutama ibu, wajib hukumnya. Ini merujuk pada surah al-Isra’ ayat 23-24. Tingkat kewajiban berbuat baik ihsan kepada ibu itu bertambah kuat saat anak-anaknya dewasa. 

Ia menjelaskan, bentuk ihsan kepada ibu bervariasi. Di level pertama ialah menjauhkan segala perkara buruk darinya, memberikan hal positif, berinteraksi dengan pekerti yang luhur dan etika kesopanan, peka terhadap perkara yang ia suka dan tidak, berdoa untuknya, dan segala ihsan yang dilakukan bertujuan untuk menggapai ridanya. 

Berbakti dan berihsan kepada ibu adalah kunci dikabulkannya doa. Pengbadian kepada sosok ibu, juga dikategorikan sebagai sebab masuk surga. Ini seperti tertuang dalam kisah Uwais. Tabiin tersebut adalah orang yang beruntung. 

Rasulullah SAW menyebut bahwa siapapun yang melihat Uwais maka hendaknya  meminta doa ampunan kepadanya. Ini lantaran dirinya terkenal taat dan berbakti pada sang ibunda. Ini mendorong Umar bin Khatab mencari keberadaan Uwais. Kisah pencarian Umar itu seperti tertuang di riwayat Muslim. 

Syekh Asa’awy menjelaskan bila pengabdian yang penuh kepada ibu bisa mengantarkan seorang anak ke surga. Hal ini sebagaimana terjadi pada Haritsah bin an-Nu’man. Dalam riwayat Ahmad disebutkan, Haritsah masuk surga berkat ihsan yang ia tujukan kepada ibunda. Dan, Haritsah adalah sosok paling berbakti untuk ibu. 

Sebaliknya, mereka yang durhaka kepada kedua orang tua, terkhusus ibu, akan mendapatkan ganjaran setimpal. Sangsi yang akan ia terima bukan hanya di akhirat. Akan tetapi, ia akan menerima akibat ulahnya itu di dunia. 

 Seperti ditegaskan dalam riwayat Muslim. Setiap perbuatan dosa, Allah akan menunda siksaannya kapanpun Ia berkehendak hingga kiamat. Kecuali durhaka kepada kedua orang tua. Allah akan mempercepat siksa bagi pelakunya di kehidupan dunia, sebelum mati. Ini mengingat durhaka—sebagaimana riwayat Bukhari—termasuk pelanggaran berat, dosa besar. Imam Syafii pernah bertutur dalam syairnya:”Tunduk dan carilah rida ibumu, karena mendurhakainya termasuk dosa besar.”

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2PSsedS
December 20, 2018 at 11:41PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2PSsedS
via IFTTT
Share:

Friday, November 23, 2018

JK: Pemerintah Bahas Aturan Penggunaan Plastik

Pemerintah sedang membahas sanksi bagi setiap pelanggaran penggunaan plastik

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengatakan, pemerintah saat ini sedang menyusun peraturan penggunaan plastik. Hal ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastik.

"Sudah ada rencana untuk tindakannya, termasuk juga insentif dan disinsentif pemakaian plastik," ujar Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden, Jumat (23/11). 

Selain itu, pemerintah juga sedang membahas sanksi bagi setiap pelanggaran penggunaan plastik. Dengan demikian, diharapkan limbah plastik di Indonesia bisa berkurang dan tidak menyebabkan kerusakan ekosistem.

"Sedang dibahas apa sanksinya, bagaimana tahapannya, teknologi apa yang dipakai, sedang dibahas pemerintah untuk mengurangi limbah sampah plastik itu," kata Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla menyampaikan keprihatinannya atas kasus matinya ikan paus jenis Sperm Wale berukuran 9,6 meter di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Adapun di dalam tubuh ikan paus tersebut ditemukan sekitar 5,9 kilogram sampah plastik yang diduga sebagai penyebab kematiannya. 

Jusuf Kalla mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman telah lama mensosialisasikan pembersihan laut dari sampah plastik. Namun hingga saat ini sampah plastik masih kerap ditemukan di laut.

"Sudah sering khususnya Pak Luhut berbicara karena Kementerian Maritim, jadi tugasnya itu bicara tentang perlunya pembersihan pantai-pantai dari kotoran-kotoran khususnya plastik," ujar Jusuf Kalla.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2KtmtlZ
November 23, 2018 at 11:41PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2KtmtlZ
via IFTTT
Share: