Showing posts with label 2019 at 03:39PM. Show all posts
Showing posts with label 2019 at 03:39PM. Show all posts

Tuesday, May 28, 2019

Dishub Periksa Kelaikan Armada Mudik di Tasikmalaya

Dishub juga memastikan sopir bus dalam kondisi fisik yang prima.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Petugas gabungan dari Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan Kota Tasikmalaya, Dinas Kesehatan, serta Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tasikmalaya, melakukan pemeriksaan kelaikan armada dan sopir menjelang arus mudik Lebaran 2019, Selasa (28/5). Pemeriksaan itu dilakukan di dua tempat, pool bus Budiman dan Primajasa.

Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dishub Jabar Ali Nurdin mengatakan, seluruh armada dinyatakan laik jalan berdasarkan hasil pengecekan sementara. Namun, beberapa kendaraan ditemukan kurang lengkap dalam hal administrasi, seperti izin dalam proses perpanjangan atau tidak ada kelengkapan surat-surat.

"Secara teknis, pengecekan fisik sudah cukup baik," kata dia, Selasa (28/5).

Ia menjelaskan, pengecekan fisik yang dilakukan antara lain memeriksa kemudi kendaraan, rem, roda, wipper, dan lampu-lampu, harus dipastikan dalam kondisi baik. Kendaraan yang dinyatakan laik jalan akan mendapatkan stiker berlogo dishub di kaca bagian depan bus. Namun, jika ada kendaraan yang kedapatan bermasalah, Dishub tak akan membiarkan kendaraan itu untuk berangkat.

Menurut dia, Dishub Jabar akan terus berkeliling untuk melakukan pengecekan selama arus mudik dan arus balik Lebaran 2019. Namun, di setiap kabupaten/kota, pengecekan dilakukan secara rutin oleh petugas di wilayah masing-masing. 

Selain memeriksa kelaikan armada, petugas gabunga juga memeriksa kondisi kesehatan para sopir. Pemeriksaan yang dilakukan kepada para sopir berupa tes kesehatan dan narkoba.

"Jangan sampai mobil sehat, pengemudi tidak sehat," kata dia.

Kelapa Seksi Rehabilitasi BNN Kota Tasik Deni Haryanto mengatakan, setiap sopir yang bertugas diwajibkan melakukan tes urine. Hal itu dilakukan untuk mendeteksi adanya zat-zat berbahaya dalam tubuh sopir.

"Yang kita periksa kadar amphetamine, metamphetamine, benzodiazepine, kokain, THC atau ganja, dan ganja sintetis," kata dia.

Menurut dia, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara tak ada sopir yang kedapatan positif menggunakan narkotika. Namun, ada satu sopir yang dinyatakan positif benzodiazepine.

Ia mengatakan, sopir tersebut beralasan sedang mengonsumsi obat gula. Namun, pihaknya tak bisa memutuskan kelaikan dari sopir tersebut.

Deni menegaskan, pemeriksaan urine hanya dilakukan pada sopir yang bertugas selama musim mudik. Pasalnya, sopir memiliki tanggung jawab besar, membawa banyak penumpang yang ingin pulang ke kampung halaman.

"Kalau sopir positif narkoba dikhawatirkan ada kecelakaan," kata dia.

Selain menjalani tes urine, para sopir juga diwajibkan memeriksa tekanan darah, kadar gula, dan alkohol. Penanggung jawan tim Dinkes Kota Tasikmalaya dr Asep Sony mengatakan, dari 13 sopir yang diperiksa, ada satu orang yang belum direkomendasikan membawa bus. Pasalnya, sopir itu memiliki tekanan darah yang tinggi.

Karena itu, Asep belum menyetujui Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan. "Saya rekomendasikan beliau untuk berobat dulu, nanti kita cek lagi," kata dia.

Ia menjelaskan, menyetir dalam tekanan darah tinggi berpotensi membuat pengemudi mengalami stroke. Apalagi, pada saat arus mudik dan arus balik, tingkat kelelahan akan sangat tinggi. Jika diizinkan dengan mudah, lanjut dia, justru akan membahayakan nyawa para penumpangnya.

Kepala Penguji Kendaraan Dishub Kota Tasikmalaya Asep Hermawan mengatakan, pihaknya memastikan semua kendaraan memenuhi persyaratan teknis dan layak jalan. Ia memastikan, mulai kelayakan bannya, lampu-lampu, emisi gas buang baik, khususnya rem kendaraan, dipastikan baik.

Ia menegaskan, jika ada kendaraan yang ditemukan salah satu syarat itutidak terpenuhi, Dishub mewajibkan kendaraan diganti. "Kalau ada yang kurang, kendaraan tidak boleh berangkat," kata dia.

Ia mengakui, pada tahun sebelumnya Dishub pernah mendapati kendaraan yang tak layak jalan. Namun, kendaraan itu langsung tak diperbolehkan beroperasi hingga dilakukan perbaikan. Karena itu, saat ini pihaknya akan memeeriksa semua kendaraan di lapangan.

"Sementara di pool Budiman tak ada temuan yang negatif. Di tempat lainnya kita juga akan melakukan ramp chek," kata dia. 

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/30KK3T7
May 28, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/30KK3T7
via IFTTT
Share:

Saturday, May 25, 2019

Warga Antusias Pergi ke Jakarta Fair

Pekan Raya Jakarta ini telah dibuka sejak 22 Mei hingga 30 Juni

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aksi unjuk rasa dan kericuhan yang terjadi pada 22 Mei 2019 di beberapa titik lokasi di Jakarta tidak mempengaruhi antusias pengunjung untuk mendatangi acara Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau yang dikenal dengan sebutan Jakarta Fair 2019.

Berdasarkan pantauan, sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB, pengunjung di acara ini semakin banyak. Bahkan terlihat antrean yang cukup panjang di loket pembelian tiket serta pintu masuk PRJ. Para pengunjung tersebut datang bersama orang-orang terkasih, seperti dengan keluarga, teman, serta pasangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

"Ini pertama kali saya datang meskipun ada peristiwa 22 Mei kemarin yang cukup berpengaruh, tapi karena sudah aman jadi ya kita beranikan saja," kata Venty, seorang pengunjung yang datang bersama suami dan anaknya.

Hal serupa juga dikatakan oleh Ana, salah satu pengunjung acara PRJ yang datang dari Jakarta Selatan. Ia mengaku acara PRJ yang diadakan setahun sekali cukup membuat penasaran meskipun Kota Jakarta pada beberapa hari yang lalu sempat terjadi kericuhan.

"Berpengaruh sih tapi karena sekarang sudah aman jadi datangnya baru hari ini, harus datang karena banyak diskonnya," katanya.

Selain Venty dan Ana, Deswita yang juga merupakan salah satu pengunjung Jakarta Fair mengaku adanya diskon besar di PRJ serta situasi Jakarta yang telah kondusif membuatnya semakin bersemangat untuk mendatangi acara tersebut.

"Aksi itu paling berpengaruh ke akses yang jadi susah karena banyak jalan yang ditutup ya, lagian juga jaraknya jauh di Thamrin. Kebetulan ada diskon disini dan berdekatan dengan lebaran jadi datang saja," kata Venty.

Pekan Raya Jakarta ini telah dibuka sejak 22 Mei dan akan terus berlangsung selama 39 hari hingga 30 Juni 2019. Bahkan, pada saat hari raya Idul Fitri, PRJ akan tetap buka. Pada hari Senin harga tiket masuk ditetapkan sebesar Rp25.000, Selasa hingga Kamis Rp30.000, dan Jumat hingga Minggu Rp40.000.

Untuk jam operasional, pada hari Senin hingga Kamis buka pukul 15.30 sampai 22.00 WIB, pada hari Jumat pukul 15.30 hingga 23.00 WIB, dan khusus Sabtu dan Minggu dibuka sejak pukul 10.00 hingga 23.00 WIB.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2WmKV0J
May 25, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2WmKV0J
via IFTTT
Share:

Friday, May 24, 2019

Christo/Hsieh Tersingkir di Perempat Final Geneva Open

Christo selanjutnya akan ambil bagian pada turnamen Grand Slam Prancis Terbuka.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Pasangan gado-gado Christopher Rungkat (Indonesia) dengan Hsieh Cheng-Peng (Taiwan) tersisih pada perempat final turnamen Banque Eric Sturdza Geneva Open, Kamis (23/5) waktu setempat. Pasangan yang dua pekan lalu menjuarai dua turnamen berturut-turut di Busan dan Gwangju Open itu, kalah oleh unggulan pertama Oliver Marach (Austria) dan Mate Pavic (Kroasia), 6-7 (5), 3-6.

Dengan kekalahan tersebut, berakhir pula perjalanan Christo dan Hsieh pada turnamen ATP Tour di Jenewa, Swiss tersebut. Christo mengatakan, ia selanjutnya akan ambil bagian pada turnamen Grand Slam Prancis Terbuka di Roland Garros.

"Kami ikut ATP Tour Jeneva berharap dapat beberapa match sebelum Roland Garros," kata Christo dikutip tennisindonesia.com.

Christo, peraih medali emas ganda campuran Asian Games 2018 bersama Aldila Sutjiadi, akan kembali menjadi andalan Indonesia pada SEA Games di Filipina akhir tahun ini. Petenis yang sekarang lebih fokus di nomor ganda itu diharapkan memperkuat tim Indonesia di nomor ganda putra dan campuran.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/30C9HJD
May 24, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/30C9HJD
via IFTTT
Share:

Thursday, May 23, 2019

BI: Transaksi Perbankan Naik Meski Ada Aksi 22 Mei

BI menyebut kondisi industri perbankan berjalan normal saat aksi 22 Mei.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia menyebutkan demonstrasi terkait Pemilu pada 22 Mei 2019 yang diwarnai kericuhan tidak mengganggu kegiatan sistem pembayaran industri perbankan secara signifikan. Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, transaksi untuk transfer dana justru meningkat.

Perry mengatakan kondisi industri perbankan pada puncak aksi 22 Mei 2019 dikategorikan berjalan normal. Meski demikian, BI dan anggota lainnya di Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sangat menyayangkan terjadi kericuhan seusai aksi demonstrasi.

"Dari kemarin (Rabu, 22/5) perbankan berjalan normal. Apalagi hari ini. Hari ini sudah ada 13 bank yang mengambil penarikan dari BI untuk kebutuhan transaksi," kata Perry  di Jakarta, Kamis (23/5).

Pada 22 Mei 2019, Perry merinci, transfer melalui sistem pembayaran di perbankan juga kondusif dengan volume yang lebih tinggi dibanding hari-hari reguler. Misalnya, kata Perry, transfer melalui layanan Real-Time Gross Settlement (RTGS) mencapai Rp 577 triliun atau meningkat sekitar 10 persen dari transfer di hari biasa yang sebesar Rp 524 triliun.

Sementara itu, transfer melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) sebesar Rp 14 triliun dengan volume 696 ribu pada 22 Mei 2019.

"Jadi penyelenggaraan transaksi ekonomi untuk penyelesaian transaksi mengenai sistem pembayaran kliring di SKNBI maupun kliring besar (RTGS) itu berjalan normal," ujar dia.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan memang beberapa kantor cabang bank di lokasi demonstrasi seperti di Jalan MH Thamrin dan Jalan Wahid Hasyim Jakarta Pusat tutup saat aksi demonstrasi. Namun hal itu tidak signifikan mengganggu aktivitas transaksi perbankan secara nasional.

"Sekarang ini kan zamannya transaksi elektronik. Jadi sekarang fisik kantornya tidak begitu penting. Kegiatan perbankan bisa dilakukan melalui layanan digital. Jadi tidak terlalu terpengaruh kemarin," ujar dia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah meyakini aparat keamanan dari Polri dan TNI mampu memulihkan kondisi keamanan secara cepat sehingga tidak memberikan dampak terhadap kegiatan perekonomian.

Dunia usaha, kata Sri Mulyani, juga memberikan kepercayaan yang tinggi kepada pemerintah agar dapat menangani dinamika politik.

"Maka itu, kami berharap tidak ada disrupsi terhadap momentum pertumbuhan ekonomi dari situasi yang sekarang terjadi," kata Sri Mulyani.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2JX5muB
May 23, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2JX5muB
via IFTTT
Share:

Tuesday, May 21, 2019

Peraih Emas Olimpiade 2020 Dijanjikan Bonus Rp 7,5 Miliar

Imam menyinggung hadiah pemenang Asian Games yang mencapai Rp 1,5 miliar.

REPUBLIKA.CO.ID, SAMARINDA -- Pemerintah menjanjikan bonus selangit untuk peraih emas Olimpiade 2020 Jepang. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Imam Nahrawi mengungkapkan hal itu saat menyambangi Sekolah Khusus Olahragawan Internasional (SKOI), Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), Selasa (21/5) siang WITA.

Imam menyinggung kebijakan pihaknya saat memberikan hadiah untuk pemenang Asian Games 2018. Jumlahnya Rp 1,5 miliar untuk pemilik medali emas.

"Jadi untuk yang olimpiade, bonusnya enam kali lipat dari Asian Games. Untuk yang meraih emas olimpiade minimal dapat Rp 7,5 miliar," kata Imam.

Pertanyaan Imam untuk memotivasi para pelajar di SKOI tersebut. Ia berharap segenap calon atlet itu bisa belajar dan berlatih secara maksimal. "Itu bentuk penghormatan negara kepada pahlawan olahraga," ujarnya.

Imam berharap suatu saat lulusan SKOI Kaltim bisa mewakili merah putih di pentas internasional. Sehingga, bisa menghadirkan kebanggan bagi masyarakat lokal dan Indonesia secara keseluruhan.

Pada kesempatan serupa, Imam meminta kesediaan pengusaha atau sponsor berkolaborasi dengan pemerintah. Kolaborasi ini terkait dukungan pendanaan bagi tempat belajar dan atlet dalam konteks individu.

"Kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi, dunia usaha, dan sponsor. Mereka bisa mensponsori para atlet yang akan berangkat ke luar negeri, memenuhi kebutuhan sehari-hari atlet tersebut, nutrisi, dan gizi," ujar pejabat negara berusia 46 tahun ini.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2VP6WWx
May 21, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2VP6WWx
via IFTTT
Share:

Tuesday, May 14, 2019

Ini Jadwal Lengkap Liga 1 Pekan Pertama

Liga 1 akan mulai bergulir pada Rabu (15/5) besok.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Liga 1 Musim 2019 akan mulai bergulir pada Rabu (15/5) besok. Selama bulan Ramadhan sekitar tiga pekan ini, sepak mula Liga 1 akan selalu dimulai pukul 20.30 WIB.

Pertandingan antara PSS Sleman vs Arema FC menjadi pembuka Liga 1. Setiap harinya, terdapat satu hingga tiga pertandingan dalam waktu yang bersamaan. Kemudian, Liga 1 2019 akan diliburkan selama dua pekan mulai tanggal 1-13 Juni 2019 karena bertepatan dengan hari raya Idulfitri. Kompetisi kembali berjalan pada 14 Juni 2019 dengan laga pembuka antara Badak Lampung FC melawan PSIS Semarang.

Berikut jadwal lengkap Liga 1 pekan pertama:

Rabu, 15 Mei 2019, Pukul 20.30 WIB:

PSS Sleman VS Arema FC

Kamis, 16 Mei 2019, Pukul 20.30 WIB:

PSIS Semarang VS Kalteng Putra

Bali United  VS Persebaya

Borneo FC VS Bhayangkara FC

Jumat, 17 Mei 2019, pukul 20:30 WIB:

Persela Lamongan VS Madura United

PS TIRA Persikabo VS Perseru Badak Lampung FC

Persib Bandung VS Persipura Jayapura

PSM Makassar VS Semen Padang

PS Barito Putera VS Persija Jakarta

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2W0cj4A
May 14, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2W0cj4A
via IFTTT
Share:

Polisi Diminta Hati-Hati Gunakan Pasal Makar

Istilah makar dinilai tidak tepat karena bertentangan dengan substansi hukum.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) meminta polisi berhati-hati dalam menggunakan istilah makar. YLBHI menganggap penggunaan istilah makar tidak tepat karena bertentangan dengan substansi hukum.

Ketua Umum YLBHI, Asfinawati mengatakan terdapat sebelas tanda negara hukum Indonesia tengah terancam oleh kebijakan pemerintah. Salah satu tandanya ialah pengenaan pasal makar terhadap lawan pemerintah alias oposisi.

"Penggunaan pasal makar oleh kepolisian secara sembarangan jadi salah satu poin pemerintah (berperilaku) membahayakan demokrasi," katanya dalam konferensi pers di kantor YLBHI pada Selasa, (14/5).

Ia menjelaskan pasal 104 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang diterjemahkan sebagai makar dalam bahasa Belanda tertulis aanslag. Ia mengingatkan kata itu bermakna serangan yang berarti ditujukan pada kepala negara. "Artinya apabila tidak ada serangan atau percobaan serangan maka belum dapat dikatakan makar," ujarnya.

YLBHI menyayangkan penggunaan pasal makar yang dianggap tidak tepat. Ia menangkap pertanda bahwa seolah tiap lawan pemerintah mesti diganjar dengan pasal makar. Padahal menurutnya, pihak yang dianggap melawan pemerintah hanya mengutarakan kritik terhadap pemerintah.

"Tercatat kepolisian mengenakan pasal ini untuk aksi demonstrasi terkait Papua, eks Gerakan Fajar Nusantara dan lawan politik pemerintah," ucapnya.

YLBHI menilai penggunaan pasal makar sebenarnya bertolak belakang dengan demokrasi dan substansi hukum. Asfinawati memandang semua warga negara mestinya ditindak berdasarkan pelanggaran hukum yang dilakukan.

"Kalau ada pelanggaran hukum ya pakai pelanggaran hukum yang ada. Kalau tidak ada ya dibebaskan tapi jangan sampai menggunakan pasal makar sembarangan," tuturnya.

Diketahui, saat ini pengacara kondang sekaligus pendukung Prabowo, Eggi Sudjana tengah berhadapan dengan hukum. Eggi disangkakan dengan pasal makar. 

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2LFVjws
May 14, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2LFVjws
via IFTTT
Share:

Thursday, May 9, 2019

Kontroversi Hukuman Mati Bagi Homoseksual di Brunei

Brunei memperpanjang moratorium hukuman mati bagi homoseksual.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUNEI -- Pemerintah Brunei Darussalam tampaknya mundur dari rencana menerapkan undang-undang baru yang menjadikannya sebagai negara pertama di Asia Timur yang menghukum mati homoseksual. Tapi, kenyataannya lebih kompleks.

Pada April lalu, negara kecil di Asia Tenggara tersebut meluncurkan fase terakhir dari Perintah Hukum Pidana Syariah (SPCO) yang kontroversial. Aturan itu merupakan sebuah interpretasi ketat soal hukum Islam atau syariah, dengan menganjar pelaku sodomi, perzinahan, dan pemerkosaan dengan hukuman mati dalam bentuk rajam.

Tetapi setelah kampanye yang digencarkan oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia, beserta pemerintah negara Barat dan sejumlah selebritas, Sultan Hassanal Bolkiah, yang juga Perdana Menteri negara itu, secara mengejutkan mengumumkan pada pemerintahannya akan memperpanjang moratorium hukuman mati menjadi pelanggaran berdasarkan undang-undang hukum pidana yang baru.

"Saya menyadari bahwa ada banyak pertanyaan dan kesalahan persepsi terkait dengan implementasi SPCO. Namun, kami percaya bahwa setelah ini diselesaikan, manfaat hukum akan jelas," katanya dalam pidato untuk menandai dimulainya bulan suci Ramadan.

"Sebagai bukti selama lebih dari dua dekade, kami telah mempraktekkan moratorium de facto atas eksekusi hukuman mati untuk kasus-kasus berdasarkan hukum biasa. Ini juga akan diterapkan pada kasus-kasus di bawah SPCO yang memberikan ruang lingkup yang lebih luas untuk pengurangan."

Meskipun mempertahankan hukuman mati dalam aturan hukum, Brunei tidak melakukan eksekusi selama beberapa dekade.

Di saat undang-undang anti-gay yang keras tetap ada, pengamat telah berjuang untuk membongkar apa yang mungkin mendorong klarifikasi yang tiba-tiba dan sangat umum. Berikut ini beberapa kemungkinannya.

Brunei bertindak sebelum peninjauan PBB

Pengumuman Sultan muncul sebelum tampilnya Brunei di hadapan Peninjauan Umum Periodik di Dewan Hak Asasi Manusia PBB, hari Jumat ini, di mana negara-negara anggota memeriksa catatan hak asasi manusia suatu negara selama empat tahun terakhir.

Empat hari setelah SPCO diperkenalkan, Menteri Luar Negeri Brunei Erywan Pehin Yusof menulis surat ke Kantor Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) untuk membela kebijakan tersebut, mengklaim bahwa hukum pidana syariah "lebih fokus pada pencegahan daripada hukuman".

"Tujuannya adalah untuk mendidik, mencegah, merehabilitasi, dan memelihara daripada menghukum," bunyi suratnya.

"Ini berusaha untuk mencapai keseimbangan yang tepat antara melindungi hak-hak orang yang dituduh dan hak-hak para korban dan keluarga mereka."

Sejumlah negara, termasuk Australia, telah mengajukan keprihatinan dengan Brunei atas penerapan hukum pidana, yang juga dikecam oleh Komisioner HAM PBB Michelle Bachelet dengan menyebutnya sebagai "kejam".

Brunei, yang sampai sekarang membela undang-undang baru ini, kemungkinan akan menghadapi teguran pada tinjauan PBB hari Jumat.

Menurut Paula Gerber, direktur Pusat Hukum Hak Asasi Manusia Castan, "Sultan sepertinya terlihat mengatakan 'kami sudah berubah pikiran tentang ini, kami sekarang tidak akan menerapkan hukuman mati '. "

"Tapi kita seharusnya tidak bertepuk tangan dan bersorak, karena dia belum mencabut hukuman itu," katanya kepada ABC.    

"Masih merupakan kejahatan untuk menjadi gay di Brunei, masih merupakan kejahatan untuk melakukan perzinahan, untuk melakukan aborsi."

Adakah kekuatan selebritas atau kepentingan ekonomi?

Selebritas terkemuka termasuk George Clooney, Elton John, dan Ellen DeGeneres telah memimpin boikot terhadap sebuah grup hotel mewah yang dimiliki oleh Brunei Investment Company, termasuk Beverly Hills Hotel California dan The Dorchester di London.

"Suara kita lebih keras dari yang kamu kira," tweet DeGeneres setelah pengumuman Sultan pada hari Minggu.    

"Jaga agar tetap nyaring".

Boikot serupa dijalankan pada 2014, ketika Brunei pertama kali mengumumkan peluncuran undang-undang tersebut. Tapi di saat selebritas memuji keberhasilan tekanan baru-baru ini, pada akhirnya ada kekhawatiran soal menghalangi investasi asing yang mendorong langkah Brunei.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Brunei telah berupaya mendiversifikasi ekonominya yang bergantung pada minyak dan menarik investasi asing yang lebih besar dalam upaya memperkuat negaranya di masa depan jika minyak habis.

Namun demikian, menurut Economist Intelligence Unit, upaya-upaya ini hanya akan menikmati "keberhasilan terbatas" dan sektor energi akan "terus mendominasi ekonomi", dengan ramalan PDB riil Brunei akan tumbuh hanya 1,4 persen pada 2019-2020.

Brunei telah berusaha untuk meningkatkan pariwisata, tetapi dengan STA Travel berhenti untuk menjual tiket dan mitra Royal Brunei Airlines lainnya di bawah tekanan untuk memutuskan hubungan, rencana tersebut berisiko. London juga menghapus iklan yang mempromosikan Brunei sebagai tujuan wisata dari jaringan transportasi umum kota.

Aturan anti-gay akan tetap berlaku

Meski hukuman mati tidak diterapkan, pria yang berhubungan seks dengan pria lain masih bisa dihukum hingga 100 cambukan atau hukuman penjara yang lama di Brunei. Sementara itu, lesbi bisa terancam pencambukan hingga 40 kali dan dipenjara selama 10 tahun.

Hukuman serupa tetap berlaku untuk perzinahan dan pemerkosaan, sementara perempuan juga bisa dibui karena melahirkan saat belum menikah, atau melakukan aborsi.

Menurut Amnesty International, eksekusi yang diketahui terakhir di Brunei adalah pada 1957 tetapi setidaknya satu orang dijatuhi hukuman mati pada 2017 karena pelanggaran narkoba.

Kerstin Steiner, associate professor dan pejabat kepala sekolah hukum Universitas La Trobe, mengatakan moratorium Brunei mengenai hukuman mati dapat dibatalkan kapan saja.    

"Masalah moratorium adalah hukuman itu bisa dijalankan kembali. Karena Sultan adalah raja absolut, maka prosesnya akan sangat, sangat mudah," kata Dr Steiner.

Kantor Perdana Menteri Brunei tidak menanggapi saat dimintai komentar.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2WCGwnq
May 09, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2WCGwnq
via IFTTT
Share:

Wednesday, May 8, 2019

Ini Sikap Pemuda Muhammadiyah Atas Kasus Bachtiar Nasir

Pemuda Muhammadiyah meminta Polri untuk lebih memperhatikan keadilan rakyat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polisi telah menetapkan Ustaz Bahctiar Nasir sebagai tersangka kasus pencucian uang. Namun penetapan Bachtiar Nasir di tengah suhu politik yang memanas ini memicu  beragam spekulasi.

"Tidak bisa dinafikan bahwa UBN adalah salah satu tokoh penggerak aksi 212 yang belakangan mendukung salah satu paslon presiden," kata Ketua Umum Pimpinan  Pusat Pemuda Muhammadiyah Sunanto melalui keterangan tertulis yang telah dikonfirmasi Republika.co.id, Rabu (8/5).

Karena itu, menurut Pemuda Muhammadiyah, siapapun yang melihat perkara tersebut akan menduga kuat bahwa perkara ini lebih kental urusan politiknya daripada penegakan hukum.

Ia berpendapat, Polri harus melihat bahwa hukum tidak selamanya harus dilihat dari perspektif kepastian hukum. Tetapi juga perspektif keadilan hukum yang dirasakan oleh masyarakat.

UBN, kata ia, telah memberikan klarifikasi bahwa rekening YKUS hanya dipinjam untuk pendanaan aksi umat dan telah disalurkan kepada yang seharusnya.  Sama sekali tidak terdapat niat dari yang bersangkutan untuk melakukan penipuan, penggelapan dan pencucian uang sebagaimana yang disangkakan.

"Oleh karena itu Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah menyatakan sikap, pertama, meminta kepada Polri untuk lebih memperhatikan perspektif rasa keadilan masyarakat dibanding pertimbangan lainnya dalam proses pemeriksaan terhadap UBN," ujarnya.

Kedua, ia menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tetap menjaga ketertiban dan mengutamakan komunikasi dalam menghadapi perkara yang sedang dihadapi oleh UBN.

Ketiga, Pemuda Muhammadiyah menyatakan siap mendukung dan mengawal UBN dalam menghadapi perkara itu. Serta siap memfasilitasi pengacara-pengacara terbaik dari kader Pemuda Muhammadiyah untuk mengawal kasus UBN.

"Ikuti proses hukum," ujarnya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2PPeJgG
May 08, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2PPeJgG
via IFTTT
Share:

Pelindo III Tambah Kuota Mudik Gratis

Pelindo III menyediakan kuota 30 ribu mudik gratis.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Pelindo III menambah kuota mudik gratis yang disiapkan untuk para pemudik hari raya Idul Fitri 1440 H. Semula, BUMN operator pelabuhan tersebut hanya menyiapkan 17.500 tiket kapal laut dan bus gratis dalam Program Mudik Bareng 2019.

Melihat tingginya animo pemudik yang mendaftar, Pelindo III pun menambah kuota tiket bus gratis secara bertahap, sesuai penambahan kebutuhan yang terdata di lapangan. "Jadi perkiraan jumlah total kuota Program Mudik Bareng 2019 yang disediakan Pelindo III dapat mencapai sekitar 30 ribu tiket,” kata Direktur Utama Pelindo III Doso Agung di Surabaya, Rabu (8/5).

Doso memaparkan, kuota mudik gratis yang disediakan Pelindo III terus meningkat setiap tahunnya. Tahun 2017 hanya memberangkatkan sekitar 6 ribu orang. Kemudian meningkat di tahun berikutnya menjadi sekitar 14 ribu. Tahun ini, disediakan 30 ribu tiket kapal laut dan bus gratis.

“Dengar berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Pelindo III akan bersinergi BUMN dengan PT Damri dan operator bus swasta lainnya untuk menambah tiket bus gratis keberangkatan dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang,” ujar Doso.

Doso menjelaskan, dari total 30 ribu tiket yang disediakan, terdiri dari 2 ribu tiket kapal laut yang dilayani oleh kapal-kapal Pelni, dan 28 ribu tiket bus. Bus yang digunakan nantinya bus milik Damri dari pelabuhan ke berbagai kota tujuan mudik di Pulau Jawa.

Doso melanjutkan, tiket gratis yang disediakan untuk 5 rute kapal penyeberangan dari Kalimantan ke Jawa. Yakni dari Kumai–Tanjung Perak, Kumai–Tanjung Emas, Sampit–Tanjung Perak, Sampit–Tanjung Emas, dan Batulicin–Tanjung Perak.

"Semua dilayani oleh kapal milik Pelni, yaitu KM Kelimutu, KM Leuser, KM Binaiya, dan KM Egon. Pada masing-masing rute kapal laut tersebut tersedia 200-300 tiket gratis untuk sekali keberangkatan, dimulai H-6 Lebaran," ujar Doso.

Doso melanjutkan, begitu pemudik kapal laut tiba di pelabuhan, bisa langsung melanjutkan naik bus gratis yang telah disediakan. Di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya tersedia untuk 5 jurusan, yakni ke Cepu, Madiun, Trenggalek, Blitar, dan Jember. Sedangkan di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, disediakan bus dengan tujuan ke Tegal, Wonosobo, Temanggung, Purworejo, Yogyakarta, Solo, dan Purwodadi.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2LJ9ml5
May 08, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2LJ9ml5
via IFTTT
Share:

Tuesday, May 7, 2019

KD Komentari Peluang Besarnya Dapat Kursi di DPR

KD mencalonkan diri sebagai anggota DPR lewat PDIP

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Penyanyi Krisdayanti (KD) memiliki peluang besar mendapatkan kursi di DPR RI. Hal ini berdasarkan perolehan suara terbesarnya di Daerah Pemilihan (Dapil) Malang Raya seperti Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang.

Pelantun Cobalah untuk Setia ini sebelumnya mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI dari PDIP. Percobaan pertamanya masuk ke dunia legislatif ini ternyata membuahkan hasil suara cukup besar. Dia mampu mengumpulkan 128.494 suara di tiga wilayah Malang Raya.

Berkat hasil suara ini, KD mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan. Dia berusaha tidak akan mengkhianati amanah yang sudah diberikan warga Malang Raya. Ia juga berjanji akan menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat sebaik mungkin.

"Jangan mengecewakan konstituen di dapil dan tim yang sudah berjuang dengan relawan hebat," kata KD melalui pesan singkat kepada wartawan baru-baru ini.

Tak hanya KD, tiga calon dari PDIP juga dilaporkan akan menduduki jabatan kembali di DPR RI. Mereka antara lain Ahmad Basarah, Andreas Eddy Susetyo dan Sakkan Tampubolon. Selain itu, kader Gerindra, Moreno Soeprapto juga diinformasikan lolos. Selanjutnya, adapula Latifah Shohib (PKB), Ridwan Hisjam (Golkar), dan Kresna Dewanata Phrosakh (NasDem).

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2Y58JTY
May 07, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2Y58JTY
via IFTTT
Share:

Friday, May 3, 2019

Pramono Anung: Ijtima Ulama III Berlebihan

Pramono menegaskan demokrasi Indonesia sudah memiliki instrumen yang jelas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Kabinet Pramono Anung berpendapat hasil rekomendasi yang digelar oleh Ijtima Ulama dan tokoh nasional III sangat berlebihan. Salah satu hasil rekomendasi dari Ijtima Ulama tersebut yakni mendesak Bawaslu dan KPU untuk memutuskan membatalkan, atau mendiskualifikasi paslon capres-cawapres 01.  "Ya itu terlalu berlebihan," kata Pramono di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Jumat (3/5).

Pramono berpendapat, demokrasi di Indonesia memiliki instrumen yang sudah jelas. Di dalam penyelenggaraan pemilu maka instrumennya harus berdasarkan undang-undang pemilu.

Lebih lanjut, Pramono yakin ketegangan pascapemilu ini akan mereda setelah KPU resmi mengumumkan hasil perhitungan suara. Ia juga yakin semua pihak akan menghormati keputusan yang sah yang dilakukan oleh KPU.  "Pengalaman yang ada, kita itu selalu penuh dengan dinamika dan ketegangan sebelum ada keputusan," ujarnya.

Dalam Ijtima Ulama III ini diputuskan lima rekomendasi. Pertama, Ijtima Ulama menyimpulkan terjadi kecurangan dan kejahatan bersifat terstruktur, sistematis, dan masif dalam proses penyelenggaraan pemilu 2019.

Kedua, mendorong dan meminta BPN Prabowo-Sandiaga untuk mengajukan keberatan melalui mekanisme legal, prosedural tentang terjadinya berbagai kecurangan dan kejahatan, terstruktur sistematis dan masif dalam proses pilpres 2019.

Ketiga, mendesak Bawaslu dan KPU untuk memutuskan membatalkan, atau mendiskualifikasi paslon capres-cawapres 01. Keempat, mengajak umat dan seluruh anak bangsa untuk mengawal dan mendampingi perjuangan penegakan hukum secara syar'i dan legal konstitusional dalam melawan kecurangan kejahatan serta ketidakadilan termasuk perjuangan pembatalan paslon capres cawapres 01 yang ikut melakukan kecurangan dan kejahatan dalam pilpres 2019.

Kelima, Ijtima Ulama memutuskan melawan kecurangan kejahatan serta ketidakadilan adalah bentuk amal ma'ruf nahi munkar, konstitusional dan sah secara hukum dengan menjaga NKRI dan kedaulatan rakyat.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2GW5O97
May 03, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2GW5O97
via IFTTT
Share:

Tuesday, April 30, 2019

In Picture: Zikir Akbar Sambut Ramadan 1440 Hijriah

REPUBLIKA.CO.ID, ACEH BARAT -- Sejumlah pelajar mengikuti zikir akbar di Masjid Agung Baitul Makmur Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Selasa (30/4/2019).

Zikir akbar yang diikuti ratusan pelajar dan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten setempat bertujuan untuk membersihkan hati dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1440 Hijriah.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2GKi6S3
April 30, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2GKi6S3
via IFTTT
Share:

Tuesday, April 23, 2019

Komaruddin Hidayat: Pemilu Sebaiknya Terpisah

Beban penyelenggaraan berat dan persaingan ketat memengaruhi suasana pemilihan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cendekiawan muslim, Prof Dr Komaruddin Hidayat, mengatakan, Pemilu presiden dan Pemilu legislatif hendaknya diselenggarakan secara terpisah. Sebab, beban penyelenggaraan yang berat dan persaingan yang ketat, yang dapat mempengaruhi suasana pemilihan calon pemimpin.

Komaruddin mengatakan beban berat pemilu, di mana dalam satu hari ada lima kertas surat suara yang harus dicoblos dan persaingan ketat antarkandidat, membuat beban penyelenggara menjadi berat. "Ke depan agar dipertimbangkan dipisah antara Pilpres dan Pileg," kata Komaruddin, di Jakarta, Selasa (23/4).

Persoalan lainnya, yakni pembatasan waktu dan distribusi barang logistik yang jauh. "Jadi secara fisik dan mental berat sekali, oleh karena itu wajar kalau mereka itu pada stres, karena beban KPU yang memang berat," katanya.

Komaruddin mengatakan, fenomena 91 petugas KPPS yang meninggal dunia dan ratusan yang jatuh sakit itu karena ada hal yang kurang diprediksi oleh penyelenggara Pemilu. Selain menyarankan pemilu tidak digelar serentak, ia juga mengusulkan, adanya alokasi bantuan kesehatan bagi petugas KPPS yang sakit dan meninggal.

Ia mengatakan dana tersebut bisa dianggarkan dalam APBN atau partisipasi masyarakat serta bantuan rumah sakit yang menawarkan layanan kesehatan di daerah-daerah. Selain itu, dia menuturkan santunan bagi petugas yang meninggal juga bisa diperoleh dari dana tanggung jawab sosial BUMN atau APBN untuk diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Ke depan, dia menuturkan banyak hal yang harus ditinjau ulang untuk pelaksanaan pemilu di masa mendatang termasuk UU Pemilu untuk mempermudah masyarakat dalam memilih pemimpin.

Pemilu 2019 ini diselenggarakan serentak dan jumlah pemilih mencapai lebih dari 180 juta dengan lebih dari 811.00 TPS. Pada Pemilu 2019 dengan biaya lebih dari Rp 24 triliun ini, setidanya 91 petugas KPPS dan 15 polisi meninggal dunia dalam tugas mengawal Pemilu.

Selain mereka, ada juga yang sampai keguguran kandungan, depresi berat, bunuh diri ataupun mencoba bunuh diri. Selain itu, ratusan petugas KPPS yang sakit dan harus dirawat serius di rumah sakit.

Ketua KPU Arief Budiman mengatakan, hingga Senin malam (22/4), jumlah petugas KPPS yang meninggal sebanyak 91 orang tersebar di 19 provinsi, dan 374 petugas yang jatuh sakit.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2UtrT3P
April 23, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2UtrT3P
via IFTTT
Share:

Pogba: Dua Musim tanpa Gelar Kurang Bagus untuk MU

Target realistis MU kini hanya bersaing memperebutkan tiket Liga Champions.

REPUBLIKA.CO.ID, MANCHESTER -- Manchester United (MU) mengalami pasang surut. Tim raksasa Inggris itu mengalami salah satu periode suram dalam sejarah klub.

Pada musim lalu, armada Iblis Merah mengakhiri kompetisi tanpa gelar. Situasi demikian bakal terulang lagi.

Gelandang United, Paul Pogba, kecewa melihat situasi ini. Ia merasa tim seperti MU seharusnya lebih baik dari apa yang terjadi.

"Kami adalah Manchester United, kami bermain untuk memenangkan trofi. Dua musim beruntun tanpa gelar kurang bagus untuk klub ini," kata penggawa tim nasional Prancis, dikutip dari London Evening Standard, Selasa (23/4).

Situasi United sempat membaik sejak Ole Gunnar Solskjaer menjadi pelatih. Solskjaer menggantikan Jose Mourinho pada Desember 2018.

Kini, salah satu legenda hidup Old Trafford itu mulai menghadapi kesulitan. Skuat Iblis Merah mengalami enam kekalahan dalam delapan pertandingan terakhir di berbagai kompetisi.

Itu membuat target realistis MU hanya bersaing memperebutkan tiket Liga Champions. Saat ini, Pogba dan rekan-rekan berada peringkat keenam klasemen sementara Liga Primer Inggris.

Dengan mengantongi 64 poin, United tertinggal tiga poin dari Chelsea di tangga keempat. Kompetisi menyisakan empat pertandingan lagi.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2ZkmsHY
April 23, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2ZkmsHY
via IFTTT
Share:

Artika Sari Devi Pentingkan Komunikasi Intens dengan Anak

Artika memiliki rutinitas menemani anak dan mengobrol sebelum tidur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komunikasi dalam segala bentuk hubungan perlu dibangun dengan baik, termasuk dengan anak. Artika Sari Devi selalu mencoba berkomunikasi dengan anak dalam setiap kesempatan dengan penuh perhatian untuk membangun kelekatan.

Cara untuk berkomunikasi dengan anak yang diterapkan keluarga Artika adalah menerapkan kebiasaan bercerita setiap akan tidur. Sudah menjadi peraturan wajib bagi pasangan Ibrahim Imran ini untuk menemani anak ketika akan tidur.

"Ada satu agenda yang tidak bisa dilewatkan yaitu dengan menemani tidur, ini gantian sama suami, kita nyanyi-nyanyi bersama, terus review kegiatan sehari-hari," kata ibu dua anak ini.

Artika menceritakan, anak-anaknya didorong terbuka ketika menceritakan segala hal yang terjadi dalam keseharian mereka, termasuk pandangan terhadap orang tuanya. Saat anak-anak menilai Artika dan Baim, maka mereka pun harus mendengarkan dan memahami dari sudut pandang anak.

"Kayak mama bagaimana akhir-akhir ini? Mereka jawab kaya mama lebih sibuk dan jarang senyum, lebih banyak melotot. Saya harus berbesar hari dan menerima," ujarnya.

Di samping itu, keluarga itu pun akan membahas rencana kegiatan yang akan dilakukan pada hari esok. Dengan begitu, setiap anggota keluarga akan sama-sama tahu kegiatan yang dilakukan, termasuk anak akan mencoba memahami kegiatan orang tuanya.

Mantan Puteri Indonesia ini pun mengatakan, keterbukaan antara orang tua dan anak memang sangat diperlukan. Dari keterbukaan ini akan muncul pengertian sesama anggota keluarga dan menumbuhkan kelekatan satu sama lain.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2UB8xtn
April 23, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2UB8xtn
via IFTTT
Share:

Sunday, April 7, 2019

Gus Solah Ajak Kiai Pendukung 01 dan 02 Rekatkan Hubungan

Ponpes Tebuireng mencoba merekatkan kembali hubungan yang merenggang tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Salahuddin Wahid (Gus Solah), mengajak sejumlah ulama, kyai dan cendekiawan merekatkan kembali hubungan di Halaqah Kebangsaan di Jombang, Ahad (7/4). Ajakan ini utamanya ditunjukkan kepada mereka yang terbagi ke dalam pendukung calon presiden (capres) 01 dan 02.

Untuk merekatkan hubungan kedua kiai yang terpecah pada pemilihan presiden (pilpres) 2019, Ponpes Tebuireng melebur dalam kegiatan Halaqah Kebangsaan, Ahad (7/4). Tujuan acara ini untuk mengingatkan semua jamaah menjadi kelompok netral atau 00.

Menurut pria yang disapa Gus Solah ini, kegiatan ini pada dasarnya berasal dari gagasan Kiai Mahfudz Sobari dari Mojokerto. Ia menerangkan Kiai Mahfudz mengajaknya untuk mengundang para ulama dan kyai sekaligus sebagai pendukung capres 01 dan 02. "Yang berbulan-bulan ini aktif mendukung pasangan masing-masing," kata Gus Solah seusai Halaqah Kebangsaan di Ponpes Tebuireng, Jombang, Ahad.

Menurut Gus Solah, para pendukung ini bisa saja berkomunikasi terlalu semangat dalam kehidupannya. Tidak hanya itu, ia menambahkan, para pendukung mungkin melakukan hal tidak cocok dalam memenangkan capres dukungannya.

Karena itu, ia mengatakan, Ponpes Tebuireng mencoba merekatkan kembali hubungan yang merenggang tersebut. "Renggang, tidak sampai pecah, ya. Kami ingin merekatkan kembali, terutama selesai pilpres," tegasnya.

Pada hakikatnya, dia melanjutkan, Allah SWT telah menentukan pemimpin terpilih di 2019. Hanya saja, seluruh masyarakat terutama umat Islam belum mengetahui siapa yang terpilih di antara kedua capres. Hal yang pasti, ia berharap, seluruh umat dapat menerima segala ketentuan Allah SWT.

Untuk pertemuan berikutnya, Gus Solah berharap, hubungan para kyai dapat direkatkan lebih erat lagi. Sebab, persatuan Indonesia sangat bergantung pada keberadaan Islam. Begitupula dengan Islam yang bergantung pada hubungan antara tokoh agama.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2KgWIsw
April 07, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2KgWIsw
via IFTTT
Share:

Wednesday, April 3, 2019

Bouteflika Mundur, Rakyat Aljazair Bersorak Gembira

Bouteflika mundur setelah tuntutan rakyat selama beberapa pekan.

REPUBLIKA.CO.ID, ALJIR – Rakyat Aljazair menyambut gembira keputusan Presiden Abdelaziz Bouteflika mengundurkan diri dari jabatannya pada Selasa (2/4). Mereka merasa telah memenangkan pertempuran melawan pemimpin yang telah berkuasa selama 20 tahun tersebut. 

"Saya sangat senang dan bersemangat. Kami telah memenangkan pertempuran. Ini akan menjadi malam yang tak lelap," ujar Bilal, seorang tukang kayu berusia 27 tahun saat berpartisipasi dalam kegembiraan ribuan rakyat Aljazair di Ibu Kota Aljir, dilaporkan laman Aljazeera. 

Di bawah Tunnel des Facultes mengarah ke alun-alun Maurice Audin, massa melompat-lompat seraya mengibarkan bendera Aljazair. Mereka larut dalam nyanyian dengan lirik berbunyi, "negara adalah milik kita dan kita akan melakukan apa yang kita inginkan". 

Kembang api diluncurkan ke udara untuk menyemarakkan suasana kegembiraan. "Ini adalah hari pertama kehidupan baru bagi rakyat Aljazair. 2 April akan menjadi hari merah dalam sejarah Aljazair, seperti 5 Juli (hari kemerdekaan Aljazair)," ujar Youcef, seorang editor video yang turut larut dalam perayaan pengunduran diri Bouteflika di Aljir.  

Farida, mahasiswi matematika berusia 23 tahun, tak dapat menyembunyikan kebahagiannya. "Kami mengalami momen yang mengasyikkan dan bersejarah. Generasi saya tumbuh hanya dengan mengenal satu presiden sepanjang hidup kami," ucapnya. 

Dia mengaku telah berpartisipasi dalam demonstrasi menuntut mundurnya Bouteflika sejak 22 Februari lalu. "Kami sudah cukup. Kami mati-matian menunggu perubahan," kata Farida. 

Brahim, seorang profesor hukum percaya bahwa mundurnya Bouteflika akan menjadi titik balik. "Ini seperti hari kemerdekaan kedua Aljazair. Kami akan membebaskan negara kami dari mafia yang telah memerintahnya selama dua dekade terakhir, seperti orang tua kami menentang sistem kolonial Prancis selama 1960-an," ujarnya. 

Bouteflika diketahui mengumumkan pengunduran dirinya melalui sebuah surat yang diterbitkan kantor berita yang dikelola pemerintah, APS. Dalam pernyataannya, dia mengaku tak ingin gelombang demonstrasi di negaranya berubah menjadi pertikaian serius. 

Bouteflika telah memerintah Aljazair selama dua dekade. Beberapa tahun terakhir, dia jarang tampil di hadapan publik karena menderita strok.  

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2UbVwLR
April 03, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2UbVwLR
via IFTTT
Share:

Tuesday, March 19, 2019

Tragedi Christchurch: Supremasi Identitas dan Kebencian

Budaya kebencian akan menjadi penyakit sosial yang memenuhi ruang publik

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Kamilia Hamidah*

Lima belas Maret 2019, Jumat yang penuh berkah itu terlukai dengan tragedi penembakan massal terjadi di masjid An-Nuur dan masjid Linwood, di Christchurch, New Zealand. Hingga hari ini media masih dipenuhi dengan berbagai kecaman dan hujatan yang mengutuk keras aksi tersebut. Tercatat peristiwa tersebut telah menewaskan 49 korban, 48 luka-luka, 39 dilarikan ke rumah sakit, dan 11 orang lainnya menjalani perawatan insentif.

Seorang pemuda berkewarganegaraan Australia, Brenton Harrison Tarrant (28 tahun), juga seorang ultra nasionalis, dengan biadabnya memposting rekaman penembakan tersebut dan menyebarkannya dari laman sosial medianya. Ia juga memposting 87 halaman manifesto sebelum melakukan aksi brutalnya, manifesto yang penuh dengan sentimen anti-imigran dan juga anti-Muslim.

Peristiwa tersebut meskipun dengan cepat pelaku dapat segera dibekuk aparat keamanan setempat, tetapi gestur pelaku sama sekali tidak memunculkan rasa penyesalan atas tindakannya, bahkan semakin menunjukkan sebentuk aklamasi kebencian. Rekaman beberapa menit aksi penembakan brutal tersebut sempat menjadi konsumsi publik dan menjadi viral di sosial media.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Arden, dalam keterangan pers-nya menggambarkan penyerangan itu sebagai "aksi kejahatan yang luar biasa dan belum pernah terjadi sebelumnya", dan berjanji untuk mengubah peraturan kepemilikan senjata. Kepada wartawan ia berkata: Saya katakan satu hal saat ini, bahwa aturan kepemilikan senjata akan berubah, saatnya akan berubah.

Ada tiga hal yang mungkin dapat kita telaah bersama dari tragedi ini. Pertama, identitas dan ancaman marginalisasi, kedua, kebencian, dan ketiga media sebagai bagian dari saluran penyebar kebencian itu sendiri. Dalam konteks global, kita dihadapkan pada kenyataan global village, di mana di satu sisi sentimen ‘negara bangsa’ mengalami kemunduran yang ditandai dengan semakin tingginya interdependensi antarnegara, sehingga menjadikan dunia sebagai desa global. The world had grown global.

Namun, sebuah artikel Why a Nation Needs National Story yang beberapa waktu lalu terbit di Foreign Affairs menjadi sebuah ungkapan kegundahan pada negara-negara yang menghadapi massifnya arus imigrasi, baik secara temporal maupun permanen. Komposisi masyarakat yang sangat beragam di mana memungkinkan seseorang untuk berbaur dengan orang lain dengan berbagai latar belakang, baik itu kultur, budaya atau agama.

Di sisi lain, kemajuan perkembangan teknologi dan informasi menjadikan seseorang tetap merasa sebagai bagian dari identitas kulturalnya, meskipun mereka tinggal di negara lain dengan berbeda kultur. Dengan demikian, para pendatang imigran ini mampu menjaga dan mempertahankan tradisi dan identitas kulturalnya, senantiasa dapat terhubung dengan teman atau kolega yang mempunyai kedekatan secara identitas.

Namun, konektifitas bukannya semakin menjadikan seseorang mendapatkan koneksi dengan orang yang berbeda dari latar belakang yang beragam, justru makin mengkotak-kotakkan seseorang terbatas pada seberapa seringnya interaksi terjadi dengan komunitasnya sendiri. Maka terjadilah ada yang disebut being native in an alien nation, merasa origin meskipun dalam negara yang berbeda. Sentimen kebangsaan pada negara tujuan itu akan tetap dangkal karena tidak ditopang dengan interaksi interkultural yang memungkinkan semua sub-national bisa dengan totalitas berinteraksi dalam aktivitas sosialnya maupun aktifitas rutinnya.

Di sisi lain, dengan dalih modernitas, global ekonomi plus kemungkinan pada terbukanya koalisi transnasional, memaksa para elite negara untuk membuat reformasi besar-besaran pada ranah global. Sehingga secara tidak langsung membawa dampak munculnya identitas supranasional, yang di sisi lain memaksa pada terpinggirkannya identitas nasional yang selama ini telah menjadi bagian dari masyarakat.

Mungkin pada satu sisi akan menumbuhkan terciptanya kebersamaan dan toleransi beragama dan berbudaya, akan tetapi di sisi lain, pada kasus di mana tidak terakomodirnya sentimen identitas secara proporsional, maka hal itu akan menjelma menjadi penyakit laten yang bahkan lebih sadis dari teroris mana pun. Sebut saja sebagian telah menyebut fenomena ultra national white supremacist ini sebagai "White ISIS".

Fukuyama dalam sebuah artikelnya Against Identity Politics, menekankan orang tidak akan pernah berhenti memikirkan diri mereka sendiri dan masyarakat mereka secara identitas. Identitas seseorang tidak pasti atau tidak harus dilahirkan, identitas mana yang dominan tergantung pada sejauh mana konteks sosial semakin memperkuat sentimen tersebut. Sehingga ketika identitas ‘merasa’ termarginalkan atau ‘merasa’ terancam akan dapat digunakan kelompok ultra oportunis untuk semakin memperlebar sekat ‘kita dan mereka’ dan semakin memperluas budaya kebencian.

Budaya kebencian akan mengejala dan menjadi penyakit sosial yang akan memenuhi ruang publik, mencabik-cabik ketahanan sosial suatu masyarakat. Tanpa menyebutkan nama, dalam sebuah status kawan saya menceritakan bagaimana video penyerangan brutal di Masjid Selandia Baru ini dipertontonkan oleh seorang guru pada murid-muridnya, sehingga pada akhirnya telah membangun pola pikir pada siswa-siswinya, bahwa semua orang yang bukan Muslim adalah jahat, bejat dan layak dibenci bahkan di perangi.

Teror kebencian itulah yang selalu ingin dibangun oleh seseorang yang selalu merasa terancam. Sehingga dengan serta merta akan menihilkan kebaikan, karena dengan kebencian, seseorang tidak akan sedikit pun mampu melihat kebaikan orang lain. Dan patut disayangkan jika energi kebencian ini telah menyeruak masuk merusak mental anak didik generasi kita, yang semestinya mereka diajari untuk bisa menghargai perbedaan sehingga memudahkan mereka dalam berkolaborasi dan bekerja sama dalam kompetisi dunia yang semakin heterogen.

Di sisi lain, media telah memainkan peran yang sangat strategis saat ini. Media baru, baik itu saluran media mainstream maupun sosial media telah memberikan dampak yang sangat krusial dalam pembangunan karakter publik. Beberapa media telah lebih banyak menekankan sebagai sarana komodifikasi berita ketimbang sebagai saluran informatif yang turut serta membantu menjaga kohesi sosial.

Beragamnya saluran komunikasi dan semakin mudah dan terbukanya akses pengetahuan yang luas dan kompleks, tidak semakin menjadikan masyarakat dewasa dalam menelaah suatu kejadian atau peristiwa. Namun justru seiring semakin meningkatkan kepercayaan diri, menjadikan masyarakat hanya mempercayai terbatas pada apa yang dipercayainya, apa yang diaksesnya, dan bukan berdasarkan dari berbagai fakta dan sudut pandang yang berbeda.

Secara tidak langsung media telah menjadikan masyarakat hanya sebagai konsumen pasif berita-berita bombastis yang tidak jarang justru menggiring opini dalam membentuk kultur kebencian kepada komunitas yang berbeda. Peristiwa ini tentu menjadi perenungan bersama bahwa ‘connecting people’ itu bukan semata menjadikan konektifitas digital ini laksana desa global, tetapi yang lebih penting bagaimana membangun budaya bersama dalam lingkup penghargaan terhadap perbedaan yang menjadi unsur alami, yang senantiasa ada dalam masyarakat dan pada komunitas mana pun.

Hal itu tentu saja tidak cukup dibatasi dalam forum-forum ‘like-minded people’, tetapi diperlukan gairah empati kesadaran bersama bagi semua pemangku sektor publik, maupun tokoh masyarakat dan juga tokoh agama untuk bersama membuka diri pada keniscayaan perbedaan. Selanjutnya perlindungan dan jaminan pada kelompok-kelompok marginal maupun minoritas sudah saatnya menjadi agenda bersama, menjadikan kelompok-kelompok minoritas ini menjadi bagian integral di sekitar kita.

Perlindungan itu menjadi sebentuk pengakuan ‘welcome gesture’ yang akan selalu diharapkan oleh kelompok minoritas, sehingga ikatan komunitas itu dapat terbagun secara kultural dan bukan semata karena faktor rekayasa sosial. Hal ini tentu sangat diperlukan untuk meminimalisir munculnya gerakan ultra-konservatif yang bermuara dari ketidakberdayaan dan tidak terakomodirnya kelompok-kelompok marginal ini dalam mendapatkan haknya sebagai sesama warga negara.

Ketiga, di era di mana media merupakan pisau tajam dan era di mana setiap orang dapat merebut ruang publik digital, sudah saatnya kesadaran literasi media menjadi agenda utama yang sangat diperlukan sebagai gerak bersama untuk bersama membangun kohesi sosial dan membangun kesadaran publik bahwa tidak semua apa yang didapatkan dalam genggaman ponsel, dapat kita bagikan begitu saja, sebelum memikirkan dampak dari apa yang kita bagikan tersebut.

Hanya dengan cara membuka hati, membuka mata dan membangun kesadaran publik maka kedewasaan dalam bermedia dapat terbangun. Kita tentu berharap arus budaya kebencian sebagaimana yang terjadi di Selandia Baru tidak sampai berdampak sosial pada masyarakat kita. Namun setidaknya perlu menjadi antisipasi bersama bahwa kebencian dalam bentuk apapun tidak akan membawa kebaikan bagi siapa pun.

*) Dosen Pengembangan Masyarakat Islam Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) Pati, Jateng, KAICIID Network for Interfaith and Intercultural Dialogue dan Board Team Indonesia Peace-building Institute.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2FlAyRy
March 19, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2FlAyRy
via IFTTT
Share:

Friday, March 15, 2019

OTT KPK di Jatim, Pejabat Kemenag Juga Terciduk

KPK juga mengamankan barang bukti uang di OTT Jatim.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kabiro Humas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengatakan sebanyak lima orang diamankan saat operasi tangkap tangan yang dilakukan tim penindakan KPK pada Jumat (15/3) pagi di Jawa Timur. Berdasar informasi, dalam tangkap tangan tersebut terdapat petinggi partai Ketua Umum PPP M Romahurmuziy.

Selain Romi, sapaan Romahurmuziy, terdapat empat orang lainnya yang turut diamankan, termasuk pejabat Kementerian Agama.   "Ada dari unsur penyelenggara negara dari DPR RI atau anggota DPR RI, kemudian ada unsur swasta, dan dari unsur pejabat di Kementerian Agama pejabat di daerah ya di Kementerian Agama," kata Jubir Febri di Gedung KPK Jakarta, Jumat (15/3).

Febri mengatakan tangkap tangan kali ini berawal dari laporan akan adanya transaksi yang diduga melibatkan unsur penyelenggara negara. Adapun, transaksi kali ini bukanlah yang pertama.

Dalam tangkap tangan kali ini, tim satgas penindakan KPK juga mengamankan uang tunai yang diduga barang bukti suap. Namun, Febri belum dapat menyampaikan secara rinci nominal uang yang diamankan.

"Ada uang yang kami amankan juga karena itu ada diduga adalah bagian dari transaksi yang diindikasikan melibatkan penyelenggara negara tersebut," katanya.

Saat ini adalah lima orang yang diamankan tersebut sedang dalam proses karifikasi dan pemeriksaan lebih lanjut di Mapolda Jawa Timur. Rencananya kelima orang tersebut akan diterbangkan ke Jakarta untuk pemeriksaan lanjutan di Gedung KPK. KPK memiliki waktu 1x24 jam untuk menentukan status hukum mereka.

"Karena prosesnya masih berjalan sesuai hukum acara yang berlaku ada waktu paling lama 24 jam jadi paling lama 24 jam nanti akan ditentukan status hukum perkaranya, Apakah tetap di penyelidikan atau ditingkatkan ke penyidikan dan siapa yang menjadi tersangka kalau ditingkatkan ke proses penyidikan," kata Febri.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2O32Jas
March 15, 2019 at 03:39PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2O32Jas
via IFTTT
Share: