
REPUBLIKA.CO.ID,
Oleh: Fritz E. Simandjuntak*
Bagus Rumbogo, sahabat saya satu angkatan di FEUI 1974, menuangkan pengalaman hidupnya sejak mulai sekolah hingga menjadi eselon 1 di pemerintahan dan Direksi di BUMN PT Taspen dalam sebuah buku berjudul K 3 yaitu Kono Kene Konco. Yang kira kira berarti di sana sini kita hidup untuk berteman.
Dengan prinsip dan falsafah hidup pertemanan itulah Bagus, meskipun hanya lulus S1 dari FEUI, mampu menapak kariernya hingga eselon 1 di pemerintahan. Bagus pintar membangun hubungan baik dengan rekan kerja, atasan maupun bawahan. Kelebihan Bagus adalah selalu bicara dengan penuh humor dan tidak ingin menyakiti hati orang lain. Suasana sejuk dan ceria selalu ada ketika Bagus hadir dalam setiap pertemuan.
Menonton debat calon presiden dan calon presiden kali ini, saya lihat mencerminkan prinsip K 3 dari Bagus Rumbogo, yaitu Kono Kene Konco. Padahal kedua pasangan sebenarnya adalah lawan. Sejak awal dimulainya kampanye, serangan bertubi tubi dilontarkan oleh pihak pasangan calon no 2. Tetapi di panggung debat kegarangan itu tidak terlihat sama sekali.
Terlihat juga terlatihnya pasangan calon no 2 dalam manajemen waktu. Hampir setiap segmen selalu diberikan kesempatan oleh Prabowo kepada Sandiaga Uno untuk memberikan pendapatnya. Sampai Prabowo memberikan kesempatan Sandiaga menjawab atas kritikan tajam Jokowi soal kebijakan partai Gerindra yang tidak konsisten dalam pemberantasan korupsi. Beruntung Sandiaga sigap menjawab bahwa dia bukan lagi kader partai Gerindra.
Hal sebaliknya terjadi pada pasangan calon no 1. Sampai beberapa kesempatan debat, pendamping pasangan no 1 hanya berdiam diri, menghadap ke depan, meskipun terlihat menyimak debat yang sedang terjadi. Hanya 4 kali Ma’ruf Amin bicara selama beberapa segmen debat tersebut. Ini jelas kurang baik, mengingat publik juga ingin melihat ketrampilan dan pengetahuan Ma’ruf Amin dalam topik topik yang diajukan moderator.
Fred I. Greenstein dalam bukunya “Inventing the Job of President” yang melakukan penelitian tentang kepemimpinan beberapa Presiden di AS berkesimpulan bahwa diperlukan 6 kualitas kepemimpinan seorang Presiden yang baik, yaitu: Public Communication, Organizational Capacity, Political Skill, Policy Vision, Cognitive Style dan Emotional Intelligence. Mari kita lihat ketrampilan kedua pasangan terutama calon Presiden dengan menggunakan beberapa komponen tersebut.
Dalam hal Public Communication, kedua calon Presiden sama sama memiliki kemampuan komunikasi publik yang baik. Dalam debat semalam, Prabowo agak unggul dalam manajemen waktu bicara. Sementara Jokowi berkali-kali kehabisan waktu sampai harus diingatkan oleh moderator. Namun kedua calon Presiden mampu menjelaskan visi dan misi mereka mengenai topik hukum, HAM, terorisme dan korupsi.
Dalam hal Organizational Capacity, kedua calon Presiden juga sudah terbukti mampu mengelola organisasi besar di negara ini. Prabowo selain pengalaman di militer, juga berhasil membangun Partai Gerindra dari awal hingga menempati posisi tiga besar pada Pemilu 2014 dan menurut beberapa survei akan menjadi dua besar sesudah PDIP. Namun, Prabowo masih belum memiliki pengalaman dalam mengelola pemerintahan.
Sementara Joko Widodo sudah terbukti kemampuannya mengelola pemerintahan mulai dari tingkat Walikota, Gubernur hingga periode pertama Presiden. Banyak terobosan dan program prioritas Joko Widodo yang mendapat pujian dari masyarakat. Antara lain mewujudkan keadilan sosial melalui pembangunan infrastruktur, program kesehatan BPJS, pendidikan, satu harga BBM. Bahkan mengambil alih 51 persen saham Freeport.
Adapun komponen Political Skill kembali kita melihat bahwa baik Joko Widodo dan Prabowo memiliki ketrampilan politik yang memang layak menjadi calon Presiden RI. Kita bisa melihat bagaimana Joko Widodo menjungkirbalikan DPR yang tadinya sebagian besar berada pada oposisi, lambat laun menjadi pendukung kuat Joko Widodo saat ini.
Sementara Prabowo meskipun berkali-kali gagal dalam pencalonan dirinya baik sebagai Wakil Presiden 2009 maupun Presiden tahun 2014, posisi Partai Gerindra selalu menjadi salah satu partai yang disegani di negara ini.
Visi kebijakan atau Policy Vision kedua kandidat relatif sama yang pada intinya berpihak kepada rakyat kecil dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hanya saja Joko Widodo sudah memiliki pengalaman dalam membuat kebijakan. Meskipun tidak seluruh kebijakan selalu berpihak pada rakyat. Karena masih banyak kiritik yang dilontarkan kepada Joko Widodo mengenai beberapa kebijakan di pemerintahannya.
Namun satu hal yang dipegang Joko Widodo dari sisi Hukum adalah dia tidak pernah melakukan intervensi soal hukum. Bahkan dia mendorong siapapun melaporkan ke pihak berwenang apabila ada pelanggaran kasus hukum.
Sementara Prabowo sama sekali tidak pernah duduk di pemerintahan dan belum terlihat hasilnya. Pendapat pendapatnya baru bersifat normatif dan jargon jargon saja yang bahkan seringkali disampaikan dengan sangat keras.
Sehingga cukup aneh ketika Prabowo menyatakan bahwa Presiden adalah “Chief of Law Enforcement”. Karena, sebenarnya masalah hukum adalah wewenang dari pihak Yudikatif.
Mengenai tumpang tindih peraturan di tingkat nasional hingga daerah, kedua calon Presiden memiliki visi yang sama. Meskipun ini sebagian juga wewenang Legislatif, tetapi kedua calon sepakat diperlukan Badan Legislasi Nasional untuk meninjau ulang beberapa peraturan yang saling tumpang tindih atau bertentangan. Badan ini nantinya langsung di bawah Presiden.
Dalam hal ini kembali Joko Widodo memiliki keuntungan. Karena selama 4 tahun menjadi Presiden ribuan peraturan, termasuk peraturan daerah sudah dicabut. Dalam hal meningkatkan kemudahan berusaha Joko Widodo menyatakan telah membuat satu aplikasi online yang bisa diakses siapapun yang berminat dan hanya dalam beberapa hari dijamin ijin usaha akan keluar. Ini terlihat dari peringkat “Ease of Doing Business” Indonesia yang naik dari peringkat 120 di tahun 2014 menjadi peringkat 73 di tahun 2018.
Yang paling menarik dari debat semalam adalah segmen pertanyaan dari pihak lawan. Di sinilah diperlukan komponen Cognitive Style dari seorang calon Presiden. Beberapa kali pertanyaan menohok dilontarkan Joko Widodo, misalnya tentang jumlah kaum perempuan dalam kepengurusan Partai Gerindra yang sama sekali tidak mencerminkan visi misi Prabowo. Atau masih dicantumkan calon legisatif mantan nara pidana korupsi.
Atas pertanyaan-pertanyaan tersebut terlihat sekali ketidakkonsistenan Prabowo dalam mewujudkan visi dan misinya. Jawaban bahwa Prabowo tidak tahu ada calon legislatif mantan narapidana korupsi, padahal dia yang menandatangani pencalonan, dan kemudian mencoba meralat dengan menyatakan bahwa itu korupsi kecil kecilan. Memperlihatkan kekurangan Prabowo dalam hal-hal yang detil, tetapi sangat penting untuk citra Partai Gerindra.
Tetapi Prabowo juga pintar menanyakan posisi Presiden saat terjadinya simpang siur kebijakan mengenai impor pangan. Karena memang sempat terjadi kevakuman atas silang pendapat di antara pejabat di kabinet Joko Widodo mengenai hal ini. Namun secara elegan Joko Widodo berkelit bahwa memang dia memberikan kesempatan kepada para pembantunya untuk berbeda pendapat. Sampai satu saat dia akan mengambil keputusan akhir.
Sayangnya, Prabowo tidak terus mengejar dengan kebijakan impor gula akhir akhir ini. Padahal, kebijakan itu banyak dinilai pengamat dan pelaku pasar merugikan petani gula di Indonesia. Dan, ada dugaan kebijakan impor pangan berkaitan dengan persoalan “rente ekonomi” yang selalu dilakukan oleh pemerintah era manapun.
Bahkan Joko Widodo secara cerdik sempat mengungkapkan kasus Ratna Sarumpaet yang dibawa kubu Prabowo dalam konperensi pers, bukan melaporkannya ke polisi. Ini untuk mengingatkan bagaimana seorang Prabowo seringkali kurang menggunakan akal sehat dalam melihat kasus. Termasuk juga menyatakan luas Provinsi Jawa Tengah lebih besar dari Malaysia.
Dalam hal Emotional Intelligence terlihat sekali kompetensi Joko Widodo dibandingkan Prabowo. Bagi Greenstein sebagai penulis buku ini, komponen inilah yang paling penting dimiliki seorang Presiden. Karena ini berkaitan dengan kemampuan berinteraksi dan reaksi terhadap orang lain dalam segala masalah yang dihadapinya. Kita tahu berkali-kali Prabowo mengeluarkan pendapat yang kontroversial mengenai sebagian kelompok masyarakat seperti wartawan, Boyolali dan hingga mengusir wartawan yang ingin melakukan tanya jawab dengannya.
Bahkan saat ingin menjawab pertanyaan tajam Joko Widodo, Prabowo sempat berjoget sejenak sampai Sandiaga harus menepuk dan memijat bahunya. Mungkin berjoget salah satu metode yang disarankan pendukungnya agar Prabowo bisa lebih tenang menghadapi situasi yang bisa memancing emosinya.
Seperti diungkapkan di atas bahwa meskipun ada beberapa pernyataan atau pertanyaan yang saling menyerang, saya tetap melihat bahwa debat semalam antara K3, Kono Kene Konco. Karena sebenarnyalah keempat kandidat peserta debat pada satu saat pernah berada dalam satu kubu.
Sebenarnya kata penutup dari Joko Widodo sangat menohok dagu Prabowo. Untung kali ini Prabowo dalam keadaan tingkat emosi yang baik dan mengeluarkan kata penutup yang cukup menyejukan.
Bukankah Joko Widodo pernah didukung Prabowo dalam pemilihan Gubernur DKI? Bukankah Ma’ruf pernah satu kubu dengan Prabowo dalam memenangkan Anies Baswedan lalu. Itu sebabnya sebelum moderator menutup debat, kedua calon pasangan sudah bersalaman dan berpelukan.
Secara keseluruhan Joko Widodo unggul dalam debat pertama ini. Bukan saja karena minim melakukan kesalahan data atau informasi, tetapi juga memang sudah puluhan tahun berpengalaman dalam pemerintahan. Sehingga sangatlah tepat kalau sahabat saya menyimpulkan bahwa ini debat antara Pemimpin Berpengalaman (Experience Leader) dengan Pemimpin Bereksperimen (Experiment Leader).
*Penulis adalah Sosiolog dan tinggal di Jakarta
http://bit.ly/2AUv4uj
January 18, 2019 at 11:17PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2AUv4uj
via IFTTT
0 Comments:
Post a Comment