Showing posts with label 2018 at 09:06PM. Show all posts
Showing posts with label 2018 at 09:06PM. Show all posts

Tuesday, December 25, 2018

KNRP Salurkan Bantuan ke Warga Palestina Capai 30 Miliar

Bantuan mulai dikumpulkan sejak 2006 hingga 2018.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Kantor Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) mencatat penyaluran donasi untuk membantu warga Palestina mencapai Rp 30 miliar. Besaran dana tersebut sudah mulai dikumpulkan sejak 2006 hingga 2018.

Ketua Umum KNRP Suripto mengatakan pihaknya giat melakukan penggalangan dana dari para donatur untuk membantu rakyat Palestina. Salah satu yang dilakukan dengan menggandeng lembaga mitra luar negeri Assalama Charitable. “Assalama Charitable merupakan mitra luar negeri KNRP yang membantu warga penyandang disabilitas di Jalur Gaza,” ujarnya kepada Republika.co.id di Kantor KNRP, Selasa (25/12).

Menurutnya, KNRP dan Assalama sudah menjalin kerja sama cukup lama. Terakhir pada Hari Raya Idul Adha 1439 H/2018, KNRP dan Assalama turut menyembelih hewan qurban untuk didistribusikan ke Jalur Gaza.

KNRP berharap, Assalama bisa memberikan kabar terbaru kondisi di Gaza, Palestina. Dengan begitu, lembaga mitra dan jaringan KNRP dapat teredukasi tentang apa saja yang dibutuhkan untuk membantu persoalan yang ada di Jalur Gaza.

“Kami juga terus melakukan sosialisasi, turun ke bawah KNRP ke wilayah memberikan penjelasannya, bentuknya bisa melalui konser, save Palestina didatangkan terutama pada Ramadhan agar bisa mendengar sendiri. Ada 15 KNRP di wilayah Indonesia,” ujar dia.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2EJQCMZ
December 25, 2018 at 09:06PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2EJQCMZ
via IFTTT
Share:

Sunday, December 9, 2018

Maluku Utara Calon Pintu Gerbang Indonesia

Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) daerah pemilihan (dapil) Maluku Utara, Tjatur Sapto Edy

EMBED
Maluku Utara harus dipersiapkan sebagai pintu gerbang Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) daerah pemilihan  (dapil) Maluku Utara, Tjatur Sapto Edy mengatakan, Maluku Utara harus dipersiapkan sebagai pintu gerbang Indonesia, dalam menghadapi pergeseran peradaban dunia.

Menurut Tjatur,  peradaban politik dan ekonomi ke depan bergeser. Kalau sebelum 2000-an titik berat ada di Atlantik yaitu Eropa dan Amerika, namun saat ini sudah di wilayah sisi barat dan Timur Pasifik.

Ekonomi dunia bergeser ke Pasifik. "Dan kepulauan di Indonesia yang langsung berhadapan dengan pasifik adalah Malut. Ke depan wajah depan NKRI adalah Malut,” kata Tjatur.

Sebagai ruang tamu dunia maka Malut harus diisi dengan SDM yang baik, ruang tamu yang tertata dengan baik, ruang tamu yang bisa menjelaskan dengan baik. Maka butuh percepatan ekonomi dan pendidikan di Malut untuk menghadapi abad Pasifik ke depan.

Berikut video lengkapnya.

  • Video Editor:
  • Joko Sadewo

Dapatkan Update Berita Republika

TERPOPULER

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2rt6DPt
December 09, 2018 at 09:06PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2rt6DPt
via IFTTT
Share:

Saturday, November 24, 2018

Darmayanti Lubis Apresiasi Terbentuknya Batak Center

Batak Center ingin eratkan persaudaraan NKRI dan junjung falsafah Bhineka Tunggal Ika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua II DPD RI Damayanti Lubis mengapresiasi pembentukan Batak Center sebagai wadah pelestarian, pengembangan dan kepentingan budaya Batak. Bahkan, menjadi pemberdayaan masyarakat maupun generasi muda Batak.

“Melalui Batak Center, masyarakat Batak dapat terlibat dalam proses dan upaya untuk memperkuat budaya, dan melestarikan budaya Batak. Menjaga generasi muda Batak agar tidak terkontaminasi budaya yang negative seiring perkembangan zaman dan kencangnya gempuran globalisasi,” ucap Darmayanti.

Menurutnya, arah pembentukan Batak Center bukan untuk melakukan segregasi sosial yang lebih tajam berdasarkan kesukuan. Tetapi justru untuk mempererat persaudaraan NKRI dan menjunjung falsafah Bhineka Tunggal Ika. “Batak Center ikut terlibat dalam menyatukan seluruh masyarakat Sumatera Utara di tanah rantau,” ujar Darmayanti.

Senator asal Sumatra Utara itu menambahkan, Komposisi kepengurusan Batak Center wajib heterogen. Terdiri dari berbagai kalangan dan latar belakang serta agama yang berbeda-beda. “Batak Center mampu ikut terlibat menciptakan ‘kesamaan gender’ antara perempuan dan laki-laki, apalagi budaya patriarki sangat dominan dalam budaya Batak,” harap dia.

Darmayanti juga menjelaskan bahwa hal tersebut harus diciptakan sehingga perempuan-perempuan Batak bisa bersaing dengan perempuan dari suku-suku yang lain dalam bidang keilmuan dan keintelektualan. “Menjelang momentum politik 2019, berharap situasi di Sumatera Utarat berjalan dengan kondusif, baik, bersih dan adil. Keamanan menjadi prioritas,” tuturnya.

Seperti diketahui, Batak merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia, yang bermukim di seputaran Kawasan Danau Toba sampai ke pantai barat dan pantai timur Sumatera Utara. Sebelum Indonesia merdeka, orang Batak menyebut dirinya Bangsa Batak, karena ada kemandirian dalam dirinya yang cukup memberi identitas sebagai Bangsa.

Setelah Indonesia merdeka, Bangsa Batak disebut sebagai suku Batak. Perjuangan Bangsa Batak melawan penjajahan Belanda terjadi di wilayah Tapanuli tahun 1878 sampai dengan 1907 yang dipimpin oleh Raja Sisingamangaraja XII.

Tahun 1928, masyarakat Batak yang tergabung dalam Jong Batak bersama-sama pemuda dari suku lainnya menyatakan komitmen keindonesiaan melalui pernyataan bersama Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Kini, dalam perkembangannya, masyarakat Batak telah hidup menyebar ke seluruh pelosok tanah air di Indonesia maupun luar negeri yang ditandai dengan nama keluarga (marga) di belakang namanya.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2Rbi1ee
November 24, 2018 at 09:06PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2Rbi1ee
via IFTTT
Share:

Thursday, November 22, 2018

SOS: Keren Kalau Semua Pengurus PSSI Mundur

Tim Merah Putih tersingkir di fase grup, padahal berstatus finalis dua tahun lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali menilai para petinggi PSSI menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas kegagalan timnas Indonesia di Piala AFF 2018. Tim Merah Putih tersingkir di fase grup, padahal berstatus finalis dua tahun lalu.

Kita menunggu seluruh pimpinan PSSI menyatakan permohonan maaf atas kegagalan ini. Lebih keren, mereka semua mundur karena gagal membangun manajemen timnas yang baik," kata Akmal saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (22/11).

Ia mengaku sudah pesimistis dari awal karena PSSI tidak mempersiapkan segalanya dengan matang. Salah satunya adalah pergantian mendadak pelatih Luis Milla ke Bima Sakti.

Proses penunjukan Bima menjadi pelatih Garuda Merah Putih pada 21 Oktober lalu menghadirkan tanda tanya besar di benak pecinta sepak bola Tanah Air. Di samping jabatan sebelumnya menjadi asisten Luis Milla, Akmal menilai pria kelahiran Balikpapan 42 tahun silam belum memiliki jam terbang yang ideal untuk mengemban tugas berat dari PSSI.

"Ini merupakan blunder besar PSSI yang mempunyai mimpi besar jadi juara tapi tidak memikirkan hal terpenting. Jadwal agenda kompetisi dan timnas selalu bertabrakan dan sangat mempengaruhi psikologis atau pun fisik pemain," kata dia.

Tidak hanya itu, Akmal juga menuntut keputusan tegas badan sepak bola tertinggi di Indonesia untuk segera mengevaluasi segala karut marut dunia si kulit bundar.

Timnas Indonesia dipastikan gagal ke semifinal Piala AFF setelah pertandingan Grup B antara Filipina melawan Thailand berakhir dengan skor imbang 1-1. Ini membuat poin Filipina tak terkejar Indonesia di kelasemen sementara. Andai mampu mengalahkan Filipina akhir pekan ini, poin Indonesia hanya enam, tertinggal satu dari Filipina.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2FBla5N
November 22, 2018 at 09:06PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2FBla5N
via IFTTT
Share: