Showing posts with label 2019 at 09:31PM. Show all posts
Showing posts with label 2019 at 09:31PM. Show all posts

Saturday, May 25, 2019

11 Tersangka dan Perannya pada Rusuh Aksi Massa 22 Mei

Polri menuding rusuh pada aksi 22 Mei didalangi pihak tertentu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Polri menetapkan 11 tersangka terkait insiden kerusuhan yang terjadi pada 22 dan 23 Mei di kawasan Sarinah, dan Bawaslu, Jakarta Pusat (Jakpus). Para tersangka tersebut, kepolisian anggap sebagai orang yang terlibat, dan prakarsa kerusuhan. Polri menuding aksi 22 sampai 23 Mei tersebut, sengaja didalangi oleh pihak-pihak tertentu yang menghendaki kondisi rusuh di Ibu Kota Jakarta.

Juru Bicara Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo saat konfrensi pers di Kemenko Polhukam, Sabtu (25/5) mengatakan, dari 11 tersangka itu salah satunya yaitu Andri. Atau yang dikenal dengan Andri Bibir. Menurut Dedi, Andri adalah pelaku kerusuhan yang ditangkap Brimob Nusantara yang videonya tersebar ke khalayak.

Video penangkapan Andri, menjadi persoalan karena aksi Brimob Nusantara yang melakukan penangkapan dengan cara brutal. Dedi mengakui, penangkapan Andre tersebut terjadi kesalahan prosedur yang dilakukan oleh kepolisian.

Berikut daftar nama 11 tersangka, beserta perannya pada saat kerusuhan terjadi pada 22, 23 Mei.

  1. Andri Bibir berperan mengumpulkan batu menggunakan tas ransel dan membawa air dengan jeriken
  2. Mulyadi, pelaku dan pelempar batu
  3. Arya, pelaku dan pelempar batu
  4. Asep, pelaku dan pelempar batu
  5. Marzuki, pelaku dan pelempar batu
  6. Radiansyah, pelaku dan pelempar batu
  7. Yusuf, pelaku dan pelempar batu, botol kaca dan bambu
  8. Julianto, pelaku dan pelempar batu, botol kaca, molotov dan bambu
  9. Andi , terlibat yang memberikan air minum kepada pelaku kerusuhan
  10. Saifudin, pelaku pelempar batu, botol kaca dan bambu
  11. Markus pelaku pelempar batu, botol kaca dan bambu

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/30IxveG
May 25, 2019 at 09:31PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/30IxveG
via IFTTT
Share:

Saturday, May 18, 2019

2.500 Anggota Muhammadiyah Jawa Timur Hadiri Kajian Ramadhan

Kajian Ramadhan Muhammadiyah bertema "Khaira Ummah"

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG – Sebanyak 2.500 anggota Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur (Jatim) berkumpul di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (18/5). Mereka mengadakan Kajian Ramadhan yang kali ini bertemakan Khaira Ummah

"Mewujudkan umat terbaik bangsa, unggulan," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir di Hall Dome UMM, Sabtu (18/5). 

Menurut Haedar, tema sengaja diangkat di tengah dinamika kehidupan kebangsaan 73 tahun setelah Indonesia merdeka. Kehidupan Indonesia saat ini tentu memerlukan sebuah kemajuan dibandingkan sebelumnya. 

Di sisi lain, dia juga mengingatkan, Indonesia sudah sedari lama mengadakan pemilu setiap lima tahun sekali. Kegiatan ini telah berulang kali dilaksanakan di Indonesia.  "Itu berulang tetap, tetapi membangun bangsa dan negara tidak boleh berhenti. Itulah spirit Muhammadiyah," jelas Haedar. 

Berdasarkan kondisi demikian, Haedar mengatakan, pimpinan Muhammadiyah Jatim ternyata berhasil menangkap hal penting. Dalam hal ini terkait berusaha mencari bagaimana mewujudkan bangsa Indonesia yang unggul. Hal ini terutama pada umat Islam yang menjadi kalangan mayoritas di Indonesia.   

Untuk bisa menjadi umat terbaik, Haedar berpendapat, Muhammadiyah pada dasarnya sudah berada dalam target tersebut. Namun Muhammadiyah merasa masih belum sempurna sehingga sejumlah upaya terus dilakukan sampai sekarang.

"Ada sekolah, rumah sakit, dakwah dan komunitas. Juga penyadaran politik, nilai itu semua tidak berkesudahan meski tantangannya juga banyak," jelas Haedar.  

Di kesempatan serupa, Rektor UMM, Fauzan mengajak anggota Muhammadiyah untuk meningkatkan rasa syukur. Menjadikan rasa itu sebagai semangat untuk meningkatkan kualitas Muhammadiyah di masa depan.

Selain itu, dia juga berharap, anggota Muhammadiyah yang hadir tidak sekadar menganggap kegiatan saat ini sebagai pengajian Ramadhan. Jika hanya menganggap sebagai rutinitas, dia yakin peserta yang hadir tak akan memperoleh apapun.

Padahal kegiatan tersebut sekaligus upaya konsolidasi menguatkan Muhammadiyah. "Kita ingin bawa Muhammadiyah lebih mencerahkan di masing-masing daerah. Kita ingin pertegas Muhammadiyah yang mencerahkan," tambah dia.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2YCx5EK
May 18, 2019 at 09:31PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2YCx5EK
via IFTTT
Share:

Pemudik, Hati-Hati Lewat Jalan Inspeksi Kalimalang Cikarang

Pemudik harus berhati-hati melewati Inspeksi Kalimalang Cikarang karena jalan rusak

Bagi pengendara yang melintas di Jalan Raya Inspeksi Kalimalang, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi diharapkan agar berhati-hati. Alasannya karena di jalan tersebut banyak ditemukan jalan rusak dan berlubang. 

Jalan rusak dan berlubang tersebut dapat membahayakan para pengendara yang melintas. Selain itu, kondisi ini juga dapat merusak ban kendaraan apabila lama kelamaan terus terpapar jalan rusak. 

Jalan tersebut juga merupakan salah satu jalan yang digunakan untuk pelaksanaan arus mudik lebaran setiap tahunnya. Karena jalan tersebut menghubungkan pengendara dari Kota Bekasi atau Jakarta menuju daerah Cikarang,  Karawang dan sekitarnya.

Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2HpEQsc
May 18, 2019 at 09:31PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2HpEQsc
via IFTTT
Share:

Sunday, April 7, 2019

Ini Hinaan Costa ke Wasit di Laga Barcelona Vs Atletico

Diego Costa mendapat kartu merah karena melontarkan kata-kata hinaan ke wasit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyerang Atletico Madrid, Diego Costa dikeluarkan dari lapangan saat timnya dikalahkan Barcelona pada Ahad (7/4) dini hari WIB. Costa dalam laga itu mendapatkan kartu merah langsung karena menghina ibu sang wasit.

Costa mendapatkan kartu merah oleh wasit Gil Manzano setelah setelah sang penyerang memprotes keputusannya saat melanggar gelandang Barcelona, Arthur. Sejumlah laporan di media Spanyol mengklaim bahwa Diego Costa menyebut Manzano sebagai "anak seorang pelacur" saat keduanya saling berargumen. Manzano sendiri telah mengonfirmasi perkataan tersebut dalam sebuah laporan resmi pertandingan.

"Pada menit ke-28, pemain Diego Costa diusir lapangan karena ia dengan lantang mengatakan saya anak seorang pelacur", menurut pernyataan dari laporan tersebut.

Costa harus ditahan oleh rekan-rekan setimnya setelah mendapatkan kartu merah tersebut dengan mantan rekan setimnya di timnas Spanyol Gerard Pique juga berusaha menenangkan dan mengantarnya keluar lapangan. Berbicara tentang insiden usai pertandingan tersebut, pelatih Atletico Diego Simeone mengatakan bahwa Costa layak mendapatkan kartu merah bila itu memang yang dikatakannya.

"Bila Costa mengatakan itu, maka wasit sudah tepat untuk mengusirnya," kata pelatih asal Argentina tersebut kepada wartawan yang dikutip Daily Mail.

"Bila ia mengatakan sesuatu yang sangat buruk dalam pertandingan yang begitu penting, maka keputusan wasit sudah benar," tambahnya.

Atletico tampil baik meski bermain dengan 10 orang dan tampak akan meninggalkan Camp Nou dengan satu poin sebelum Luis Suarez mencetak gol di menit ke-85. Lionel Messi kemudian memastikan Barcelona menang melalui gol solo brilian satu menit kemudian. Skuat asuhan Ernesto Valverde tersebut kini unggul 11 poin di puncak La Liga dengan hanya tujuh pertandingan tersisa.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2I3NWMI
April 07, 2019 at 09:31PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2I3NWMI
via IFTTT
Share:

Tuesday, February 12, 2019

Pancasila Sudah Islami Jadi Perekat Bangsa

Pemerintah perlu menggandeng NU dan Muhammadiyah.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Erik Purnama Putra*

Ideologi Pancasila yang dianut bangsa Indonesia sejak merdeka pada 17 Agustus 1945, tidak tergoyahkan hingga kini. Ujian demi ujian dari sekelompok orang yang ingin mengganti ideologi dasar negara ini, dapat dengan mudah dipatahkan oleh kekuatan elemen masyarakat itu sendiri.

Kalau pada awal kemerdekaan hingga masa Orde Lama, ancaman paling nyata terhadap Pancasila datang karena adanya gerakan radikal kanan (raka) dan radikal kiri (raki). Hal itu ditandai munculnya gerakan DI/TII pemberontakan PKI, namun gerakan yang berusaha mengubah Pancasila dengan mendirikan negara Islam dan menyebarkan paham komunis itu pun lenyap dengan sendirinya. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Pancasila pun tetap tegak berdiri.

Saat Orde Baru (1966-1998) berkuasa, berbagai kekuatan dan suara minor terhadap pemerintah dibungkam. Pancasila dijadikan alat kekuasaan untuk memukul kelompok masyarakat yang kritis terhadap pemerintah. Pada masa itu, ada pula gangguan dari kelompok atau kekuatan tertentu yang mencoba merongrong Pancasila. Memasuki Orde Reformasi (1998-kini), masyarakat yang sebelumnya terbelenggu seolah bisa menikmati kebebasan. Mereka bebas bersuara dan berorganisasi tanpa perlu lagi waswas gerakannya dipantau oleh pemerintah.

Kebebasan yang benar-benar dinikmati hingga di satu sisi ternyata menyimpan bara api yang sewaktu-waktu bisa meledak dan muncul ke permukaan. Mengapa kondisi itu bisa terjadi? Ini tidak lain tidak bukan, lantaran arus Reformasi yang menumbangkan Presiden Soeharto juga diikuti berkembang biaknya gerakan yang ingin menggoyang Pancasila.

Hal itu ditandai dengan menurunnya rasa nasionalisme dan mulai merebaknya paham yang menganggap ideologi Pancasila tidak relevan lagi, karena sebaiknya diganti dengan khilafah maupun NKRI bersyariah.

Hal itu tidak lain, lantaran muncul arus baru di masyarakat yang jumlahnya semakin bertambah untuk mengganti Pancasila. Memang sekarang mereka masih minoritas, namun secara persentase meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Merujuk hasil sigi Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada 17 Juli 2018, menunjukkan publik yang pro-Pancasila menurun 10 persen dalam rentang 10 tahun. Survei dengan sampel 1.200 responden dari 34 provinsi, dan responden terpilih diwawancarai menggunakan kuesioner pada 28 Juni-5 Juli 2018.

Hasilnya mengejutkan! Karena pada 2005, masyarakat yang pro-Pancasila masih di angka 85,2 persen, lima tahun kemudian (2010) angkanya menjadi 81,7 persen. Pada 2015 angkanya turun lagi menjadi 79,4 persen, dan pada 2018 mencapai 75,3 persen.

Adapun masyarakat yang pro-NKRI bersyariah mengalami kenaikan sembilan persen selama 13 tahun. Pada 2005, angkanya hanya sebesar 4,6 persen, lima tahun berselang menjadi 7,3 persen, dan pada 2015 menjadi 9,8 persen. Pada 2018, angkanya mencapai double digit, yaitu 13,2 persen.

Di sinilah pentingnya intervensi pemerintah dalam mengedukasi rakyatnya agar bisa semakin mencintai Pancasila, sebagai ideologi bangsa yang tak dapat diganggu gugat. Dengan kekuasaan dan alat yang dimiliki, pemerintah wajib mengajarkan tentang Pancasila, terutama kepada siswa dan pegawai negeri sipil (PNS), untuk tidak lagi punya pikiran ingin mengganti ideologi negara.

Karena tanpa adanya edukasi, khususnya kepada generasi milenial maka dalam waktu beberapa tahun ke depan, sangat mungkin masyarakat yang cinta Pancasila jumlahnya terus menurun. Coba saja bayangkan, kalau Pancasila diganti ideologi tertentu, pasti ada daerah yang tidak puas dan muncul gerakan memerdekakan diri dari Indonesia. Kita tentu tidak ingin hal itu terjadi.

Merujuk tulisan Denny JA tentang 'NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi', kalau dipikir-pikir, ide itu sebenarnya sudah terwadahi, khususnya dalam sila pertama Pancasila. Karena dalam Pancasila itu sendiri, sudah memberi ruang dan mengakomodasi aspirasi umat Islam. Pancasila pula sudah terbukti sebagai perekat anak bangsa yang tumbuh dari suku, agama, ras, antargolongan (SARA) yang berbeda-beda.

Dari Sabang sampai Merauke, masyarakat dengan beragam latar belakang bisa menerima Pancasila sebagai pemersatu Indonesia. Mereka bisa hidup bahagia di tengah keragaman budaya.

Untuk itu, tidak ada salahnya lagi, mulai tingkat sekolah dasar (SD), siswa digalakkan lagi pendidikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Di kampus juga pendidikan tentang Pancasila tak boleh diabaikan. Karena generasi milineal akan menjadi generasi pemimpin pada masa akan datang. Pun program pendidikan dan latihan (diklat) bagi PNS juga digencarkan materi pengamalan Pancasila selama menjadi abdi negara.

Dengan cara itu, pemerintah tidak lagi memberi kesempatan dan ruang bagi mereka yang ingin menyebarkan pemahaman keliru, yang mencoba mengoyak ideologi bangsa ini. Karena sudah terbukti, tegaknya NKRI tidak lepas dari Pancasila yang mengandung ajaran islami, yaitu mayoritas umat Muslim merangkul dan melindungi minoritas.

Pemerintah wajib menggandeng dua ormas besar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang sama-sama tidak diragukan lagi kecintaannya terhadap negeri ini. Kalau NU siap selalu di garda terdepan dalam menghadapi gerakan transnasional yang mempersoalkan Pancasila, Muhammadiyah juga menegaskan Indonesia dengan Pancasila sebagai darul ahdi wa syahadah yang merupakan hasil konsensus nasional yang tak bisa diganti.

Berkat kerelaan hati beberapa tokoh bangsa, terutama Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimedjo (Muhammadiyah), serta Wahid Hasyim (NU), umat Islam saat itu bisa lapang dada menerima ideologi negara. Mengacu hal itu, sudah jelas Pancasila dan NKRI sudah disepakati tokoh-tokoh Islam yang terlibat dalam kemerdekaan.

Karena bagaimana pun, ketika lima sila yang terkandung dalam Pancasila disahkan, semua unsur perwakilan daerah dengan latar belakang berbeda kompak menyetujuinya. Sehingga, sudah saatnya kita menghentikan wacana tentang NKRI bersyariah maupun ide lain yang membuka perdebatan tidak produktif.

Yang diperlukan sekarang adalah impelementasi nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila agar tujuan bernegara ini dapat tercapai, yaitu keadilan, kemakmuran, dan menghormati hak asasi manusia (HAM) setiap warga negara.

Karena kekuatan utama bangsa ini masih tegak berdiri tidak bisa lepas dari terciptanya kehidupan rukun di masyarakat, dan ruang publik yang dipenuhi dengan gagasan-gagasan yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara maju dan berdaulat.

*)Penulis adalah wartawan Republika

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2UWcGci
February 12, 2019 at 09:31PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2UWcGci
via IFTTT
Share:

Saturday, February 9, 2019

Libas Fulham, MU Akhirnya Masuk Posisi Empat Besar

Pogba menyumbang dua gol untuk MU.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON --Manchester United akhirnya bisa merasakan posisi empat besar di Liga Inggris, usai melibas Fulham 3-0, di Craven Cottage, Sabtu (9/2). Paul Pogba menyumbangkan dua gol, lalu satu gol sisanya dicetak Anthony Martial.

Hasil ini membuat MU menggeser Chelsea untuk sementara waktu, yang baru akan bertandingan lawan Manchester City, Ahad (10/2). MU mengoleksi 51 poin, dari sebelumnya berjarak 11 poin pada Desember lalu. MU tak pernah menginjak posisi tersebut sejak Agustus 2018.

Jalannya pertandingan

Pertandingan langsung berjalan menarik. Tuan rumah sudah mengancam lewat serangan balik di menit pertama. Namun, Vietto yang menerima umpan dari sisi kanan tak mampu memanfaatkannya dengan baik.

Manchester United justru bisa unggul lebih dulu melalui Paul Pogba di menit ke-14. Memanfaatkan umpan dari Anthony Martial, Pogba yang lolos dari jebakan offside sontakmelakukan tendangan keras ke sudut sempit gawang Fulham. 1-0 kedudukan untuk United.

Delapan menit kemudian, MU mampu menggandakan keunggulan menjadi 2-0 di menit 23. Kali, giliran Martial yang menunjukan aksi individu luar biasanya.

Berlari dari tengah lapangan, pemain internasional Prancis tersebut mampu melewati dua bek Fulham, yang kemudian melakukan tendangan terarah untuk merobek gawang Sergio Rico.

Menit 40, Phil Jones nyaris menambahkan keunggulan untuk MU. Tapi tendangannya dari luar kotak penalti masih bisa ditepis Sergio Rico.

Fulham baru memberikan ancaman berarti untuk MU lewat Chalum Chambers di menit ke-42. Tapi tendangan kaki kirinya masih dapat diamankan De Gea. Skor 2-0 bertahan hingga jeda.

Memasuki babak kedua, MU masih mendominasi jalannya pertandingan. Bahkan Fulham benar-benar kesulitan untuk masuk ke pertahaan MU.

Iblis Merah mendapat peluang emas dari Ander Herrera di menit 62. Herrera yang menerima umpan dari sisi kiri melakukan tendangan voli. Tapi sayang tendangannya masih tepat mengarah ke kiper.

MU akhirnya dapat menambah keunggulan mereka menjadi 3-0. Pogba berhasil menambah pundi-pundi golnya lewat titik putih di menit ke-65, setelah Juan Mata dijatuhkan di kotak terlarang.

Tuan rumah tak ingin menyerah. Alexander Mitrovic melakukan sundulan di menit ke-73, namun masih bisa ditangkap oleh De Gea.

Alexis Sanchez nyaris saja menamba keunggulan Unite, jika saja Sergio Rico tak sigap menepis tendangan kaki kanannya semenit kemudian. Fulham kembali menekan lewat Ryan Babel di menit ke-76, tapi tendangannya dari hasil bola liar masih terkena tiang gawang.

Skor 3-0 bertahan hingga laga usai.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2SI5kLG
February 09, 2019 at 09:31PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2SI5kLG
via IFTTT
Share:

Tuesday, February 5, 2019

Ribuan Relawan Desa Siap Menangkan Jokowi-Ma'ruf di Jabar

Berdesa Jokowi 01 siap kawal suara di 5.312 desa di Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Sedikitnya sekitar tujuh ribu Barisan Relawan Desa Joko Widodo 01 alias Berdesa Jokowi 01 akan mengawal suara calon presiden-calon wakil presiden (capres-cawapres) nomor urut  01 di 5.312 desa yang berada di Jawa Barat. Menurut Koordinator Berdesa Jokowi 01Jawa Barat Indra Sudrajat, pedesaan memiliki tantangan tinggi, mengingat tak semua masyarakatnya mampu mudah mengakses informasi.

"Persoalan di pedesaan juga sangat berat. Karena banyak masyarakat di desa yang tidak menggunakan media sosial," ujar Indra di sela kegiatan deklarasi Berdesa Jokowi 01 Jabar, di Kota Bandung, Selasa (5/2).

Indra menilai, harus ada relawan yang turun langsung ke bawah untuk menetralisir isu hoaks atau fitnah yang dialamatkan kepada pasangan calon Jokowi-Maruf Amin. Relawan yang tergabung di Berdesa Jokowi 01 ini adalah para pegiat desa memang yang selama ini beraktivitas di desa-desa dengan berbagai macam profesi di desanya.

"Memang tantangannya berat," kata Indra

Menurut Indra, pihaknya telah menempatkan para relawan di setiap desa di Jabar untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada lingkungan masyarakat. Misalnya saja, gotong royong, siskamling dan kegiatan keagamaan.

Sebab, kata Indra, dewasa ini di tempat interaksi masyarakat tersebut biasanya sudah membicarakan yang sifatnya politik dan membicarakan pilpres.  "Yang muncul biasanya soal soal fitnah, berita bohong. Tentunya harus dinetralisir," kata Indra seraya mengatakan yang dinetralisir adalah membicarakan prestasi prestasi yang sudah dilakukan oleh Jokowi.

Idealnya, kata dia, pada pertarungan politik ini lebih diisi oleh perang gagasan, ide maupun program di antara kedua belah paslon. Karena itu, pihaknya merasa perlu menangkal setiap isu dan berita hoaks dengan membicarakan kemajuan Indonesia selama kepemimpinan Jokowi. Tak terkecuali untuk setiap desa di kawasan Priangan Timur yang notabene basis kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Ini serangan darat, serangan udara kami akan lakukan tetap ada tim siber, tapi fokus kami di serangan darat," katanya.

Selanjunya, kata Indra, pihaknya akan melihat perkembangan hasil survei untuk beberapa desa rasa kota. Misalnya saja di Kabupaten Bekasi yang memang kultur masyarakatnya bak diperkotaan. "Mungkin treatmentnya berbeda. Kalaupun ini harus dialihkan ke (Jabar) Selatan yang lebih desa targetnya diperbanyak di sana, bisa jadi seperti itu," katanya.

Indra optimistis, bisa menyumbang dua juta suara untuk paslon nomor urut 01. Setiap desa, akan dikerahkan 377 relawan dari penggiat desa.

Sementara menurut Pembina Berdesa Jokowi 01 Jawa Barat Abby Yuhana, pihaknya  berpendapat bahwa agenda Pemilu 2019 harus  berjalan dengan damai tanpa tanpa saling mencelakakan antar kandidat.

"Kami percaya semua ekspresi semata-mata demi kemajuan bangsa, semata-mata demi terselenggaranya kebaikan bangsa, untuk demi masa depan yang menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju," katanya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2Gpf9HY
February 05, 2019 at 09:31PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2Gpf9HY
via IFTTT
Share:

Thursday, January 31, 2019

Temui Jokowi, Pelaku Marketplace Minta PPN Dihapuskan

Perlu insentif bagi marketplace yang juga menampung barang dari pelaku UKM

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pendiri marketplace khusus busana Muslim HijUp, Diajeng Lestari, menemui Presiden Jokowi di Istana Merdeka pada Kamis (31/1) sore ini. Bersama sejumlah perancang busana Muslim kenamaan, Diajeng secara khusus menyampaikan tantangan-tantangan yang ia hadapi dalam berkiprah di industri busana Muslim kepada Presiden Jokowi. Salah satu poin yang disuarakan adalah insentif bagi marketplace atau platform jual beli daring yang juga menampung barang dagangan dari para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM).

Diajeng menyebutkan, UKM busana Muslim perlu didorong karena mereka menyumbang porsi hingga 98 persen dari keseluruhan penjual yang memanfaatkan platform daring HijUp untuk menawarkan produknya. Diajeng mengakui insentif perpajakan seperti revisi Pajak Penghasilan (PPh) final dari 1 persen menjadi 0,5 persen memang dianggap memudahkan pelaku UMKM.

Namun ia beranggapan masih ada ganjalan bagi pelaku UMKM, khususnya yang bergerak di bidang busana Muslim, yakni besaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen yang dikenakan kepada pembeli dan dipungut oleh penyedia marketplace.

"Pembebasan untuk pajak pertambahan nilai (PPN) karena kita melihat bahwa subsidi pajak itu penting sekali dengan adanya persaingan global seperti saat ini pemain-pemain UKM ini perlu dibesarkan," jelas Diajeng usai menemui Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Kamis (31/1).

Penjelasan Diajeng bukan tanpa alasan. Januari ini, pemerintah melalui Kementerian Keuangan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 210 Tahun 2019 yang berisi pengenaan pajak terhadap pedagang dan e-commerce yang menjual barang. Dalam beleid tersebut, penyedia marketplace diminta memungut, menyetor, dan melaporkan PPN dan PPh terkait penyediaan layanan platform marketplace kepada pedagang dan penyedia jasa.

"Karena saat ini kita bersaing bukan hanya dari level UKM ya, tapi kita harus bersaing menjadi pemain global juga, karena kita lihat banyak dari brand internasional juga menyasar market populasi Muslim Indonesia," jelas Diajeng.

HijUp, ujar Diajeng, saat ini mewadahi lebih dari 300 desainer busana Muslim Indonesia dan satu tahun ke belakang berhasil mencatatkan visitor (pengunjung) sekitar 7 juta dari seluruh dunia. HijUp juga telah mengirim produk yang dijual ke 52 negara.

Istri pendiri Bukalapak.com, Ahmad Zaky ini mengungkapkan kepada Jokowi bahwa HijUp.com sejak 10 tahun lalu sudah mencanangkan Indonesia untuk menjadi pusat busana Muslim dunia.

"Golnya adalah tahun 2020 pak yang mana dalam 48 minggu lagi, kita ingin Indonesia jadi pusat busana Muslim. Tentunya ini merupakan visi besar bersama," katanya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2Tp6SYi
January 31, 2019 at 09:31PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2Tp6SYi
via IFTTT
Share:

Thursday, January 24, 2019

Arab Saudi Berhasil Buat Negara Barat Lupakan Khashoggi

Arab Saudi mulai berbisnis kembali dengan negara-negara Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, DAVOS -- Di ajang World Economic Forum di Swiss, kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi sama sekali tidak memengaruhi Arab Saudi. Tidak ada sisa-sisa kemarahan masyarakat internasional atas pembunuhan Khashoggi di kantor konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Pada Kamis (24/1), kantor berita Reuters melaporkan Kerajaan Arab Saudi mengirimkan delegasi terkuatnya ke pegunungan Swiss, bertemu dengan pejabat-pejabat tinggi negara lain atau melakukan rapat dengan pemimpin-pemimpin bisnis di seluruh dunia.

Pemimpin bisnis Barat duduk bersebelahan dengan pejabat-pejabat Arab Saudi di panel debat yang bertajuk 'Langkah Selanjutnya di Arab Saudi'. CEO perusahaan minyak dari Prancis Total, Patrick Pouyanne dan CEO perusahaan investasi Margon Stanley James Gorman duduk di sebelah menteri keuangan dan perdagangan Arab Saudi. 

Ajakan Arab Saudi ke negara-negara Barat untuk melupakan kasus Jamal Khashoggi dan mulai berbisnis tampaknya berhasil. Presiden Swiss Ueli Maurer mengatakan negaranya sudah melangkah maju dari kasus Khashoggi dan ingin membangun hubungan yang kuat dengan Riyadh.

"Kami sudah lama berurusan dengan kasus Khashoggi, kami sudah sepakat untuk melanjutkan dialog keuangan dan kembali menormalisasi hubungan," kata Maurer kepada kantor berita Swiss, SDA, Kamis (24/1).

Pertemuan di Davos tersebut menjadi kesempatan Arab Saudi untuk melepaskan diri dari tekanan yang diberikan negara-negara Barat atas pembunuhan Khashoggi. Putra Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman dihujani kritikan karena ia dianggap bertanggung jawab atas pembunuhan penulis kolom the Washington Post tersebut.

Negara-negara Barat yakin Mohammed bin Salman mengetahui tim yang melakukan operasi pembunuhan tersebut. Hal itu membuat nama baik pangeran yang sempat dipuji atas reformasi pajak, pembangunan infrastruktur dan mengizinkan perempuan mengemudi itu tercemar. 

Kini di Davos, Mohammed bin Salman dapat mengembalikan nama baiknya. Padahal sebelumnya beberapa politisi Amerika Serikat meminta Riyadh menahan orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi.

Jaksa penuntut umum Arab Saudi sudah menuntut mati lima tersangka kasus itu. Kerajaan Arab Saudi ingin segera menyelesaikan krisis terburuk yang mereka alami sejak beberapa dekade terakhir.

Sempat ada keraguan status Arab Saudi di Davos. Sebelumnya investor-investor global kelas A juga sempat menjauh dari Mohammed bin Salman di konferensi bisnis Future Investment Iniative bulan Oktober lalu. Banyak pemimpin-pemimpin bisnis terutama di bidang teknologi yang menolak hadir karena kasus Khashoggi.

Dalam pertemuan G-20 di Buenos Aires, beberapa pemimpin negara juga mengabaikan Mohammed bin Salman di sesi foto bersama. Meski sesudah itu mereka melakukan pertemuan tertutup dengan pangeran tersebut.

Tapi delegasi Arab Saudi memiliki jadwal yang sangat padat di Davos. Selain itu, Menteri Ekonomi Arab Saudi Mohammad Al Tuwaijri mengatakan tidak ada investor Barat yang menolak untuk bertemu mereka.

"Sehari-hari di Arab Saudi bisnis berjalan seperti biasa. Tugas kami sebagai pemerintah adalah memastikan infrastruktur, terutama hukum berjalan stabil, perjalanan transformasi ini diharapkan menarik perhatian investor," kata Tuwaijri.

Kepada stasiun televisi CNBC, Menteri Keuangan Arab Saudi mengatakan ia menyesali apa yang terjadi dengan Khashoggi. Tapi di sisi lain ia juga meminta masyarakat internasional untuk menunggu hasil persidangan. Ia juga mengatakan fakta obligasi Arab Saudi sebesar 7,5 miliar dolar AS sangat dimintai menandakan kepercayaan investor sudah kembali pulih.   

Salah satu pejabat Arab Saudi mengatakan berdasar data yang sudah ada menunjukkan investasi asing ke Arab Saudi naik dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. World Economic Forum menunjuk dua perusahaan Arab Saudi, Aramco dan Sabic menjadi dua dari 100 mitra strategis pada 2019.

Salah satu petinggi Aramco juga mengatakan perusahaan minyak raksasa itu akan mengeluarkan mega obligasi pada tahun ini. Di masa mendatang Aramco masih berencana untuk mendaftarkan sahamnya pada 2021 yang dapat menjadi penawaran umum perdana (IPO) terbesar di dunia.

Salah satu panel kebebasan pres di Davos membicarakan kasus Khashoggi. Tapi tidak ada satu pun delegasi Arab Saudi yang menghadiri panel tersebut.

Kritikus Vladimir Putin, Bill Browder yang berhasi mendorong AS memberlakukan sanksi terhadap Rusia atas pembunuhan seorang pengacara HAM menanggapi kasus Khashoggi. Browder yakin Arab Saudi dapat dikenakan sanksi yang dikenal Magnistky Act.

"Sampai akhirnya Mohammed bin Salman bertanggung jawab atas kejahatan yang diperbuatnya, tidak bisa melakukan bisnis seperti biasa dengan Arab Saudi," kata Browder.

Sepertinya tinggal Turki yang masih bergelut dengan kasus Khashoggi. Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan kini saatnya melakukan investigasi internasional atas kasus pembunuhan Khasoggi.

Di stasiun televisi A Haber, Cavusoglu mengatakan hal itu akan dibahas dengan Pelapor Khusus PBB bidang Ekstrayuridis Agnes Callamard yang akan datang ke Turki pada pekan depan. Sebelumnya Kantor berita Turki, Anadolu Agency melaporkan Cavusoglu mengatakan negaranya sedang mempersiapkan penyelidikan internasional atas kasus Khashoggi.

Di sebuah pertemuan pemuda-pemudi di Istanbul pada Selasa (24/1) lalu Cavusoglu mengatakan dalam kasus ini Turki bertindak dengan bijak sana. Ia menambahkan Turki juga sangat paham sulitnya mendapatkan titik terang dalam kasus pembunuhan tersebut.

"Sekarang kami sedang mempersiapkan penyelidikan internasional dalam beberapa hari kedepan, kami akan melakukan langkah yang diperlukan," katanya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2T85Z6c
January 24, 2019 at 09:31PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2T85Z6c
via IFTTT
Share: