Showing posts with label 2019 at 07:54PM. Show all posts
Showing posts with label 2019 at 07:54PM. Show all posts

Wednesday, May 8, 2019

Kasus Bunuh Diri, Indikasi Menguatnya 'Inflasi Pendidikan'

Sekolah terlalu berorientasi nilai lupa menciptakan kultur membangun keterampilan.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kasus seorang wanita yang tewas bunuh diri di Pluit, Jakarta, pekan lalu memancing keprihatinan banyak pihak. Bukan hanya karena peristiwanya yang tragis dimana korban melompat dari lantai 4 sebuah mal, melainkan juga karena indikasi penyebabnya yakni karena wanita tersebut belum mendapatkan pekerjaan. Padahal yang bersangkutan adalah seorang lulusan sebuah perguruan tinggi di Australia.

Pengamat pendidikan, Muhammad Nur Rizal, mengatakan dilihat secara sistem maka hal ini kian menguatkan indikasi adanya 'inflasi pendidikan'. "Dimana lulusan luar negeri tidak memberi jaminan pekerjaan yang berkualitas dan bergengsi," kata Rizal kepada Republika beberapa waktu lalu.

Menurut Rizal, sekolah atau kampus yang terlalu berorientasi pada nilai akademis lupa menciptakan kultur untuk membangun keterampilan seperti daya juang, kegigihan, etos kerja, dan pengembangan keterampilan bekerja berdasarkan minat. Hal ini diperparah jika sekolah kurang memberikan ruang eksplorasi bagi siswa untuk mengembangkan dirinya secara utuh sehingga spiritualitas, intelektual, hingga kemampuan pengelolaan emosi dan sosialnya rendah.

"Akibatnya ketika menghadapi persoalan mereka mudah menyerah, tidak mampu mengelola diri, dan tidak bisa mengkomunikasikan dengan orang lain secara proporsional. Lalu bisa jadi memilih jalan pintas bunuh diri tersebut," kata pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) itu.

Sementara itu dilihat dari sisi keluarga, kata Rizal, hal ini bisa dipandang sebagai minimnya ruang dialog antara anak dengan orang tua sehingga keputusan untuk sekolah atau bekerja bisa jadi didominasi oleh orang tua. "Sehingga anak merasa tertekan dan kurang memiliki ruang untuk mengembangkan keinginan dan minatnya sendiri," kata dosen Teknik Elektro UGM ini menambahkan.

Sementara itu psikolog remaja, Novi Candra, mengungkapkan peristiwa bunuh diri tersebut bisa jadi diakibatkan oleh banyak faktor. Meskipun demikian, terdapat kemungkinan adanya krisis kesehatan mental (health crisis), yaitu meningkatnya problem dan gangguan mental dari stres, depresi bahkan bunuh diri karena ketidaksesuaian antara perubahan global (era disrupsi) dengan model pendidikan.

Ketidaksesuaian ini, ujar Novi, membuat anak-anak muda yang dididik memakai pola lama merasa kebingungan. Apalagi jika institusi pendidikan atau rumah tidak menggunakan pendidikan berbasis manusia. Karena paradigma pendidikan lama berorientasi mencari kerja, maka anak muda yang tidak sadar bahwa kebutuhan kerja telah berubah akan merasa ditekan baik oleh sosial maupun orang tua.

"Lihat bagaimana saking malunya menyandang gelar pengangguran. Alih-alih mencoba wirausaha misalnya, orang tua dan anak-anak memilih sekolah lagi ke jenjang yang lebih tinggi hanya untuk menghindari status sosial," tutur dosen Psikologi UGM ini.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2LuDAIo
May 08, 2019 at 07:54PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2LuDAIo
via IFTTT
Share:

Tuesday, May 7, 2019

Partisipasi Pemilih di Purwakarta Capai 82,1 Persen

Kanaikan partsipasi warga dinilai cukup signifikan dari target hanya 80 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA -- KPU Kabupaten Purwakarta, melansir partisipasi pemilih pada Pemilu 17 April kemarin mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Partisipasi pemilihnya mencapai 82,1 persen. Padahal, targetnya hanya 80 persen.

Dengan tingginya partisipasi pemilih ini, mencerminkan kesadaran warga Purwakarta untuk menyuarakan hak politiknya sudah semakin baik. Komisioner KPU Kabupaten Purwakarta, Ramlan Maulana, mengatakan, partisipasi pemilih pada Pemilu 17 April 2019 ini, juga mengalahkan saat Pilgub Jabar 2018 lalu. Saat pesta pemilihan kepala daerah itu, partisipasi pemilihnya tercatat 79,4 persen. Karena itu, pihaknya berani menargetkan jika partisipasi pemilih naik jadi 80 persen. "Alhamdulillah, partisipasi pemilih berhasil melampauai target," ujar Ramlan, kepada Republika.co.id, Selasa (7/5).

Menurutnya, jumlah DPT pada Pemilu 2019 mencapai 687.280 suara. Dari jumlah tersebut, yang menyalurkan suaranya mencapai 82,1 persen. Adapun penyumbang peningkatan partisipasi pemilih ini, salah satunya yakni pemilih pemula dan pemilih baru.

Ramlan mengaku, sangat mengapresiasi atas tingginya partisipasi ini. Karena itu, pihaknya berterima kasih kepada warga Purwakarta yang turut berkontribusi pada jalannya pesta demokrasi lima tahunan ini.

Terkait dengan pengumuman, caleg yang lolos ke DPRD kabupaten, Ramlan mengaku, setelah 22 Mei. Dengan begitu, pihaknya meminta supaya seluruh warga untuk tetap tenang sampai pengumuman resmi diterbitkan oleh KPU.

Adapun jumlah caleg kabupaten yang ikut dalam kontestasi Pileg kemarin, lanjut Ramlan mencapai 610 orang. Dari jumlah tersebut, yang lolos ke kursi DPRD hanya 45 orang. Dengan begitu, 565 orang lagi dipastikan gagal melenggang ke gedung putih tersebut. "Untuk DPRD Purwakarta, hanya 45 kursi. Karena, daftar agregat kependudukannya di bawah satu juta jiwa," ujarnya.

Sementara itu, Dirut RSUD Bayu Asih Purwakarta, Agung Darwis Suriaatmadja, mengaku, pihaknya sudah menyediakan bangsal khusus bagi caleg yang stres. Tak hanya itu, empat dokter spesialis kejiwaan juga disiagakan, untuk mengantisipasi adanya caleg yang gagal menuju kursi dewan.

"Namun, berdasarkan pengalaman sebelumnya, tidak ada yang sampai dirawat. Meski demikian, kita mengantisipasinya karena itu sudah prosedur," ujar Agung. 

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2JmAJyh
May 07, 2019 at 07:54PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2JmAJyh
via IFTTT
Share:

Sunday, May 5, 2019

Masyarakat Diimbau Hormati Rangkaian Pemilu

Rejo mengharapkan aparat menindak siapapun yang memprovokasi rakyat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Relawan Jokowi mengimbau masyarakat mengikuti dan menghormati rangkaian penyelenggaraan Pemilu 2019. Lembaga negara seperti KPU, Bawaslu, DKPP, unsur-unsur pengawas dan pemantau lokal ataupun Internasional yang ada di Tanah Air harus didukung sebaik mungkin sehingga penyelenggaraan pemilu berjalan dengan baik. 

"Kita harus berani menerima kenyataan bahwa dalam kompetisi pasti ada yang menang. Misalnya kita dengan sangat bangga menerima kemenangan pada Pilgub DKI, hasil quick count dan real count diakui valid, hasil kajian ilmiah yang membanggakan," ujar Ketua Umum Relawan Jokowi (Rejo) HM Darmizal MS saat memberikan sambutan dalam acara 'Ikrar Setia Konstitusi untuk Keutuhan NKRI' yang diadakan Garda Matahari di Hall Basket, Senayan, Ahad (5/4).

Hari ini semua elemen masyarakat harus menghormati kerja para lembaga survei dalam mendukung penyelenggaraan pemilu. Quick count dan real count yang mereka lakukan dibuat dengan susah payah dan objektif. "Kita harus berani sabar menunggu keputusan KPU dan kemudian menerima secara legowo keputusan KPU tersebut. Bagi yang tidak puas, silakan disalurkan sesuai mekanisme yang telah dipersuapkan untuk itu," jelasnya.

Rejo kata Darmizal, juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya dan terimakasih kepada TNI-Polri. Mereka telah mengawal pelaksanaan Pemilu sehingga berlangsung aman dan damai. 

Pihaknya mengharapkan aparat menindak dengan tegas siapapun yang memprovokasi rakyat. "Rakyat tidak boleh diadu domba, rakyat harus berdamai dan hidup dalam harmoni penuh toleransi. Rejo pasti bersama TNI dan Polri untuk menjaga NKRI sebagai harga mati," demikian Darmizal menjelaskan. 

Petugas KPPS 

Petugas KPPS yang telah gugur dalam rangka melaksanakan tugas sebagai dalam Pemilu tahun 2019 ini adalah pahlawan demokrasi pengawal kekuatan rakyat. Petugas KPPS yang gugur adalah people power yang sesungguhnya. Pihaknya menyampaikan belasungkawa dan duka cita yang mendalam atas berpulangnya pahlawan Demokrasi, pengawal pesta rakyat pada Pemilu 17 April 2019.

Mereka telah dengan ikhlas bekerja siang dan malam untuk menjaga hak konstitusi rakyat yang telah disalurkan di TPS.  "Kami mencatat sepanjang sejarah Pemilu di Indonesia partisipasi masyarakat adalah pada Pemilu tanggal 17 April 2019 itu lah people power yang sesunggunya. Karena partipasi pemilih pada Pemilu ini sangat besar," tutur Darmizal.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2J0p0WO
May 05, 2019 at 07:54PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2J0p0WO
via IFTTT
Share:

Monday, April 15, 2019

Cina Sita Gading Selundupan Hingga Lebih dari 7 Ton

Penyitaan gading di Cina jadi yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pihak berwenang Cina menyita 7,48 ton gading selundupan bulan lalu. Jumlah itu membuat penyitaan terbesar dalam beberapa tahun terakhir, saat Beijing meningkatkan kampanye terhadap perdagangan satwa liar ilegal.

Penyitaan tersebut terjadi selama operasi memerangi geng kriminal internasional "yang telah lama mengkhususkan diri dalam penyelundupan gading," kata administrasi bea cukai, Senin (15/4).

Cina, importir terbesar di dunia sekaligus pengguna terakhir gading gajah, melarang penjualan gading di negara tersebut sejak 2017. Permintaan gading dari sejumlah negara Asia seperti Cina dan Vietnam, tempat gading disulap menjadi perhiasan dan ornamen. Hal itu menyebabkan lonjakan perburuan liar di seluruh Afrika.

Sejak Januari, Cina telah menyita 8,48 ton gading dan produk yang terbuat dari gading serta lebih dari 500 ton spesies yang terancam punah. Sejumlah kelompok lingkungan mendesak pihak berwenang untuk melakukan lebih banyak penyitaan produk hewan dan menuntut jaringan kriminal satwa liar.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2ZbvuXE
April 15, 2019 at 07:54PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2ZbvuXE
via IFTTT
Share:

Friday, April 5, 2019

Islam Memandang Takdir, Qada, dan Qadar

Seluruh alam semesta berada di bawah kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Secara umum, takdir diartikan sebagai putusan Allah SWT yang berlaku bagi seluruh mahluk-Nya, termasuk manusia. Berlakunya takdir atas dasar keyakinan akan adanya kekuasaan dan kehendak mutlak Sang Pencipta serta status manusia sebagai makhluk.

Menurut golongan Asy'ariyah, Tuhan berkuasa dan berkehendak mutlak. Seluruh alam semesta berada di bawah kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya.

Manusia yang merupakan bagian dari alam ini juga berada di bawah kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Dalam menjelaskan kemutlakan Tuhan ini, Abu Hasan al-Asy'ary dalam kitab al-Ibanah an Usul ad-Dinayah (Uraian tentang Prinsip-Prinsip Agama) menyatakan bahwa Tuhan tidak tunduk kepada siapapun; di atas Tuhan tidak ada suatu zat lain yang dapat membuat hukum dan dapat menentukan apa yang boleh dibuat oleh Tuhan dan apa yang tidak boleh dibuat.

Golongan Asy'ariyah membahas masalah takdir dalam kaitannya dengan qada, yang berarti 'jangka atau ukuran.' Bagi golongan ini qada merupakan ketentuan Tuhan yang didalamnya terdapat iradah-Nya untuk segala mahluk.

Sementara, qadar merupakan perwujudan dari ketentuan yang ada, yang tidak berubah sedikit pun. Karena qada, maka kehidupan manusia pada dasarnya adalah realisasi dari apa yang telah digariskan Tuhan pada azali (sejak permulaan zaman) baik di kehidupan yang menyangkut hal-hal baik maupun hal-hal jelek, beruntung atau rugi, senang atau menderita, dan lain sebagainya.

Semuanya dijalani manusia sejak dia lahir hingga menghembuskan nafas terakhir. Adapun wujud qada atau ketentuan-ketentuan tersebut dalam bentuk yang sesuai dengan iradah Tuhan itu disebut qadar. Muhammad Abdul Karim Syahristani mengatakan bahwa semua nasib manusia telah ditetapkan tuhan sejak azali dan tertulis di Lauh Mahfuz (catatan tentang ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT). Semua itu akan terwujud sesuai dengan ketentuan yang telah ada, tanpa ada perubahan atau pergantian sedikit pun.

Sementara al-Ghazali mengatakan tidaklah akan terjadi pada alam nyata dan alam gaib, sedikit atau banyak, kecil atau besar, baik atau jelek, manfaat atau mudharat, iman atau kufur, pandai atau bodoh, beruntung atau rugi, bertambah atau berkurang, taat atau maksiat, kecuali dengan qada dan qadar Allah SWT. Hal tersebut karena hidup dan kehidupan manusia itu telah ditentukan Tuhan sejak azali dan ia hanya tinggal menjalaninya saja. Dalam hal ini al-Asy'ari mengutip sebiah hadist di dalam kitabnya, al-Ibanah, yang artinya "sesungguhnya seorang kamu telah dikumpulkan kejadiannya di dalam perut ibumu 40 hari.

Kemudian, masih berada di sana dalam bentuk segumpal daging. Setelah itu, Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk menulis empat kalimat, yaitu tentang ajalnya, rezekinya, pekerjaannya dan kesenangan atau kebahagiaannya. Kemudian ditiupkan kepadanya roh." (HR Bukhari Muslim, Abu Dawud, at-Tarmizi dan Ibnu Majah). Walaupun ajaran tentang takdir (qada dan qadar) ini tidak dikemukakan secara tegas dalam Alquran, tetapi dalam hadis banyak dijelaskan.

Menurut sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Umar bin Khattab, pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW yang kemudian ternyata orang itu adalah Malaikat Jibril. Ia menanyakan arti iman, Islam, dan ihsan. Di dalam dialog antara Rasulullah dan Malaikat Jibril itu, Rasul memberikan pengertian tentang iman yang artinya, "Iman ialah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir serta engkau beriman kepada qadar (ketentuan Tuhan) baik dan buruk."

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2G1OkZN
April 05, 2019 at 07:54PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2G1OkZN
via IFTTT
Share:

Wednesday, April 3, 2019

Upaya Adu Domba Demi Himpunan Suara

Mengadu domba antara masyarakat dan ormas demi meraih suara

Menjelang pesta demokrasi berbagai cara dilakukan untuk memperbanyak dukungan. Membuat kaos bertuliskan nama dan foto petahana, memasang spanduk dan baliho di pinggir jalan sampai pusat kota, menggelar konser, dan tak lupa membagikan sumbangan dan sembako yang dianggap ampuh untuk menarik suara.

Tidak hanya itu, karena suara rakyat sangat menentukan kemenangan, bahkan ada yang membuat fitnah untuk menjatuhkan rivalnya. Maka mengadu domba antara masyarakat dan ormas tersebut menjadi senjata untuk menghabisi lawan.

Dalam Islam meraih dukungan tak perlu menjatuhkan lawan dengan cara tak elegan. Tapi dengan menyodorkan solusi atas gunungan masalah yang menimpa rakyat. Ketika ekonomi Indonesia meroket ke bawah, tawarkan solusi ekonomi Islam yang rapi dalam membagi, mengatur, dan mengelola tiap kepemilikan (Individu, umum, negara) sehingga barang yang dibutuhkan bisa terdistribusi secara merata dengan harga yang relatif murah.

Ketika output pendidikan Indonesia jauh dari kata intelek dan bermoral, tawarkan Sistem Pendidikan Islam yang menjadikan aqidah Islam sebagai dasar pendidikan. Dimana puncaknya ilmu adalah iman, yang ketika mempelajari alam, geografi, fisika nantinya akan dikaitkan dengan aqidah islam, sehingga bertambah Iman pelajar. Ketika iman bertambah , tentu terbentuknya akhlak yang ahsan akan beriringan.

Yang pada intinya tak perlu masing-masing petaha melemparkan tuduhan untuk menjatuhkan lawan. Karena bukankah kekuasaan ini merupakan beban besar yang akan dimintai pertanggungjawaban?

Lantas untuk apa diperebutkan jika ujungnya kesengsaraan rakyat batal terangkat?

Pengirim: Safitri Fathin Rahayu, Mengajar di Ponpes Al mabda' Al islamiy, Semarang

Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2K1u5PX
April 03, 2019 at 07:54PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2K1u5PX
via IFTTT
Share:

Sunday, January 27, 2019

Amnesty International Ungkap Dugaan Penyiksaan Aktivis Saudi

Penahanan aktivis HAM ini terjadi pada Mei 2018 tanpa alasan yang kuat.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH— Kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) Amnesty International mengungkapkan kesaksian baru tentang penyiksaan yang dialami para aktivis HAM di Arab Saudi. 

Dilansir dari Middle East Monitor Ahad, (27/1) para aktivis juga mendapatkan perlakukan yang sangat buruk saat diinterogasi.  

Dalam pernyataan mereka, Amnesty International mengatakan kesaksian baru ini sama dengan kesaksian yang mereka dapatkan pada November 2018 lalu. 

Dengan adanya kesaksian ini, Amnesty International meminta Kerajaan Arab Saudi memberikan akses kepada kelompok independen untuk mengunjungi dan memeriksa tempat di mana para aktivis ditahan. 

Menurut kesaksian baru ini ada sepuluh aktivis yang menjadi korban pelecehan seksual. Selain itu kesaksian ini juga menunjukan betapa buruknya perlakukan yang dialami para aktivis dalam tiga bulan pertama penahanan mereka. 

"Salah satu petugas interogasi mengatakan kepada salah satu aktivis perempuan bahwa keluarganya meninggal dunia dan membuatnya percaya selama satu bulan," kata salah satu kesaksian tersebut.  

Kesaksian lainnya mengatakan petugas interogasi memaksa aktivis laki-laki dan perempuan untuk berciuman di depannya. 

Salah satu aktivis perempuan mengatakan petugas interogasi menuangkan air kedalam mulutnya saat ia berteriak menahan sakit karena disiksa. 

Aktivis laki-laki dan perempuan lainnya mengatakan mereka disiksa menggunakan alat kejut. 

"Kami sangat mengkhawatirkan keselamatan aktivis yang ditahan secara sewenang-wenang selama hampir sembilan bulan hanya karena mereka membela hak asasi manusia," kata Direktur Peneliti Timur Tengah Amnesty International, Lynn Maalouf. 

Maalouf mengatakan pihak berwenang Arab Saudi berulang kali menunjukan mereka tidak berniat melindungi para aktivis yang ditahan dari siksaan petugas interogasi. 

Maalouf menambahkan Arab Saudi juga tidak berkenan melakukan penyelidikan atas tuduhan penyiksaan ini. 

"Atas alasan ini kami meminta pihak berwenang Arab Saudi mengizinkan kelompok independen mendapatkan akses ke tempat penahanan para aktivisi secepatanya dan tanpa halangan apa pun," kata Maalouf. 

Pada November 2018 Amnesty merilis dokumen yang menggambarkan bagaimana para aktivis HAM ditahan secara sewenang-wenang. Tidak hanya laki-laki pihak berwenang Arab Saudi juga menahan banyak aktivis perempuan. 

Mereka disiksa menggunakan alat kejut dan dicambuk terus-menerus. Sehinga membuat mereka tidak dapat berdiri dan berjalan dengan baik. Dalam kesaksian baru ini menunjukan semakin banyak aktivis yang disiksa dengan cara yang sama. 

Kelompok advokasi HAM lainnya Human Rights Watch (HRW) juga meminta akses ke pusat penahanan para aktivis. HRW mengatakan Komisi Perlindungan HAM Arab Saudi dan Jaksa Agung Arab Saudi tidak cukup independen dan transparan untuk melakukan penyelidikan atas tuduhan penyiksaan ini. 

"Penyidik internal Arab Saudi memiliki peluang yang kecil untuk mengetahui kebenaran tentang perlakuan terhadap para tahanan, termasuk tokoh-tokoh terkemuka atau menahan orang yang bertanggung jawab atas kejahatan ini," Deputi Direktur HRW Timur Tengah, Michael Page.   

Page mengatakan jika Arab Saudi benar-benar ingin mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya dan menangkap pelaku yang bertanggung jawab mereka harus mengizinkan kelompok independen mengunjungi tahanan. Pada Desember lalu Amnesty Internasional sudah mengirimkan surat ke Kerajaan Arab Saudi meminta akses ke para aktivis. 

Namun kelompok pembela HAM itu belum mendapatkan tanggapan sampai saat ini. Kementerian Media Arab Saudi membantah tuduhan penyiksaan ini dan mengatakan tuduhan tersebut 'tidak mendasar'.    

Penahanan aktivis HAM ini terjadi pada Mei 2018. Mereka ditahan tanpa tuduhan dan tidak diizinkan memiliki pengacara. Penyiksaan para aktivis ini menyebar menyusul kemarahan masyarakat internasional atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di Istanbul, Turki. 

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2RPJIxw
January 27, 2019 at 07:54PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2RPJIxw
via IFTTT
Share:

Monday, January 21, 2019

Mobil Pedesaan Diproduksi Massal Tahun Ini

Pemerintah siap memproduksi sebanyak 3.000 unit mobil pedesaan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa mobil pedesaan atau disebut Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (Ammdes) mulai diproduksi secara massal pada 2019. Menperin mengungkapkan serangkaian uji coba telah dilakukan dalam upaya pengembangan produksi Ammdes.

"Saat ini, Ammdes siap diproduksi sebanyak 3.000 unit, dan kami akan tingkatkan menjadi 9.000-15.000 unit per tahun. Produksi secara massal akan dimulai pada 2019," kata Menperin lewat keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (21/1).

Menurut Airlangga, ketersediaan suku cadang mobil pedesaan ini cukup banyak di pasaran. Di samping itu, distributornya juga telah tersedia. Terkait harga, Airlangga memproyeksi Ammdes akan dibanderol sekitar Rp 65 juta-Rp 70 juta di luar aksesorisnya.

"Jadi, aksesorisnya tergantung kebutuhan mereka. Misalnya, mau pakai pompa, berarti tambah Rp 3 juta atau menggunakan rice milling tambah Rp 7 juta," tuturnya.

Mobil pedesaan multiguna ini akan didorong menggunakan bahan bakar jenis euro2 atau Biodiesel 20. Menperin menambahkan PT Kiat Mahesa Wintor Indonesia (PT KMWI) selaku produsen Ammdes, telah membangun komitmen kerja sama dengan lebih dari 70 industri komponen dalam negeri untuk menjadi pemasok komponen mobil ¿Pak Tani¿ tersebut.

"Para pemasok komponen itu sebagian besar adalah industri kecil dan menengah (IKM). Saat ini, IKM yang terlibat telah mampu memproduksi 184 jenis komponen atau setara 70 persen dari nilai harga Ammdes," terangnya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2FLcqIJ
January 21, 2019 at 07:54PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2FLcqIJ
via IFTTT
Share:

Monday, January 14, 2019

Wapres JK Imbau Masyarakat Kurangi Sampah Botol Plastik

Sampah plastik saat ini tengah menjadi masalah di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengimbau masyarakat agar ikut berpartisipasi dalam mengurangi sampah plastik. Salah satu caranya yakni mengurangi sampah botol plastik. "Jadi kalau minum ya lebih baik bawa sendiri botol plastik yang tebal, sehingga dapat dipakai berkali-kali botol itu. Maka akan mengurangi efek daripada lingkungan di sekitar yang kena plastik," ujar Jusuf Kalla ketika memberikan sambutan dalam acara Penganugerahan Adipura, Senin (14/1).

Jusuf Kalla mengatakan, sampah plastik saat ini tengah menjadi masalah di dunia. Bahkan, Indonesia merupakan negara kedua penghasil sampah plastik setelah Cina. Oleh karena itu, Jusuf Kalla mendorong supaya ada inovasi penggunaan wadah plastik yang bisa didaur ulang dan ramah lingkungan.

"Jadi kita harus merencanakannya, karena pasti akan menjadi tren dunia, di dunia nanti akan digelar konferensi Indonesia nomor dua tidak bisa memperhatikan plastik, wah malu juga kita," kata Jusuf Kalla.

Di sisi lain, Jusuf Kalla mengimbau kepada daerah yang meraih penghargaan Adipura agar tidak cepat berpuas diri. Sebab, isu lingkungan hidup akan terus menjadi sorotan. Apalagi, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah penduduk yang besar.

Oleh karena itu, pemerintah daerah dan DPRD diharapkan dapat mengajak dan memberikan contoh yang baik kepada rakyatnya dalam menjaga lingkungan. Diharapkan nantinya ada penegakan hukum bagi masyarakat yang tidak menjaga lingkungan.

"Itu juga hal-hal yang menjadi bagian bahwa partisipasi masyarakat harus diiikuti dengan penengakan hukum, tidak bisa berdiri sendiri," ujar Jusuf Kalla. 

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2RL67v3
January 14, 2019 at 07:54PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2RL67v3
via IFTTT
Share: