Showing posts with label 2018 at 10:21PM. Show all posts
Showing posts with label 2018 at 10:21PM. Show all posts

Saturday, December 29, 2018

Edukasi Kebencanaan Perlu Ditanamkan Sejak Dini

Perlu dibuat formula bersama untuk merencanakan membangun gedung tahan gempa

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA --  Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Sri Atmaja P Rosyidi mengatakan edukasi mengenai kebencanaan perlu ditanamkan sejak dini.  Ia beralasan di Indonesia belum ada mata pelajaran yang membahas penanggulangan kebencanaan sejak usia dini.

"Hal itu penting untuk memberikan pembelajaran mengenai pengurangan risiko bencana alam," katanya pada "Refleksi Akhir Tahun 2018 dan Outlook 2019 Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY)" di Yogyakarta, Sabtu (29/12).

Menurut dia, untuk mencegah sebuah bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus sangat mustahil. Namun, yang dapat dilakukan adalah mencari solusi agar ketika bencana itu datang, korban yang terdampak dapat diminimalkan atau kalau bisa tidak ada korban jiwa.

Salah satunya dengan mencari formula bersama untuk membuat sebuah perencanaan gedung yang tidak mudah runtuh dan aman dari bencana. Sebenarnya gempa itu tidak selamanya membuat orang meninggal dan merasa bahaya, justru gedung-gedung yang ada yang dapat menimbulkan korban jiwa.

"Jadi, jangan salahkan bencananya, tetapi mulai dengan infrastruktur yang dapat mencegah jatuhnya banyak korban. Misalnya, kita tidak membangun perumahan di atas bantaran sungai, karena rumah di atas bantaran sungai itu sama saja mendekatkan pada bencana," katanya.

Selain itu, masih banyak pula aspek lainnya yang kemudian menjadi kekeliruan informasi dalam menyikapi bencana yang terjadi di Indonesia, seperti saat terjadi gempa bumi di Lombok pada 5 Agustus 2018 di mana masyarakat setempat mengaitkan bencana dengan mitos bahwa Gunung Rinjani sudah tidak suci lagi.

"Saya hampir 10 hari berada di Lombok pascagempa bumi terjadi, di situ rupa-rupanya ketika sebuah penyadaran kebencanaan terlambat, yang muncul adalah sisi sosial spiritual yang melenceng, seperti munculnya mitos," katanya.

Ia mengemukakan, sebagian dari mereka beranggapan bahwa gempa bumi terjadi karena Gunung Rinjani sudah tidak suci lagi. Menurut mereka, orang yang mendaki Rinjani harus orang suci, sekarang banyak orang asing datang ke sana.

"Kita tidak bisa menyalahkan mitos itu, karena terjadi keterlambatan penyadaran mengenai informasi bencana," kata Sri Atmaja.

Ia mengatakan, dari fakta itu dapat ditarik benang merah mengenai keterlambatan penyadaran tentang bencana alam, yang kembali terulang pada bencana di Banten dan Lampung."Jika otoritas berwenang sudah menyadari aktivitas dari Gunung Anak Krakatau, dan memberikan imbauan untuk menjauhi daerah rawan bencana maka korban yang jatuh tidak akan lebih dari 400 orang," katanya.

Menurut dia, ketika Gunung Anak Krakatau sudah menunjukkan aktivitasnya, seharusnya sudah ada peringatan secara struktural. "Saya yakin jika sudah ada imbauan terlebih dahulu tidak akan mungkin terjadi 400 korban jiwa melayang," katanya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2GLwdtI
December 29, 2018 at 10:21PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2GLwdtI
via IFTTT
Share:

Saturday, December 22, 2018

Masjid Ibrahim dan Kemajuan Islam di Venezuela

Sebagian besar Muslim Venezuela tinggal di Caracas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Secara umum, luas wilayah Venezuela mencapai 912 ribu kilometer persegi. Tak terlalu luas bila dibandingkan dengan Indonesia. Namun demikian, negara yang berbatasan dengan Brasil, Kolombia, dan Guyana, ini memiliki jumlah penduduk sekitar 30-33 juta jiwa.

Dari total populasi itu, mayoritas warganya menganut agama Katolik Roma. Jumlahnya mencapai 96 persen atau sekitar 24,7 juta jiwa. Sementara itu, pemeluk Kristen Protestan berkisar sekitar 400 ribu jiwa. Kemudian, agama lainnya, seperti Islam, Hindu, Buddha, dan Yahudi, sebanyak dua persen. Pemeluk agama Islam tercatat sebanyak setengah (0,5) persen dari seluruh penduduk Venezuela, atau sekitar 127 ribu jiwa.

Sebagian besar umat Islam Venezuela tinggal di Caracas. Jumlahnya mencapai 15 ribu jiwa. Mereka umumnya berasal dari keturunan Arab, seperti Libanon, Palestina, Syria, dan Turki.

Di ibu kota Caracas ini, terdapat Masjid terbesar di Amerika Latin. Namanya Masjid Ibrahim. Masjid ini merupakan peninggalan atau didirikan oleh Syekh Ibrahim al-Ibrahim. Walaupun tidak berada di pusat kota, masjid ini memberikan pengaruh signifikan bagi kemajuan Islam di seluruh wilayah Venezuela, terutama di Caracas.

Bentuknya yang unik, mampu memberikan pengaruh bagi bangunan-bangunan (arsitektur) tempat ibadah atau masjid lainnya. Mulai dari kubah, mimbar, serambi, menara, hingga perangkat audio. Masjid ini dibangun dengan dana bantuan dari Yayasan Ibrahim bin Abdul Aziz Al-Ibrahim. Perancang atau arsiteknya bernama Oscar Bracho.

Sejumlah organisasi keislaman juga cukup banyak. Antara lain, Caribe Islam Margarita-La Comunidad Islamica Venezolana, Centro Islamico de Venezuela, Mezquita Al-Rauda di Maracaibo, Asociacian Honorable Mezquita de Jerusalen di Valencia, Islamico Centro de Maiqueta di Vargas, serta Asociacion Benefica Islamica di Bolivar.

Selain di Caracas, pemeluk agama Islam terbesar lainnya di Venezuela adalah di Pulau Margarita. Di daerah ini, banyak bermukim penduduk Muslim yang berasal dari keturunan Arab.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2QJwr97
December 22, 2018 at 10:21PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2QJwr97
via IFTTT
Share:

Wednesday, December 12, 2018

Pelatih Inter Milan Yakin Timnya akan Kian Matang

Inter memiliki waktu kurang dari lima hari untuk membenahi aspek mentalitas.

REPUBLIKA.CO.ID, MILAN -- Hanya satu kemenangan dari tujuh laga terakhir di semua ajang menjadi catatan teranyar performa Inter Milan. Puncaknya, kegagalan mengalahkan PSV Eindhoven di ajang Liga Champions, tengah pekan lalu, membuat La Beneatama tersingkir dari panggung Liga Champions musim ini.

Berkaca dari penampilan terakhir, kala ditahan imbang 1-1 PSV Eindhoven, pelatih Inter Milan, Luciano Spalletti, mengakui, anak-anak asuhnya tidak bisa melepaskan diri dari beban mental dan tekanan untuk bisa memetik kemenangan di laga tersebut. Tertinggal lebih dulu oleh gol Hirving Lozano, Inter Milan hanya mampu membalas satu gol lewat torehan Mauro Icardi.

''Seharusnya, kami bisa menang di laga tersebut. Kami tidak bisa menjaga ketenangan, gugup, dan akhirnya terlalu sering kehilangan bola. Kami tidak bisa memberikan reaksi yang tepat, terutama setelah tertinggal. Ini adalah proses yang harus kami lewati. Kami harus lebih matang, dan memperbaiki kesalahan ini, dimulai di laga berikutnya'' kata Spalletti seperti dikutip Gazzetta dello Sports, tengah pekan ini.

La Beneamata memiliki waktu kurang dari lima hari untuk bisa membenahi aspek mentalitas tersebut. Pasalnya, i Nerazzurri sudah harus menerima lawatan Udinese di Stadion Giuseppe Meazza pada giornata ke-16 Serie A, Sabtu (15/12) waktu setempat. Ancaman pun datang dari AC Milan di papan klasemen, jika i Nerazzurri gagal memetik poin di laga kandang kedelapan mereka di kancah Serie A musim ini tersebut.

Berada di peringkat ketiga klasemen sementara, Inter Milan hanya mengantongi selisih tiga poin dari AC Milan, yang duduk di peringkat keempat dan akan menghadapi penghuni zona degradasi, Bologna, di laga lainnya.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2GaOyQk
December 12, 2018 at 10:21PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2GaOyQk
via IFTTT
Share: