Showing posts with label 2019 at 07:19AM. Show all posts
Showing posts with label 2019 at 07:19AM. Show all posts

Wednesday, December 4, 2019

Puskesmas di Surabaya Dilengkapi Terapi Berhenti Merokok

Klinik berhenti merokok dijalankan psikolog untuk melakukan hipnoterapi dan SEFT.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kota Surabaya telah memiliki klinik berhenti merokok. Klinik tersebut disediakan untuk memfasilitasi warga yang ingin berhenti dari kebiasaan merokok.

Kepala Dinas Kesehatan, Kota Surabaya, Febria Rachmanita mengklaim, klinik berhenti merokok telah didirikan sejak 2017. Febria menjelaskan, klinik berhenti merokok dijalankan seorang psikolog untuk melakukan hipnoterapi dan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT).

“Dengan terapi SEFT agar berhenti merokok, ada titik-titik dari bagian tubuh yang dipijit,” kata Febria di Surabaya, Rabu (4/12)

Febria mengungkapkan, lumayan banyak warga Surabaya yang memanfaatkan terapi tersebut, agar berhenti merokok. Alhasil, terdapat sejumlah perokok yang berhenti total dari kebiasaannya, setelah menjalani terapi tersebut. “Memang ada yang sampai berhenti tidak merokok lagi,” ujar Febria

Febria menjelaskan, klinik berhenti merokok didirikan menindaklanjuti Perda Nomor 5 Tahun 2008 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok (KTM). Saat ini, kata dia, Perda tersebut telah direvisi menjadi Perda Nomor 2 Tahun 2019 tentang Kawasan Tanpa Rokok.

"Untuk melindungi kesehatan masyarakat dari bahaya merokok, disamping peraturan, Dinas Kesehatan juga menyediakan solusi konkret dengan membuka klinik berhenti merokok," kata dia.

Febria mengakui, tak mudah memang untuk berhenti merokok. Apalagi, jika kebiasaan merokok sudah berlangsung lama. Menurutnya, untuk bisa berhenti dari kebiasaan merokok, dibutuhkan kemauan yang kuat.

“Karena berkaitan dengan psikologis, kalau tidak berhasil itu berarti kemauannya tidak begitu kuat,” kata dia.

Menurut Febria, biasanya dorongan ingin merokok adalah karena ingin menghilangkan stres. Namun, dampak negatifnya bisa menderita berbagai penyakit, seperti paru-paru, stroke, dan sebagainya.

“Untuk berhenti merokok, selain warga datang ke Puskesmas, petugas juga bisa berkunjung ke kantor, jika ada permintaan,” kata dia.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2sEj2Uz
December 05, 2019 at 07:19AM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2sEj2Uz
via IFTTT
Share:

Friday, November 29, 2019

Sandra Dewi Ungkap Kerepotan Urus Dua Anak

Sandra Dewi sempat merasa tak bisa memberi perhatian lebih ke anak pertamanya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktris Sandra Dewi baru melahirkan anak keduanya dua bulan lalu. Ia kini tentu lebih repot mengurus buah hatinya, apalagi anak pertamanya baru berusia 22 bulan.

"Tantangan ibu dua anak, kalau satu anak masalah hanya berasal dari dia. Kalau dua anak masalah dari dua anak. Satu anak galau 100, dua anak 200," jelasnya di sela acara Media Talk Show “Kiat Sukses MengASIhi” dalam Rangka Ulang Tahun Teman Bumil kedua di Jakarta.

Sandra mengaku sempat merasa lega mulai bisa mengatasi anak pertama. Namun sekarang justru ia harus memulai lagi dari awal dengan kelahiran anak keduanya.

"Sudah aman yang pertama ada lagi yang kedua. Ini harus saya pantau lagi. Anak dua galau banyak. Anak ketiga galau lagi. Saya mau ikut program pemerintah dua anak saja cukup," ujar Sandra sambil tertawa.

Kegalauan Sandra sudah ada sejak jelang melahirkan anak keduanya. Di rumah sakit, Sandra memikirkan anak pertamanya.

Ia merasa bersalah dengan kehamilan keduanya di saat anak pertama belum genap berusia dua tahun. Kegalauannya bertambah saat anak keduanya dilahirkan.

"Merasa bersalah, apakah kecepatan punya anak. Tidak ketemu anak pertama, saya titip ke mama waktu di rumah sakit. Setelah seminggu baru ketemu. Saya kasih tau anak pertama kalau ini adalah adik, dia tidak mengerti. Pas lihat anak pertama saya galau banget," ujarnya.

Sandra mengatakan anak pertamanya ini ingin selalu ada dia dan juga suami bersamanya. Sementara Sandra harus fokus dengan bayinya yang membutuhkan ASI.

"Itu buat saya galau. Apalagi anak pertama saya melihat saya menyusui adiknya, kakaknya teriak mami-mami. Dia kaget. Kenapa tiba-tiba ada yang nyusu ke ibunya," ungkapnya.

Awalnya sang kakak mengerti diberi tahu soal adiknya. Namun keesokannya dia lupa lagi. Ketika sampai di rumah, anak pertama Sandra juga bingung mengapa Sandra tidak lagi menemaninya ke taman sore hari seperti biasanya.

Sebelum melahirkan, ia rajin menemani anak pertamanya yang aktif main di luar rumah juga sekolah. Sementara anak keduanya baru lahir dan tidak diizinkan keluar rumah sampai 40 hari.

"Galau anak pertama minta mami ikut. Selama ini ke mana saja ikut tapi ketika habis melahirkan sulit menemani. Galaunya ketika saya harus mengikhlaskan anak pertama pergi tanpa saya. Nangis juga. Marah-marah sama papanya yang bisa pergi berdua sama anak pertama," ungkap Sandra.

Ketika anak pertama ingin bermain keluar rumah, Sandra harus membuat drama terlebih dahulu. Ia menyembunyikan diri di belakang tembok supaya anak pertama tidak merengek dan mengajak maminya ikut.

"Satu setengah tahun temani terus setiap hari. Setelah adiknya lahir saya ngumpet supaya dia tidak lihat saya. Kalau sudah lihat susah lepas," ujarnya.

Itulah yang sering membuat Sandra sangat galau ketika anak pertamanya butuh teman bermain di luar tapi Sandra tak bisa menemani. Namun setelah anak keduanya berusia sebulan, Sandra berusaha menemani anak pertamanya dengan membawa adik bayi.

"Ibu ingin kasih seadil-adilnya sama anak. Mau sama anak pertama, kedua dan bapaknya. Lama-lama dengan bantuan dengan teman-teman semua masalah teratasi," tambahnya.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2Y1JEKI
November 30, 2019 at 07:19AM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2Y1JEKI
via IFTTT
Share:

Thursday, November 21, 2019

Ridwan Kamil Kunjungi Bayi Kembar Siam di Bekasi

Ridwan Kamil berharap Rahman dan Rahim bisa segera dioperasi dalam tiga bulan.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat ridwan kamil mengunjungi bayi kembar siam Ahmad Rahman Al Ayyubi dan Ahmad Rahim Al Ayyubi di Bintara Jaya, Kota Bekasi, Kamis malam (21/11). Ridwan Kamil berharap Rahman dan Rahim bisa segera dioperasi dalam tiga bulan ke depan.

“Tentunya kita doakan mereka bisa kembali normal, tapi butuh waktu, sehingga kita bantu untuk susunya agar kenaikan badannya bisa memungkinkan untuk dioperasi dalam tiga bulan ke depan,” ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil.

Untuk mendapatkan tindakan operasi, kata Emil, Rahman dan Rahim yang kini berusia 14 bulan harus memiliki berat badan ideal. Oleh karena itu, asupan gizi Rahman dan Rahim harus terus diperhatikan. 

Pada kesempatan yang sama, Emil mengapresiasi respons Pemerintah Kota Bekasi yang tergolong cepat dalam menangani anak dari pasangan Romi Darma Rachim dan Ika Mutia Sari tersebut. Dia pun meminta warga Jabar untuk membantu dan mendoakan Rahman dan Rahim. 

“Saya doakan urusannya lancar. Dan saya kira pemerintah (Kota Bekasi) sudah responsif, menunjukkan kita harus saling kompak sebagai pemimpin. Mudah-mudahan tiga bulan ke depan lancar, nanti kita monitor,” katanya.

Emil menambahkan bahwa kelahiran bayi kembar siam merupakan kelainan genetik bukan karena faktor penyakit. “Ini kelainan genetik, bukan prevalensi yang bisa dihitung sebagai penyakit, ini masalah genetika saja,” kata Emil seraya mengatakan mereka kembar, punya turunan dan ada masalah di telurnya dalam tiga bulan pertama (kehamilan). 

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2QBokKC
November 22, 2019 at 07:19AM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2QBokKC
via IFTTT
Share:

Thursday, March 7, 2019

Pemprov Diminta Kaji Jalur Pejalan Kaki Dukuh Atas

Terowongan Jalan Kendal akan berubah fungsi sebagai pedestrian

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Koalisi Pejalan Kaki Alfred Sitorus menyambut baik pembangunan jalur pedestrian atau pejalan kaki di Jalan Kendal (bawah lintas atas Jalan Jenderal Sudirman), Jakarta Pusat. Akan tetapi, ia meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan kajian terlebih dahulu.

"Jadi harus dipastikan juga jumlah penumpang yang turun sebagai pejalan kaki luapannya berapa banyak apakah cukup. Harus benar-benar jangan sampai membangun ala kadarnya," ujar Alfred saat dihubungi Republika, Kamis (7/3).

Menurut dia, akan ada ratusan ribu penumpang kereta rel listrik (KRL) dari Stasiun Sudirman, kereta bandara dari Stasiun BNI City, halte Transjakarta, dan moda raya terpadu (MRT) yang yang akan melalui jalur pejalan kaki tersebut. Sehingga, lebar jalur perlu diperhatikan agar mencukupi. Ia menghitung, setiap pejalan kaki tanpa membawa barang bawaan memerlukan ruang sekitar 50 sentimeter.

"Jumlah penumpang itu akan berapa banyak apakah sebanding dengan trotoar yang akan dibangun," kata Alfred.

PT MRT Jakarta bekerja sama dengan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) selaku operator KRL, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), dan PT Railink sebagai operator kereta api bandara. Para operator transportasi umum itu bekerja sama dalam mengembangkan kawasan Dukuh Atas sebagai kawasan Transit Oriented Development (TOD).

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim mengatakan, fasilitas jalur pejalan kaki tersebut mengalihfungsikan terowongan Jalan Kendal sebagai area pejalan kaki. Termasuk berikut penyediaan laybay atau area pemberhentian dan tunggu Transjakarta.

"Terowongan Jalan Kendal akan berubah fungsi sebagai pedestrian dengan berbagai aktivitas yang bisa dilakukan," ujar kesempatan yang sama.

Dari titik Stasiun MRT Dukuh Atas, tengah digarap proyek fisik jalur pejalan kaki penghubung Jalan Kendal menuju Jalan Blora dengan radius 700 meter. Berada di sisi Sungai Kanal Barat sepanjang 179 meter dengan lebar 8 meter lebih.

Ia menjelaskan, adanya pedestrian untuk mempermudah perpindahan para penumpang dari moda transportasi ke moda lainnya. Untuk itu, pihaknya juga bekerja sama dengan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta untuk menutup lalu lintas yang mengarah ke terowongan di Jalan Kendal tersebut.

Dishub DKI Jakarta telah menutup sebagian ruas Jalan Kendal, Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat sejak Ahad (3/3) lalu. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dishub DKI Jakarta Sigit Wijatmoko mengatakan, penutupan jalan tersebut juga untuk menunjang pengoperasian transportasi umum di kawasan Dukuh Atas.

"Sosialisasi sudah dilaksanakan dan hari Minggu kita sudah langsung melaksanakan pembangunan fisik maupun penutupan arus lalu lintas," kata Sigit.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2TrCmRx
March 08, 2019 at 07:19AM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2TrCmRx
via IFTTT
Share: