Showing posts with label 2018 at 02:36PM. Show all posts
Showing posts with label 2018 at 02:36PM. Show all posts

Monday, December 31, 2018

Meghan Bukan Wanita Ras Campuran Pertama Kerajaan Inggris

Dia adalah nenek Ratu Victoria dan nenek moyang Ratu Elizabeth.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Meghan Markle memang menjadi sejarah baru dalam perjalanan kerajaan Inggris. Banyak orang meyakini perempuan 37 tahun itu adalah wanita berdarah campuran pertama di kerajaan Inggris.

Ibunda Meghan berdarah Afrika, sedangkan ayahnya berkulit putih. Namun, jauh sebelum kehadiran Meghan, ternyata kerajaan Inggris pernah punya ratu birasial bergelar Queen Charlotte of Mecklenburg-Strelitz. Ratu Charlotte ini hidup di abad ke-18.

Dikutip dari People, Ratu Charlotte menikah dengan Raja George III dan bertakhta selama 60 tahun hingga meninggal pada 1818. Dia adalah nenek Ratu Victoria dan nenek moyang Ratu Elizabeth. Namanya diabadikan sebagai nama kota di North Carolina, AS.

Nama Charlotte juga diambil sebagai nama anak kedua Pangeran William dan Kate Middleton. Kendati Ratu Charlotte lahir di Jerman, ia adalah keturunan langsung dari Margarita de Castro y Sousa yang merupakan warga kulit hitam dari The Portuguese Royal House.

Latar belakang ras Charlotte tidak pernah diketahui publik selama ia menjadi ratu. Fakta itu baru terungkap setelah kematiannya, berkat ahli seni sejarah yang meneliti potret Ratu Charlotte lebih dalam. Jika bukan karena lukisan Sir Allan Ramsay, asal usul Charlotte dari Afrika mungkin tidak akan pernah terkuak.

Di era itu, seniman biasanya didorong mengecilkan fitur fisik yang 'tidak diinginkan'. Pada masa itu, keturunan Afrika termasuk dipandang sebelah mata oleh orang Eropa.

Namun, Ramsay punya pandangan sendiri. Dia menentang perbudakan dan tidak menyembunyikan fitur-fitur Ratu Charlotte dalam lukisannya. Padahal, Ramsay juga menikah dengan keponakan Lord Mansfield, hakim yang kerap memberi vonis perbudakan di kerajaan Inggris.

Latar belakang ras Charlotte tidak bisa sepenuhnya terkonfirmasi. Akan tetapi karya-karya Ramsay yang memuat gambar Ratu Charlotte menjadi petunjuk yang masih tertinggal.

Kini Meghan yang sudah hidup di era modern pun masih tetap menghadapi perlakuan-perlakuan rasialis. Mantan bintang serial Suits tersebut pernah menceritakan kenangan buruk yang dialami diri dan keluarganya. Saat diwawancara mengenai pertunangan dengan Pangeran Harry tahun lalu pun Meghan mengatakan masih menerima perlakuan rasialis yang menyudutkan.

"Sesuatu yang memalukan jika pada kondisi sekarang dunia masih fokus pada hal-hal seperti itu. Tapi di akhir hari aku berpikir, aku bangga pada siapa diriku dan dari mana aku berasal. Kami tidak pernah ambil hati soal itu dan hanya fokus sebagai pasangan. Jadi jika Anda mengacuhkan suara-suara mengganggu itu, Anda akan semakin menikmati waktu bersama pasangan," kata Meghan.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2EZ3Fv6
December 31, 2018 at 02:36PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2EZ3Fv6
via IFTTT
Share:

Sunday, December 30, 2018

Risalah Jakarta Jadi Pedoman Penataan Kerukunan Umat

Para tokoh lintas agama didorong mengisi ruang publik dengan moral dan etika agama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dialog lintas iman yang digagas Kementerian Agama (Kemenag) menghasilkan Risalah Jakarta. Risalah ini berisi lima rumusan tentang kehidupan keberagamaan. 

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, mengaku akan serius menjadikan rumusan Risalah Jakarta itu sebagai pedoman untuk menata kerukunan umat beragama di Indonesia. 

"Kami akan secara serius menjadikannya (Risalah Jakarta) sebagai pedoman dalam menata kehidupan dan kerukunan umat beragama di masa mendatang," ujar Lukman dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Ahad (30/12).  

Menurut dia, Kemenag ke depannya akan terus berikhtiar memberikan perlindungan, pelayanan, dan jaminan kepada setiap umat beragama di Indonesia sesuai dengan peraturan yang ada.  

Lebih dari itu, lanjut Lukman, pihaknya juga akan menyediakan fasilitas dan akses program agar orang-orang yang dianggap memiliki pengetahuan dan otoritas keagamaan dapat terus hadir di ruang-ruang publik dan di dunia digital. Dengan demikian, mereka dapat memberikan pencerahan nilai-nilai moral dan spiritual agama melalui jalur-jalur kebudayaan.

Menurut dia, hal ini penting mengingat selama ini pihak-pihak yang dianggap memiliki otoritas pengetahuan agama, baik dari kalangan agamawan maupun akademisi, dirasakan kurang hadir mengisi dahaga keberagamaan publik lewat ruang-ruang media sosial. 

Padahal, menurut dia, sejatinya mereka sangat mampu menghadirkan nilai-nilai luhur moral dan spiritual agama. "Selaku bagian pemerintah, kami merasa perlu memberikan fasilitas dan akses dalam menginternalisasi dan menyebarkan nilai-nilai moral dan spiritual agama melalui strategi kebudayaan yang terencana dengan baik dan matang," kata Lukman.     

Lukman juga menyerukan kepada semua pihak senantiasa menghindari perilaku ekstrem dan eksklusif dalam beragama, serta mengajak umat untuk terus mengedepankan keteladanan moderasi beragama yang mengayomi, santun, adil, berimbang, serta saling menghargai satu pandangan dengan pandangan lain. 

Dialog yang mengangkat tema "Kehidupan Beragama di Indonesia: Refleksi dan Proyeksi" ini dibuka Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Hotel Discovery Ancol, Jakarta, Jumat (28/12). Kegiatan ini menghasilkan rumusan Risalah Jakarta pada Sabtu (29/12).  

Acara yang digelar dua hari ini diikuti sejumlah agamawan dan budayawan. Di antaranya, Mahfud MD, Asep Zamzam Noor, Fatin Hamama, Garin Nugroho, Haidar Baqir, Hartati Murdaya, Henriette G Lebang, Jadul Maula, Komaruddin Hidayat, Suhadi Sanjaya, Sujiwo Tedjo, Ulil Abshar Abdalla, Usman Hamid, Uung Sendana, Wahyu Muryadi, Yudi Latif, Bhikku Jayamedo, Alisa Wahid, Coki Pardede, Zaztrow,  dan D Zawawi Imron.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2QY4JWn
December 30, 2018 at 02:36PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2QY4JWn
via IFTTT
Share:

Saturday, December 22, 2018

Triple Double Lebron Antar Lakers Tumbangkan Pelicans

Lebron membukukan 22 angka, 14 assist dan 12 rebound.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Megabintang Los Angeles Lakers LeBron James mencetak triple double untuk mengantar timnya menumbangkan New Orleans Pelicans 112-104 dalam lanjutan kompetisi basket NBA. Bertanding di kandang sendiri di Staples Center, Sabtu (22/12) WIB, Lebron membukukan 22 angka, 14 assist dan 12 rebound.

Selain Lebron yang tampil cemerlang, center muda Lakers, Ivica Zubac juga tampil gemilang. Pemain asal Bosnia berusia 21 tahun ini mencetak double-double 16 angka dan 11 rebound. Ini menjadi capaian terbaik Zubac musim ini.

Pertandingan Lakers melawan Pelicans, diwarnai pertemuan dua megabintang NBA, Lebron dan Anthony Davis. Sehari sebelum laga, Lebron sempat melontarkan keinginannya untuk bertandem dengan bigman Pelicans yang juga menggunakan nomor punggung 23 ini.

Sejak awal pertandingan berlangsung ketat, kuarter pertama berakhir dengan kedudukan sama kuat 34-34. Tuan rumah memimpin 69-65 saat jeda istirahat. Selanjutnya Lakers terus mempertahankan keunggulan, akhir kuarter tiga mereka memperlebar jarak 94-88 dan akhirnya menang 112-104.

Selain Lebron dan Zubac ada tiga pemain Lakers yang mengemas angka dua digit, Kyle Kuzma memimpin dengan 23 angka, Brandon Ingram 18 poin, dan Lonzo Ball 12 angka. Sementara Rajon Rondo yang comeback usai cedera sejak 14 November lalu, kali ini menyumbang 8 angka dan 9 assist.

Di kubu Pelicans, Davis menjadi yang terbaik bagi timnya  dengan torehan 30 angka dan 19 rebound. Julius Randle yang bermain 34 menit tampil baik dengan sumbangan 21 angka. Jrue Holiday menambahkan 18 angka, 9 assist, Darius Miller 11 angka dan E’Twaun Moore mencetak 10 angka.

Lakers dengan catatan 19-13 masih tetap berada di peringkat empat Wilayah Barat sedangkan Pelicans (15-18) di peringkat 13 wilayah yang sama. Selanjutnya, Lakers akan menjamu Memphis Grizllies,setelah itu Lebron dkk akan menuju Golden State Warriors. Sedangkan Pelicans akan bertandang ke Sacramento Kings. 

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2PVUMn4
December 22, 2018 at 02:36PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2PVUMn4
via IFTTT
Share:

Friday, December 14, 2018

Kesepakatan Senjata Rahasia Australia-Timur Tengah Terungkap

Australia ingin menjadi negara terbesar kesepuluh pengekspor senjata.

REPUBLIKA.CO.ID, Pemerintah Australia telah menyetujui ekspor lusinan pengiriman barang-barang militer ke negara-negara Timur Tengah yang terlibat dalam perang Yaman. Perang Yaman sebuah konflik yang lekat dengan tuduhan-tuduhan kejahatan perang dan pembunuhan warga sipil tanpa pandang bulu.

Dokumen Departemen Pertahanan internal yang diperoleh di bawah Kebebasan Informasi (FOI) dan dari rapat dengar pendapat Parlemen mengungkap, sejak awal 2016, Canberra telah memberikan setidaknya 37 izin ekspor untuk barang-barang yang berhubungan dengan militer ke Uni Emirat Arab, dan 20 izin ke Arab Saudi.

Mereka adalah dua negara yang memimpin koalisi perang melawan pemberontak Houthi di negara termiskin di Timur Tengah, Yaman. Menurut salah satu lembaga perlindungan anak, perang empat tahun di Yaman telah menewaskan puluhan ribu orang dan embargo udara-dan-laut telah menyebabkan lebih dari 85 ribu anak-anak Yaman di bawah usia lima tahun meninggal karena kelaparan.

Ekspor Australia yang sedang berkembang ke UAE dan Arab Saudi mungkin terkait dengan rencana yang diumumkan oleh mantan Perdana Menteri Malcolm Turnbull pada bulan Januari. Australia ingin meningkatkan penjualan alat pertahanan secara drastis selama dekade berikutnya.

Australia akan menghabiskan 200 juta dolar AS (atau setara Rp 2 triliun) antara tahun ini hingga 2028 untuk menjadikan negaranya sebagai pengekspor senjata terbesar ke-10 di dunia. Saat ini Australia merupakan yang terbesar ke-20. Strategi itu menyatakan Timur Tengah adalah "pasar prioritas" untuk ekspor pertahanan.

Skala penjualan senjata Australia

Pemerintah Australia telah berusaha untuk menjaga rincian rahasia ekspor. Tetapi pengacara New South Wales dan aktivis hak asasi manusia Kellie Tranter telah menghabiskan satu tahun mencoba untuk menjelaskan penjualan itu.

"Saya memiliki anak di bawah lima tahun dan sulit untuk tidak tersentuh oleh foto yang datang dari Yaman. [Dengan] seorang bayi yang masih dikandung, saya merasa terdorong untuk mencari tahu bagaimana jika ada peran negara kami dalam penderitaan itu," kata Tranter.

Ia telah melacak peningkatan ekspor ke Timur Tengah melalui serangkaian permintaan FOI Pertahanan.

Upaya Tranter-lah yang menemukan skala sertifikat ekspor Australia ke UAE dan Saudi. Izin ekspor diperlukan sebelum perusahaan atau Pemerintah bisa mengirimkan barang-barang militer atau barang dengan penggunaan ganda ke luar negeri. Meskipun kadang-kadang perusahaan menerima izin ekspor dan pada akhirnya tidak mengekspor barang tersebut.

Tranter mengatakan izin itu bukti Australia sedang mencoba untuk meningkatkan penjualan ke negara-negara yang terlibat dalam perang Yaman. "Kami benar-benar terlibat dengan para pemain yang berpotensi terlibat dalam kegiatan keji di Yaman," katanya.

"Anda berbicara tentang kejahatan perang, bukti kejahatan perang yang banyak."

Dokumen-dokumen FOI yang banyak disunting itu tidak menunjukkan perusahaan Australia mana yang menerima izin, siapa pelanggan internasional mereka, atau bahkan barang apa yang akan mereka ekspor. "Bahkan anggota Oposisi yang telah mencoba untuk mengambil informasi ini dari Pemerintah diizinkan untuk mengetahui," kata Tranter.

Pada bulan Agustus tahun ini, PBB merilis laporan yang menuduh koalisi pimpinan Saudi atas serangkaian pelanggaran hak asasi manusia, termasuk serangan udara acak dan penjara rahasia yang dikelola UEA menggunakan penyiksaan dan pembunuhan. Laporan itu juga meminta komunitas internasional untuk menghentikan penjualan senjata ke kubu koalisi.

Mantan anggota Parlemen Australia, Melissa Parke, adalah salah satu penulis laporan tersebut. Ia mengatakan pemerintah yang menjadi anggota PBB harus berhati-hati ketika mempertimbangkan masalah ekspor militer. "Negara-negara anggota yang membantu para pihak dalam konflik akan ingin memastikan bahwa mereka tidak membantu dan bersekongkol dengan kejahatan perang," kata Parke.

"Dan bahwa mereka tidak melanggar kewajiban yang mungkin mereka miliki di bawah perjanjian seperti perjanjian perdagangan senjata." Australia menandatangani Perjanjian Perdagangan Senjata internasional, yang mulai berlaku pada 24 Desember 2014.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2Bgh9ye
December 14, 2018 at 02:36PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2Bgh9ye
via IFTTT
Share: