Showing posts with label 2018 at 09:14PM. Show all posts
Showing posts with label 2018 at 09:14PM. Show all posts

Tuesday, December 25, 2018

MUI: Hukum Ucapan Selamat Natal Dikembalikan ke Individu

MUI menyatakan belum pernah mengeluarkan fatwa terkait hukum ucapkan selamat Natal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia Zainut Tauhid Saadi mengatakan, MUI belum mengeluarkan fatwa mengenai mengucapkan Natal. Sehingga, ucapan selamat hari besar kepada umat Kristiani hukumnya dikembalikan kepada masing-masing individu.

"MUI mengembalikan masalah ini kepada umat Islam untuk mengikuti pendapat ulama yang sudah ada sesuai dengan keyakinannya," kata Zainut kepada wartawan di Jakarta, Selasa (25/12).

Zainut mengatakan, terdapat perbedaan pandangan para ulama dalam menilai masalah itu. Sebagian ulama ada yang melarang dan sebagiannya lagi membolehkan.

Untuk itu, dia mengatakan, MUI menghormati pendapat ulama yang menyatakan bahwa mengucapkan selamat Natal itu hukumnya haram atau dilarang oleh agama. Hal itu didasarkan pada argumentasi bahwa mengucapkan selamat Natal itu bagian dari keyakinan agamanya.

Baca juga: Prabowo: Selamat Hari Raya Natal Bagi Seluruh Umat Kristiani

Sebaliknya, lanjut dia, MUI juga menghormati pendapat ulama yang menyatakan mengucapkan selamat Natal itu hukumnya mubah atau boleh dan tidak dilarang oleh agama. Alasannya, didasarkan pada argumentasi bahwa hal itu bukan bagian dari keyakinan agama tetapi sebatas memberikan penghormatan atas dasar hubungan kekerabatan, bertetangga, dan relasi antarumat manusia.

"MUI mengimbau kepada masyarakat untuk arif dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan pendapat tersebut dan tidak menjadikan polemik yang justru bisa mengganggu harmoni hubungan antarumat beragama," kata dia.

Seluruh masyarakat Indonesia, kata dia, agar terus menjaga dan memelihara ukhuwah atau persaudaraan di antara sesama anak bangsa. Baik persaudaraan ke-Islaman, persaudaraan atas dasar kemanusiaan maupun persaudaraan kebangsaan.

"Demi terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun, damai dan harmonis," kata dia.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2Cxvfx5
December 25, 2018 at 09:14PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2Cxvfx5
via IFTTT
Share:

Sunday, December 16, 2018

KPU Belum Tuntaskan Data Pemilih Masyarakat Adat

Baru 350 orang dari 770 komunitas masyarakat di Indinesia yang masuk DPT.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Yayan Hidayat, mengungkapkan KPU belum menuntaskan persoalan data pemilih masyarakat adat. Baru ada 350 orang masyarakat adat yang sudah diakomodasi sebagai pemilih Pemilu 2019.

Menurut Yayan, pihaknya sudah melakukan kroscek melalui pemantau di daerah terkait data masyarakat adat. "Baru 350 jiwa yang diakomodasi sebagai pemilih. Lalu sisanya ke mana? Datanya perlu dijelaskan kembali," ungkap Yayan dalam diskusi di Jakarta Pusat, Ahad (16/12).

Sebab, lanjut dia, hingga saat ini tercatat ada 770 komunitas masyarakat di kawasan hutan Indonesia. Dari komunitas itu, tercatat ada tiga juta jiwa masyarakat adat yang belum memiliki identitas kependudukan.

Kemudian, sebanyak 1,6 juta jiwa belum terdaftar sebagai pemilih. "Sisanya, kami sudah memberikan data kepada KPU, tetapi belum ada kejelasan dari 350 jiwa," lanjut Yayan.

Dirinya lantas menyebut sejumlah temuan lain. Contohnya, di Sulawesi Selatan, ada 125 jiwa yang sudah diakomodasi oleh Dinas Dukcapil setempat (sudah mendapatkan identitas kependudukan).

Sisanya, sebanyak 275 jiwa, belum diberi identitas kependudukan. Akibatnya mereka tidak terdaftar sebagai pemilih.

Selanjutnya, AMAN juga mengungkapkan persoalan adanya uragi atau pemangku adat tingkat dusun yang belum melakukan rekam data kependudukan. Pasalnya, uragi ini enggan menanggalkan ikat kepala mereka sehingga belum bisa melakukan rekam data KTP-el.

Yayan mengungkapkan, ikat kepala adalah simbol. Jika kondisi ini tidak diakomodasi oleh pemerintah, maka hak kewarganegaraan dan hak politik masyarakat adat akan hilang.

"Maka kami harap penetapan daftar pemilih tetap hasil perbaikan tahap kedua (DPTHP 2) belum final. Kami akan mendorong sisa sebanyak 1,6 juta jiwa masyarakat adat terdaftar sebagai pemilih. Menurut kami, masyarakat adat yang memiliki nilai bertentangan dengan peraturan administrasi tetap berhak mendapatkan identitas kependudukan," tegas Yayan.

Sebelumnya, KPU menetapkan DPTHP 2 pada Sabtu (15/12). Total DPTHP 2 dalam negeri yang ditetapkan oleh KPU adalah 190.770.329 orang.  Rincianya pemilih laki-laki 95.365.749 orang, dan pemilih perempuan 95.401580. Total TPS yang akan dibuat untuk pemilu 2019 di dalam negeri adalah 809.500 titik. Jika digabungkan dengan daftar pemilih di luar negeri, total pemilih Pemilu 2019 yang ditetapkan oleh KPU kemarin sebanyak 192.828.520 orang.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2QxcwtY
December 16, 2018 at 09:14PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2QxcwtY
via IFTTT
Share:

Monday, November 26, 2018

Pelatih AS Roma: Kami Siap Hadapi Real Madrid

Namun, penyelesaian akhir pasukan Roma masih menjadi masalah.

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA -- Pelatih AS Roma Eusebio Di Francesco mengaku timnya tidak memiliki tekad terlalu besar usai kalah dari Udinese. Namun, ia menyebut il Giallorossi siap untuk menjamu Real Madrid pada lanjutan Liga Champions pekan ini.

"Kami kalah, tapi kami berusaha untuk memenangkan pertandingan dengan cara bermain baik ofensif atau defensif," kata Eusebio dikutip Football Italia, Senin (26/11).

Sejatinya, merujuk dari statistik pertandingan melawan Udinese akhir pekan kemarin, il Lupi sukses mengamankan 75 persen penguasaan bola dan melepaskan 26 tembakan. Namun, penyelesaian akhir jadi masalah. Edin Dzeko dkk kerap gagal menyarangkan bola ke gawang lawan.

Meski begitu, Di Francesco menilai anak asuhnya sudah siap melakoni bentrokan dengan juara bertahan Madrid pada matchday kelima babak penyisihan Grup G yang berlangsung di Stadion Olimpico, Rabu (28/11). "Kami siap untuk pertandingan yang saya anggap paling penting. Kami pun berada dalam posisi yang baik di Liga Champions dan dapat membuatnya lebih baik pada penampilan hebat nanti," sambung dia.

Roma untuk sementara berada di posisi kedua klasemen Grup G Liga Champions dengan perolehan sembilan poin. il Lupi hanya kalah selisih gol dari Madrid yang duduk di kursi pertama.

Adapun kondisi kedua tim jelang bentrokan nanti berada dalam situasi yang sama karena baru sama-sama menerima kekalahan. Tim Madrid besutan Santiago Solari dibuat bertekuk lutut 0-3 dari Eibar.

Meski begitu, Eusebio tak ingin memandang lawannya sebelah mata. Ia tetap menganggap Madrid tim hebat yang bisa mengalahkan siapa pun. "Kami adalah dua tim yang berjuang setelah menerima hasil mengecewakan. Perbedaanya hanya ada pada level psikologis, tetapi mereka dalam situasi baik sebelum kekalahan (Eibar)."

Merujuk pada lima pertemuan terakhir, Madrid sepertinya jauh lebih diunggulkan ketimbang Roma yang notabenenya bermain di rumah sendiri. Sebab, bentrokan terakhir di Olimpico pada 2016 silam, Madrid sukses menggasak il Lupi dengan skor 2-0.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2DNyu4a
November 26, 2018 at 09:14PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2DNyu4a
via IFTTT
Share:

Saturday, November 24, 2018

Tahun Suram Sepak Bola Indonesia dan Tagar 'Kosongkan GBK'

Tagar 'Kosongkan GBK' merebak di media sosial untuk tidak menonton Timnas Senior

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Israr Itah*

Tahun 2018 menjadi masa yang menyakitkan bagi pendukung timnas Indonesia. Tiga timnas dari berbagai level usia gagal mencapai target yang didambakan. Timnas U-23 terhenti pada babak 16 besar saat pemerintah dan PSSI menargetkan posisi empat besar.

Timnas U-16 sempat menghapus dahaga gelar dengan juara Piala AFF U-16. Akan tetapi, tim asuhan Fakhry Husaini kemudian gagal di level lebih tinggi, Piala AFC U-16. Timnas dihentikan Australia di perempat final, padahal hanya butuh satu kemenangan lagi untuk mencapai target sebagai semifinalis agar bisa berlaga di Piala Dunia U-17 tahun depan.

Hal serupa terjadi pada timnas U-19. Tim asuhan Indra Sjafri juga terhenti di delapan besar oleh Jepang. Padahal andai menang, Witan Sulaeman dkk bisa berlaga di Piala Dunia U-20 tahun depan.

Klimaks kegagalan terjadi di Piala AFF 2018. Timnas senior yang ditargetkan juara justru harus tersingkir saat penyisihan grup masih menyisakan satu laga.

Bila dilihat, respons fan sepak bola Indonesia atas empat kegagalan tersebut sangat jauh berbeda. Timnas U-23 mendapatkan apresiasi positif karena menunjukkan perjuangan keras tak kenal menyerah sebelum akhirnya kalah 3-4 dari Uni Emirat Arab lewat adu penalti.

Stadion Wibawa Mukti, Cikarang penuh dalam laga tersebut. Applaus diberikan kepada para pemain U-23 plus tiga pemain senior yang dianggap sudah mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Pelatih Luis Milla Aspas pun mendapatkan apresiasi karena dianggap berhasil membentuk timnas yang berkarakter.

Respons serupa juga tertuju pada timnas U-16. Setelah sepanjang babak penyisihan bermain atraktif, timnas U-16 harus mengakui keunggulan Australia 2-3 pada babak delapan besar. Tapi Amirudin Bagus Kahfi dkk juga dianggap sudah menunjukkan perjuangan maksimal. Australia yang unggul dalam organisasi permainan dan postur tubuh dibuat bertahan pada menit-menit akhir untuk membendung serangan timnas U-16 yang bergelombang.

Apresiasi yang hampir sama juga ditunjukkan oleh timnas U-19. Mayoritas memaklumi kegagalan Witan dkk mengatasi Jepang yang tampil dominan. Apalagi dalam beberapa aspek, Jepang juga terlihat menaruh respek kepada timnas U-19 dengan strategi yang mereka terapkan saat menang 2-0.

Namun sikap berbeda tertuju kepada timnas senior yang tampil di Piala AFF 2018. Kritikan sudah mulai muncul bahkan sebelum turnamen dimulai. Sebagian kritik kemudian berubah menjadi hujatan saat timnas senior, yang diperkuat mayoritas pemain timnas U-23, dikalahkan Singapura 0-1.

Tagar 'Kosongkan GBK' merebak di media sosial yang mengajak penggemar timnas sepak bola Indonesia untuk tidak menyaksikan langsung aksi Andik Vermansah dkk melawan Timor Leste di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Selasa (13/11) lalu. Ajakan itu semakin menguat dalam beberapa hari terakhir jelang laga tim Merah Putih kontra Filipina di tempat yang sama, Ahad (25/11). Mereka yang menyebarkan tagar ini tak sekadar menyoal permainan timnas senior yang menyedihkan, melainkan PSSI dalam lingkup yang lebih besar. Sebab, buruknya performa timnas berawal dari langkah yang dibuat PSSI.

PSSI membuat kejutan dengan tidak memperpanjang kontrak Luis Milla Aspas dan mengangkat Bima Sakti sebagai pelatih kepala. Padahal Bima tak punya rekam jejak cukup di level klub untuk langsung menangani timnas. Ia hanya bermodal sebagai asisten Luis Milla. PSSI yang sebelumnya bisa memanfaatkan dana pemerintah untuk persiapan pelatnas Asian Games 2018 kepayahan membayar gaji mahal Luis Milla selepas multi event tersebut. Dilepasnya Luis Milla membuat PSSI diberondong kritikan pedas, yang berlanjut dengan keputusan mengangkat Bima Sakti sebagai pelatih kepala.

Saya menilai keputusan tersebut mungkin yang terbaik saat itu. Sebab dengan penyelenggaraan turnamen yang mepet, sulit menunjuk pelatih baru dalam waktu singkat. Apalagi pelatih-pelatih top Tanah Air sudah berkomitmen penuh dengan klub yang mereka latih. Bima diharapkan bisa meneruskan kerangka permainan yang sudah diciptakan oleh Luis Milla.

Nyatanya, Bima belum mampu. Sebab, ia tak didukung kebijakan penting PSSI untuk menghentikan kompetisi Liga 1. Alhasil para pemain yang bergabung dalam kondisi tak maksimal. Mayoritas mereka kelelahan karena sebelumnya bermain di Asian Games 2018, berlanjut membela klub di liga, dan kemudian tampil di Piala AFF. Sulit mengatur periodisasi atlet jika terus menerus berlaga seperti pemain timnas kita.

Efeknya bisa terlihat pada laga lawan Singapura. Bima seperti tak punya solusi taktis dan kontra strategi dari pelatih Fandi Ahmad yang menutup sayap tim Garuda dengan cermat. Sementara para pemain terlihat individualis dan tak mampu menahan emosi.

Permainan timnas sedikit membaik saat menang 3-1 atas Timor Leste, namun tetap mengkhawatirkan. Terbukti kemudian timnas senior kalah 2-4 dari Thailand pada laga krusial yang akhirnya membuat Indonesia tersingkir. Kemarahan para penggemar pun menyeruak, utamanya kepada Edy Rahmayadi yang menjadi Ketua Umum PSSI. Edy diminta mundur karena tak mampu mengatur organisasi dengan baik untuk menghadirkan prestasi. Bumbu isu pengaturan skor di Liga 1 dan 2 makin membuat kusut situasi.

Fan timnas Indonesia selama ini dikenal militan. Mereka tak sekadar glory hunter, yang hanya mau mendukung saat timnas menang. Benar, di saat skuat Garuda tampil bagus dan memetik kemenangan demi kemenangan, dukungan melimpah akan mengalir. Tapi andai tak menang sekalipun, sokongan kepada para pejuang di lapangan hijau itu tetap besar bila timnas menunjukkan perjuangan tak kenal menyerah.

Saat kesalahan yang dilakukan PSSI kembali berulang, wajar ada respons negatif yang juga makin membesar. Menarik dilihat apakah GBK benar-benar kosong pada Ahad (25/11) malam. Andai benar-benar kosong, semoga itu bisa menjadi tamparan keras atau shock therapy bagi para pengurus dan Exco PSSI untuk serius mengurusi olahraga paling populer se-Tanah Air ini.

*) Penulis adalah redaktur Republika.co.id

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2TEpwvE
November 24, 2018 at 09:14PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2TEpwvE
via IFTTT
Share: