Showing posts with label 2018 at 12:07AM. Show all posts
Showing posts with label 2018 at 12:07AM. Show all posts

Thursday, December 20, 2018

Bawaslu Segera Tentukan Nasib Laporan OSO Soal KPU

Bawaslu akan memutuskan apakah laporan itu bisa masuk ke dalam pokok perkara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Ratna Dewi Pettalolo, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti laporan dari tim kuasa hukum Oesman Sapta Odang (OSO) soal KPU. Pada 26 Desember mendatang, Bawaslu akan memutuskan apakah laporan itu bisa masuk ke dalam pokok perkara.

"Kalau memenuhi syarat formal dan material maka akan masuk pada pokok perkara. Kalau tidak, maka tidak akan masuk," tegas Ratna.

Dia melanjutkan, laporan tersebut masuk ke Bawaslu pada Selasa (18/12). Tindaklanjut atas laporan ini, dilakukan hingga 25 Desember.

"Kemudian status awal laporan ini kami sampaikan tanggal 26 Desember sebab sehari sebelumnya merupakan libur nasional," ungkap Ratna.

Laporan pertama disampaikan atas nama Kuasa Hukum OSO, Dodi S Abdul Qadir.  Pelapor menilai surat KPU Nomor 1492 tanggal 8 Desember 2018, perihal permintaan pengunduran diri OSO sebagai pengurus Partai Politik bagi calon anggota DPD RI Pemilu tahun 2019, bertentangan dengan putusan MA RI nomor 65/P/U/2018 tanggal 25 Oktober 2018, dan putusan PTUN Jakarta nomor 242/G/SPPU/2018/PTUN Jakarta tanggal 14 November 2018.

Sementara, laporan kedua disampaikan oleh Kuasa Hukum OSO lainnya, Herman Kadir. Laporan ini terkait adanya dugaan pelanggaran pidana pemilu sebab KPU tidak melaksanakan putusan MA dan PTUN.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2ByCDX2
December 21, 2018 at 12:07AM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2ByCDX2
via IFTTT
Share:

Sunday, December 16, 2018

Polisi Pukuli Wartawan dalam Unjuk Rasa Kebebasan Pers

Polisi Nikaragua memukuli sedikitnya tujuh wartawan dengan tongkat

REPUBLIKA.CO.ID, MANAGUA - Polisi Nikaragua memukuli sedikitnya tujuh wartawan dengan tongkat, termasuk salah satu editor media massa paling terkenal di negara itu, Carlos Fernando Chamorro. Insiden tersebut terjadi dalam aksi protes wartawan terhadap Presiden Nikaragua Daniel Ortega terkait kebebasan pers, pada Sabtu (15/12).

Sebelumnya, di awal pekan ini polisi telah mengambil alih kantor Chamorro. Mereka juga merebut sejumlah bangunan yang digunakan oleh beberapa organisasi masyarakat sipil yang telah dilarang.

Dalam aksi unjuk rasa itu, para wartawan berkumpul di luar markas polisi di ibu kota Managua. Chamorro meminta polisi memberi informasi mengenai pengambilalihan kantornya secara ilegal, dan penyitaan alat-alat kerjanya.

Setelah menyampaikan permintaan itu, polisi anti-huru hara muncul dari dalam markas polisi dan mengayunkan tongkat mereka. Chamorro dan rekan-rekannya bersama sejumlah wartawan lain yang meliput unjuk rasa tersebut, terkena pukulan tongkat dan tendangan polisi.

Seorang saksi dari Reuters menghitung sedikitnya ada tujuh wartawan dari media internasional dan nasional, termasuk Chamorro, yang ditangkap dan ditendang oleh polisi. Polisi mengejar wartawan lainnya, dengan menyebut mereka 'komplotan kudeta' dan mengancam akan menyita ponsel serta peralatan mereka.

"Tiga petugas memukuli saya. Mereka menendang kaki saya dan mencoba menjatuhkan saya," kata Nestor Arce, seorang wartawan di mingguan Confidencial.

Sejak April lalu, Nikaragua tengah mengalami salah satu krisis terburuknya sejak perang saudara pada 1980-an. Aksi protes terjadi selama berbulan-bulan, sampai akhirnya pemerintah melakukan tindakan keras untuk mengekang mereka.

Menurut Pusat Hak Asasi Manusia Nikaragua, salah satu organisasi yang dilarang pemerintah, sedikitnya 322 orang telah tewas dan lebih dari 500 lainnya dijebloskan ke penjara selama periode itu.

Ana Maria Tello, yang bekerja di Inter-American Commission on Human Rights' (IACHR) di Nikaragua, menyatakan keprihatinannya atas pengekangan terhadap LSM, media independen, dan wartawan.

Pemerintahan Ortega tidak menanggapi permintaan untuk komentar tentang kekerasan yang dilakukan polisi terhadap wartawan. Ortega hanya menyebut aksi protes itu sebagai upaya kudeta.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2UPnv0v
December 17, 2018 at 12:07AM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2UPnv0v
via IFTTT
Share:

Sunday, November 25, 2018

Fahri Hamzah dan Fadli Zon Silaturahim di Hidayatullah

Keduanya sempat aktif di gerakan Hidayatullah

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Silaturrahim Nasional Hidayatullah 2018 tidak saja menghadirkan para tokoh bangsa dan pejabat negara, tetapi juga menghadirkan tokoh bangsa yang masa mudanya sempat aktif dan berkecimpung di dalam gerakan Hidayatullah, seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zone.

Dalam akun twitternya, Fadil Zon mencuit, “Area Balikpapan, silakan merapat. Nanti malam sy ngopi bareng bro @Fahrihamzah di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan. Kami sama-sama pernah jd jurnalis di Majalah Hidayatullah.”

Sementara itu, Fahri Hamzah mencuit, “Man teman di #Balikpapan, Ini ada acara mantul (mantap betul) ini saya Dan Om @fadlizon akan memeriahkan kota anda..”

Keduanya, baik Fahri maupun Fadli pernah menjadi jurnalis Majalah Suara Hidayatullah. Dan, dalam arena Silatnas Hidayatullah 2018, acara yang dipandu oleh wartawan senior Hidayatullah, Wisnu Pramudya, acara yang digelar di area terbuka tepat di halaman masjid Ar-Riyadh Pesantren Hidayatullah Induk Balikpapan, suasana kekeluargaan, keakraban begitu hangat terasa (24/11).

Rangkaian acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang menghadirkan dua Wakil Ketua DPR RI itu, yakni Fadli Zon dan Fahri Hamzah, berupa bincang santai tapi serius ditemani seduhan kopi, pisang rebus, singkong rebus dan jagung rebus.

Sebelum berbagi, Fahri melantunkan ayat-ayat suci Alquran, sedangkan Fadli Zon membacakan puisi. Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Suara Hidayatullah, Hamim Thohari, yang memulai obrolan, membeberkan secara singkat perjalanan karir Fahri yang pernah menjadi wartawannya.

Fahri pun mengamini, dan menyebut, pertama kali mengenal media ormas Hidayatullah itu saat sempat mengenyam pendidikan di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, sebelum hijrah ke Jakarta.

“Itulah kenapa saya cerewat di Twitter karena pernah diajari menulis oleh Pak Hamim,” tutur Fahri.

Demikian juga Fadil Zon. Keterlibatannya di Majalah Suara Hidayatullah dan Tabloid IQRA dikarenakan ajakan dari Dzikrullah, yang merupakan sohibnya sejak di bangku sekolah menengah atas di Jakarta.

“Wawancara pertama saya dengan Lukman Harun (seorang tokoh Muhammadiyah saat itu) untuk Tabloid IQRA,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Fahri dan Fadli bercerita banyak hal, di antaranya tentang kegiatan politik, masa perjodohan, hingga ide-ide mereka untuk bangsa ini. Obrolan itu diselingi dengan pembagian buku karya Fadil dan Fahri serta foto bersama.

Di pengujung acara, Hamim Thohari memberikan hadiah kepada Fahri, Fadli dan Wisnu Pramudya, berupa kain kafan. “Ini akan mengingkatkan kalian bahwa di akhir dari tujuan hidup ini dalah kematian,” kata Hamin, yang disusul dengan pelukan hangat dari ketiganya.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2DL85Eu
November 26, 2018 at 12:07AM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2DL85Eu
via IFTTT
Share: