Thursday, May 30, 2019

Tradisi Masjid Habiburrahman: Iktikaf di Tenda

Di balik tenda jamaah masjid menginap di mulai sejak 10 malam terakhir ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID,  BANDUNG -- Pemandangan seperti ini hanya bisa dilihat satu tahun sekali. Tatkala bulan Ramadhan menyapa umat Muslim di seluruh dunia. Masjid Habiburrahman di Kota Bandung memiliki tradisi unik pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan. 

Ratusan tenda dome berjejer di pelataran masjid layaknya sedang berada di pegunungan. Mereka bukan ingin menikmati keindahan alam seperti para petualang. Mereka adalah para pencari malam penuh keistimewaan pada bulan Ramadhan atau Lailatul Qadar.

Di balik tenda para jamaah masjid ini menginap di mulai sejak 10 malam terakhir Ramadhan. Mereka ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah atau biasa disebut dengan istilah itikaf. Tenda yang berjejer di masjid layaknya rumah bagi mereka di samping ibadah di dalam masjid yang terletak di depan PT Dirgantara Indonesia ini.

Salah seorang jamaah, Tia Widyaningsih (30) rutin mengikuti tradisi itikaf dengan tenda di Masjid Habiburrahman. Bersama suami dan anak-anaknya, ini menjadi tahun keempat bersama keluarganya menginap selama 10 hari terakhir Ramadhan. Tia mengaku itikaf di Masjid Habiburrahman menjadi kebiasaan tiap tahunnya. Bahkan anak-anaknya yang selalu mengajak setiap Ramadhan.

"Kalau saya sama suami dari sebelum menikah dari kuliah sudah rutin. Kebiasaan ini dilanjut pas sudab menikah, sudah empat tahun ini. Jadi kayak ayo kita menyambut Lailatul Qadar," kata Tia kepada Republika di Masjid Habiburrahman, Kamis (30/5).

Ia mengaku sudah menginap sejak Sabtu (25/5). Bersama anak-anaknya tidur di tenda dan beribadah di masjid. Di sela-sela kegiatan ia membaca Alquran untuk menambah pahala sempurna yang ingin diraihnya selama Ramadhan.

Itikaf ini, kata dia, menjadi bentuk ibadahnya mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Mabit di masjid menjadi pilihannya agar ibadah itikaf yang dijalaninya bisa sempurna. Sebab terasa berbeda jika dilakukan di rumah.

"Kalau dirumah kan hanya malam datang ke masjid pagi pulang. Tapi kalau di sini sepuluh hari full di masjid kita ikut seperti sunnah nabi," ujarnya.

Selama itikaf ini, kesehariannya diisi dengan berbagai kegiatan. Seperti shalat malam, shalat sunnah, tadarus Quran, juga kajian-kajian yang diadakan panitia masjid untuk mengisi waktu. Ia merasa begitu dekat dengan Sang Pencipta dengan mengikuti itikaf ini.

Meskipun harus membawa dua anaknya yang masih berumur 5 tahun dan 3 tahun, ia mengaku tidak kerepotan. Menyiapkan makan berbuka dan sahur sendiri, hingga beristirahar di dalam tenda dirasa seperti layaknya di rumah. Ia pun ingin menanamkan sejak dini kepada anak-anaknya untuk giat beribadah meraih pahalaNya.

"Harapannya tentu kami ingin menjemput, mendapatkan Lailatul Qadar dengan sepuluh hari ini mendekatkan diri pada Allah," harapnya.

Sama halnya dengan Andika Salman (25). Pria asal Banjaran Kabupaten Bandung ini bersama kawan-kawannya ikut itikaf sejak malam pertama. Dengan tujuan yang sama, mereka juga ingin menyempurnakan ibadah puasa Ramadhan ini dengan Lailatul Qadar.

Untuk ikut beritikaf di Masjid Habiburrahmam ini, ia dan kawan-kawannya mendaftar ke panitia masjid sepekan sebelum bulan Ramadhan. Ia bersyukur bisa mendapat bagian menjadi peserta itikaf.

"Kita daftar dulu satu minggu sebelum puasa. Karena banyak sekali peminatnya, alhamdulillah bisa ikut. Semoga ibadah ini menjadi penyempuramna Ramadhan kami," kata Andika.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2W4eKPk
May 30, 2019 at 08:25PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2W4eKPk
via IFTTT
Share:

0 Comments:

Post a Comment