Showing posts with label 2018 at 10:26PM. Show all posts
Showing posts with label 2018 at 10:26PM. Show all posts

Monday, December 24, 2018

Juan Mata Optimistis di Bawah Asuhan Solskajer

Ia mengatakan, kemenangan meyakinkan melawan Cardiff membangkitkan semangat tim.

REPUBLIKA.CO.ID, MANCHESTER -- Manchester United (MU) menunjukkan performa gemilang di bawah pelatih interim Ole Gunnar Solskjaer. Iblis Merah menggasak Cardiff City 5-1 pada lanjutan Liga Primer Inggris ke-18, pekan lalu. 

Hasil ini mendapat tanggapan positif dari gelandang serang Juan Mata. Ia mengatakan, kemenangan meyakinkan melawan Cardiff membangkitkan semangat tim pada akhir 2018. 

"Sudah saatnya untuk bersikap optimistis melihat masa depan," kata Mata, dikutip Four Four Two, Senin (24/12).

MU resmi mendepak Jose Mourinho setelah kalah 1-3 dari rivalnya Liverpool. Manajemen langsung bertindak cepat dengan menunjuk Solskajer sebagai pelatih sementara hingga musim 2018/2019 berakhir.

Debutnya berjalan sukses dengan menggasak tuan rumah Cardiff. Mata pun gembira atas fakta ini.

"Tanpa ragu ini merupakan waktu tersibuk dalam setahun di sepak bola Inggris. Kami memiliki dua partai di Old Trafford sebelum tutup tahun dan ingin mengamankan kemenangan tersebut," kata Mata.

Pesepak bola asal Spanyol menilai, ini menjadi pekan berbeda setelah pergantian Mourinho. Ia berterima kasih dengan kinerja manajer asal Portugal dan berharap Mou mengalami keberuntungan pada masa depan.

The Red Devils untuk sementara bertengger di urutan keenam dengan perolehan 29 poin, tertinggal delapan angka dari Arsenal di tempat kelima.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2AdRt5D
December 24, 2018 at 10:26PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2AdRt5D
via IFTTT
Share:

Sunday, November 25, 2018

Pemerintah Bentuk Kantor Manajemen Dukung Perhutanan Sosial

Pembentukan kantor manajemen bertujuan memenuhi target perhutanan sosial 12,7 hektare

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah akan membentuk kantor manajemen untuk mendukung pelaksanaan program perhutanan sosial. Hingga November 2018 program pertahanan sosial ini telah mencakup lahan seluas 2,17 hektare.

"Kita akan membentuk 'Project Management Office' yang bertugas untuk mempercepat pelaksanaan program perhutanan sosial," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Ahad (25/11).

Darmin mengungkapkan hal tersebut saat mendampingi Presiden Joko Widodo dalam acara penyerahan Surat Keputusan (SK) perhutanan sosial kepada masyarakat di Palembang, Sumatera Selatan. Darmin menjelaskan pembentukan kantor manajemen ini bertujuan untuk mewujudkan pemenuhan target perhutanan sosial seluas 12,7 hektare.

Mantan Gubernur Bank Indonesia itu juga mengingatkan pentingnya kebijakan ini karena dapat mendorong peningkatan kesejahteraan para petani maupun memperjelas hak hukum para pengelola lahan. Untuk itu, pemerintah juga merancang komposisi pemanfaatan lahan yang ideal agar dalam waktu bersamaan, petani dapat menanam jenis tanaman tahunan, seperti tanaman kopi dan karet, serta tanaman musiman, seperti nanas dan jagung.

"Untuk menjaga kecukupan pendapatan petani atau penggarap, pemerintah merancang komposisi bagi-hasil yang adil sehingga keuntungan hasil pengelolaan budidaya di lahan perhutanan sosial lebih dinikmati oleh petani," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Darmin juga menyampaikan laporan surat keputusan pemanfaatan kawasan hutan negara oleh masyarakat di Sumatera Selatan yaitu Kota Pagar Alam sebanyak 7 SK Hutan Kemasyarakatan, seluas 2.957 hektare untuk 1.170 Kepala Keluarga atau KK.

Kemudian, Kabupaten Muara Enim sebanyak tujuh SK Hutan Desa seluas 5.933 hektare untuk 115 KK, dan dua SK Hutan Kemasyarakatan seluas 5.886 hektare untuk 577 KK serta Kabupaten Musi Rawas sebanyak satu SK Hutan Desa seluas 403 hektare untuk 34 KK.

Selain itu, Kabupaten Lahat sebanyak enam SK Hutan Kemasyarakatan seluas 2.024 hektare untuk 821 KK dan Kabupaten Banyuasin sebanyak satu SK Hutan Kemasyarakatan seluas 521 hektare untuk 204 KK.

Kemudian, Kabupaten Musi Banyuasin sebanyak dua SK Hutan Kemasyarakatan seluas 1.035 hektare untuk 163 KK, sebanyak dua SK Hutan Tanaman Rakyat seluas 8.478 hektare untuk 451 KK dan tiga SK Pengakuan serta Perlindungan Kemitraan Kehutanan seluas 17.373 hektare untuk 3.032 KK.

Untuk Kabupaten Ogan Komering Ulu sebanyak satu SK Hutan Kemasyarakatan seluas 478 hektare untuk 85 KK dan satu SK Hutan Tanaman Rakyat seluas 327 hektare untuk 42 KK serta Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan sebanyak 15 SK Hutan Kemasyarakatan seluas 6.714 hektare untuk 1.705 KK, dan tiga SK Hutan Tanaman Rakyat seluas 2.217 hektare untuk 337 KK.

Terakhir, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur sebanyak tiga SK Hutan Kemasyarakatan seluas 654 hektare untuk 317 KK dan Kabupaten Ogan Komering Ilir sebanyak satu SK Hutan Kemasyarakatan seluas 123 hektare untuk 26 KK, dan lima SK Hutan Tanaman Rakyat seluas 1.153 hektare untuk 631 KK.

Sebagai upaya penguatan pengembangan usaha dan peningkatan produktivitas areal perhutanan sosial di Sumatera Selatan, pemerintah juga memberikan bantuan berupa enam unit motor angkut hasil produk hutan sosial, empat unit alat pengupas kopi, serta bibit karet untuk tahun tanam 2019.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2zzvYfl
November 25, 2018 at 10:26PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2zzvYfl
via IFTTT
Share:

Thursday, November 22, 2018

Perbedaan Indikator Angle of Attack Jadi Awal Masalah JT 610

KNKT hari ini memaparkan hasil pembacaan black box Lion Air JT 610 kepada DPR.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi V DPR pada Kamis (22/11) memanggil Menteri Perhubungan, dan pemangku kepentingan terakit seperti  KNKT serta Basarnas. Dalam rapat itu, dibahas soal jatuhnya Lion Air JT 610.

Ketua Komisi V DPR Fary Djemi Francis mengungkapkan, DPR ingin mendengar beberapa penjelasan dari para mitra terkait musibah pesawat Lion Air maupun kecelakaan secara umum. Dari KNKT, Komisi V DPR mengharapkan data rekomendasi menyusul kecelakaan tragis Lion Air.

"Untuk itu maka kami minta ke pak menteri dan seluruh jajaran berkaitan dengan bagaimana upaya keseriusan kita dalam rangka menuju ke zero accident," ujar Fary.

Dalam rapat itu, keterangan dari pihak KNKT memang menjadi yang paling ditunggu. Berdasarkan pemaparan Kepala Sub Komite Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo, diketahui terjadi masalah dalam penunjuk kecepatan antara kapten pilot dan ko-pilot.

Masalah itu diketahui berdasarkan data grafik dari kotak hitam atau black box Flight Data Recorder (FDR) pesawat Lion Air JT-610 tujuan Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh 29 Oktober lalu. Nurcahyo mengatakan, saat pesawat Lion Air JT 610 mulai bergerak setelah lepas landas, terjadi perbedaan penunjukan kecepatan angle of attack (AoA) indikator milik kapten dan kopilot.

"Jadi pada saat pesawat mulai bergerak mulai terjadi perbedaan penunjukan kecepatan antara kapten dan kopilot. Angle of attack indikator sejak mulai dari pesawat bergerak sudah terlihat ada perbedaan antara kiri dan kanan di mana indikator yang kanan lebih tinggi daripada yang kiri," ujar Nurcahyo di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (22/11).

Menurut Nurcahyo, saat pesawat mulai bergerak dan penunjuk kecepatan tidak sama dalam kondisi pesawat mulai terbang, grafik dari FDR mencatat dan menunjukkan pesawat mengalami stall. Stall adalah keadaan pesawat yang kehilangan gaya angkat sehingga tidak sanggup lagi melayang di udara sehingga jatuh dari ketinggian dan tidak terkendali.

Pada saat itu, kemudian stick shaker bekerja membuat sisi kemudi kapten pilot bergetar untuk mengingatkan bahwa pesawat akan stall atau kehilangan daya angkat. "Saat menjelang terbang di sini tercatat bahwa ada garis merah di sini yang menunjukan pesawat mengalami stall atau stick shaker, jadi itu adalah kemudinya di sisi kapten mulai bergetar. ini adalah indikasi yg menunjukkan pesawat bahwa akan alami stall atau kehilangan daya angkat," kata Nurcahyo.

Nurcahyo melanjutkan, menurut grafik, saat itu pesawat tetap terbang, dengan sempat turun sedikit kemudian naik lagi. Saat itu, pesawat berada di ketinggian 5.000 kaki atau 1.524 meter.

Akibat pembacaan AoA yang kacau tersebut, membuat mekanisme stabilizer trim atau alat untuk menurunkan hidung pesawat itu secara otomatis bekerja. "Kemungkinan disebabkan angle of attack di tempatnya kapten yang berwarna merah ini menunjukkan 20 derajat lebih tinggi dan kemudian memacu terjadinya stick shaker mengindikasikan ke pilot bahwa pesawat akan stall kemudian automatic system atau MCAS menggerakkan pesawat untuk turun," ujar Nurcahyo.

Namun, pergerakan MCAS tersebut dilawan oleh pilot penerbangan berdasarkan parameter yang nampak dari grafik yakni trim down pesawat dilawan pilot dengan trim up pesawat.  Hal ini, kata Nurcahyo, dilakukan pilot hingga akhir penerbangan sebelum jatuh.

"Parameter yang tengah biru tengah ini menunjukkan berapa total trim yang terjadi, setelah trim down angkanya turun di lawan oleh pilotnya trim up, lalu kemudian kira-kira angkanya di angka lima sepertinya ini angka di mana beban kendala pilot nyaman di angka 5. Apabila angkanya makin kecil maka beban semakin berat," ujar Nurcahyo.

Namun demikian, ia mengatakan, tercatat dalam grafik, di akhir-akhir penerbangan, automatic trim terus bertambah. Namun trim yang dilawan pilot, durasinya makin pendek. "Akhirnya jumlah trim-nya makin lama mengecil dan beban di kemudi jadi berat kemudian pesawat turun," ujar Nurcahyo.

Namun Nurcahyo menyatakan, data grafik tidak menunjukkan adanya masalah dalam indikator masalah di penerbangan Lion Air JT-610. "Dari data mesin yang kita peroleh bahwa antara mesin kiri dalam hal ini parameter berwarna biru dan mesin kanan berwarna merah, hampir semua penunjuk mesin menunjukan angka yang konsisten. Jadi kami bisa simpulkan mesin tidak menjadi kendala dalam penerbangan ini," ujar dia.

Baca juga

CVR tetap dicari

Dalam rapat yang sama, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menegaskan, pihaknya masih terus mencari cockpit voice recorder (CVR) dari kotak hitam atau black box pesawat Lion Air JT-610. Soerjanto menyebut CVR yang berisi komunikasi di ruang kokpit penting untuk menunjang data-data penyelidikan kecelakaan pesawat tersebut.

"Komunikasi dan suara-suara yang terjadi di dalam cukup penting menunjang data-data yang kami dapatkan di FDR maupun wawancara atau data-data dari ATC, karenanya kami tetap berusaha menemukan CVR," ujar Soerjanto.

Sebab, ia menilai data CVR juga menyangkut kredibilitas negara untuk mencegah kecelakaan kembali terjadi. Ia mengungkap, KNKT menggunakan berbagai macam metode untuk menemukan CVR di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Salah satunya alat yang mendeteksi benda di bawah permukaan air.

"Selanjutnya tim KNKT melanjutkan pencarian CVR dengan beberpa metode dengan menggunakan air resolution sonar sub bottom profiling untuk deteksi benda apa saja yang terendam dalam lumpur," ungkapnya.

Soerjanto mengungkap pencairan juga tetap melibatkan penyelam profesional dan juga beberapa kamera bantuan. Namun, penyelam yang diterjunkan tidak dengan sistem scuba.

"Karena memang hal ini untuk kedalam di bawah 25 meter itu tidak disarankan. Dan kami akan gunakan penyelam-penyelam yang safety untuk lakukan penyelamatan di antara 25-35 meter," ujarnya.

Ia mengungkap, salah satu kendala pencairan CVR juga karena di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air dekat dengan area fasilitas anak usaha Pertamina di mana terdapat pipa dan kabel. Sehingga menurutnya, dibutuhkan kapal yang dapat berkemampuan dinamis tanpa merusak pipa dan kabel.

"Jadi enggak perlu buang jangkar. Karena khawatir arus permukaan cukup kuat di mana airnya kalau jangkarnya nanti merusak pipa dan kabel," ucapnya.

Pesawat Lion Air JT 610 tipe Boeing 737 Max 8 bernomor registrasi PK-LQP jatuh di perairan Tanjung Pakis, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada 29 Oktober 2018 setelah dilaporkan hilang kontak. Pesawat yang terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Banten) menuju Bandara Depati Amir Pangkalpinang (Bangka Belitung) itu membawa 189 orang, yang terdiri atas penumpang serta pilot dan awak pesawat.

[video] KNKT: Pesawat Diduga Pecah Ketika Menyentuh Air

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2DRAtp7
November 22, 2018 at 10:26PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2DRAtp7
via IFTTT
Share: